Iklan dari Sudut Pandang Kejujuran

Iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya kurang lebih adalah menggiring orang pada gagasan. Menurut Tilman dan Kirkpatrick, iklan merupakan komunikasi massa yang menawarkan janji kepada konsumen tentang adanya barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan, tempat memperolehnya dan kualitas barang dan jasa tersebut melalui pesan yang informatif dan persuasif. Jika demikian, iklan merupakan pesan yang disampaikan oleh komunikator tentang barang dan jasa kepada komunikan, melalui media massa dengan menyewa ruang dan waktu yang bertujuan untuk memberikan informasi, membujuk dan mempengaruhi khalayak agar bertindak sesuai dengan keinginan pengiklan. (sumber)

Dari sudut pandang konsumen, iklan menjadi suatu media penyedia informasi tentang kemampuan, harga, fungsi produk maupun atribut lainnya yang berkaitan dengan suatu produk.

Lantas, bagaimana iklan dari sudut pandang kejujuran:

Perhatikan salah satu iklan pasta gigi khusus gigi sensitif. Di dalamnya seorang narasumber dokter gigi mengatakan bahwa gigi sensitif berasal dari makanan dan minuman yang dingin dan menyarankan seakan agar menghindari konsumsi sejenis itu. Beberapa waktu kemudian, muncul iklan pasta gigi sejenis yang berasal yang berasal dari salah satu produsen pasta gigi. Di dalamnya seorang model cantik menyebutkan bahwa gigi sensitif tidak diakibatkan oleh makanan, melainkan dentin gigi yang terbuka, mana asumsi yang benar?

Secara etika rasional, mempercayai produsen pasta gigi dengan narasumber dokter gigi lebih memiliki kredibilitas dibanding model yang kurang mengetahui seluk beluk tentang gigi. Tapi kecantikan si model iklan pasta gigi, memungkinkan konsumen lebih memilih “berpihak” padanya. Apalagi, penuturan si model tentang “dentin gigi yang terbuka” terkesan lebih anatomis dan lebih “cerdas”.

Sebagai konsumen, saya prihatin bila produk yang bersangkutan dengan kesehatan anatomi dijadikan permainan iklan oleh kaum kapitalis, sampai harus menyertakan penuturan yang keabsahannya masih remang-remang.

Kemudian sedikit agak memuakkan, iklan obat maag dan sirup, manisan, minuman yang menjamur di bulan Ramadhan. Puasa seakan diasosiasikan sebagai kegiatan yang mengakibatkan resiko tinggi memicu datangnya maag karena keterlambatan makan. Minuman seakan menjadi iblis kedua yang berperan sebagai penggoda kita melaksanakan ibadah. Padahal puasa adalah kegiatan agamis yang justru menyehatkan (sesuai dengan janji Allah), sehingga kita tak perlu mengkhawatirkan kesehatan fisik selama misi kita adalah menunaikan ibadah. Begitupula hak iblis untuk menggoda manusia yang legal, tidak seperti “legalitas iklan minuman yang dibuat-buat.

Bahasa iklan bombastis sepertinya sudah menjadi peraturan “wajib” dalam dunia periklanan. Sebut saja semboyan-semboyan seperti “wanginya bikin bidadari lupa diri”, dan lain-lain. Memang tak ada yang salah, selama hanya demi kepentingan promosi. Tapi lain ceritanya bila iklan-iklan produk itu menjadi fitur KEBOHONGAN PUBLIK.

Hanya Tuhan yang tahu…

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Anti Spam. Akismet.