Iblis yang Saya Pahami

Siapa nenek moyang manusia? Adam as. Siapa nenek moyang Iblis? Jin.1 Seperti halnya manusia, bangsa Jin ada baik dan ada yang tidak baik.2 Namun Iblis adalah penyebutan yang diberikan kepada bangsa Jin yang tidak baik.

Abu Fida Ismail, pengarang tafsir Ibnu Katsir banyak menjelaskan mengenai iblis dalam tafsirnya. Menurutnya, sebelum disebut Iblis karena enggan sujud kepada Adam as, Iblis memiliki beberapa nama. Nama aslinya Azazil: عزازىل. Bahkan di setiap langit, Azazil memiliki banyak gelar. Misalnya, di langit pertama dinamakan al-Abid. Di langit kedua dinamakan al-Raki, dst.

Saat nenek moyang manusia diciptakan, semua makhluk diperintahkan bersujud kepadanya. Sebagian dari bangsa Jin menolak. Menolak bukan tanpa alasan. Bahkan alasan mereka sangat faktual. Saya diciptakan dari api. Kenapa saya harus bersujud kepada sesuatu yang (hanya) diciptakan dari tanah? Saya lebih baik dari dia.3 Tuhan lalu mengusir mereka, sekaligus mengabulkan permintaannya.

Permintaan Azazil yang kemudian berganti nama menjadi Iblis adalah agar mereka diberikan hak menggoda manusia di dunia. Permintaan itu dikabulkan. Iblis bisa menggoda manusia dari depan, belakang, samping kiri, dan kanan. Iblis tidak mendapat akses menggoda dari bawah dan dari atas. Itulah sebabnya, dalam ibadah ada dua arah penting. Sujud ke bawah dan berdoa mengadah ke atas.4

Banyak penafsiran terkait sebab “kemarahan” Tuhan terhadap Iblis. Kelompok orientalis bahkan ada yang menempatkan Iblis dalam posisi yang benar. Alasannya, iblis hanya ingin sujud kepada Tuhan bukan yang lain. Menurut mereka, ada yang aneh dari kemarahan Tuhan. Sebagian menganggap itu manipulasi hikayat.

Bagi saya tak sulit memberi alasan terkait hal itu. Pertama, Iblis adalah makhluk ciptaan. Sudah sepantasnya melaksanakan perintah dari siapa yang menciptakanya, melaksanakan tanpa alasan dan tanpa pertanyaan. Malaikat sebagai makhluk Tuhan yang juga diciptakan mendapat pujian tersebut dalam al-Quran. Malaikat tidak durhaka karena melaksanakan apa yang diperintahkan.5

Kedua, manusia diciptakan dari saripati tanah. Setelah sempurna, Allah meniupkan ruhNya.6 Itulah sebabnya muncul istilah diri manusia. Ke-diri-an manusia tak lepas dari unsur ketuhanan di dalamnya. Memahami ini sederhana; orang yang meninggal, sosoknya disebut mayat, bukan manusia, karena ruh kembali ke asalnya. Sepertinya, iblis pura-pura tidak memahami ini.

Ketiga, Allah “murka” disebabkan kesombongan Iblis. Kesombongan itu terlihat dari ucapannya, “saya lebih baik dari dia”. Alasan ini juga terkait poin ke dua tadi. Iblis merasa lebih baik kepada makhluk ciptaan Tuhan yang di dalamnya ada unsur “ketuhanan.” Simpelnya, Iblis mencoba merasa lebih baik dari penciptanya.

Jika membandingkan ketiga alasan tersebut, hemat penulis alasan tidak taat kepada perintah Allah adalah alasan yang paling kuat. Misal, ketika Adam as dikeluarkan dari surga, itu disebabkan karena tak taat. Bukan karena sombong dan yang lain.

Dari pemahaman tentang Iblis ini, setidaknya kita mengambil pelajaran dari ketiga kemungkinan Alasan “kemarahan” Tuhan. Maksudnya jangan lakukan hal itu. Dan perlu diingat, Iblis mempunyai hak legal menggoda manusia melakukan ketiga hal itu. Ingkar perintah, tak menghargai ciptaan Tuhan, dan sombong atau merasa lebih dari yang lain.

Wallahu A’lam

  1. Lihat pada QS al-Kahfi ayat 50; Dan (ingatlah) ketika Kami (Allah) berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!! Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. Dalam hadis Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian (dari tanah)”HR. Muslim dalam shahihnya, no. 2996, Ahmad no. 24668, Baihaqi di Sunan Kubro, no. 18207, dan Ibnu Hibban, no. 6155
  2. “Katakanlah, diwahyukan kepadaku, bahwa ada segolongan jin mendengarkan (al-Quran) kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendengarkan al-Quran yang sangat menakjubkan. Yang memberikan petunjuk kepada kebagusan sehingga kami beriman kepadanya dan tidak menyekutukan terhadap Tuhan kami sedikitpun juga“ (QS. Al-Jin: 1 -2)
  3. Saya lebih baik dari dari dia (Adam), saya diciptakan dari api sementara dia diciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12)
  4. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (Surat al-A’raf, Ayat 17)
  5. Surah at-Tahrim ayat 6
  6. Surah al-Hijr ayat 29

Tinggalkan Balasan