Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi Menurut Logika Saya

Sebagai muslim, sepantasnya menyandarkan segala hal tidak keluar dari garis ketentuan Allah dan Rasulnya. “Sesungguhnya shalatku, usahaku, dan hidupku, hanyalah untuk/ kepada Allah Tuhan semesta alam”. Demikian kalimat yang senantiasa diucapkan setiap shalat dilakukan. Ucapan ini adalah ikrar, ikrar untuk semua aspek yang dilakukan, ditemui, ditanggapi dalam kehidupan termasuk perayaan tahun baru Masehi.

Seperti diketahui, hukum merayakan tahun baru masehi menjadi polemik dan mencuat setiap tahunnya. Hukum yang dimaksud itu adalah hukum Islam. Mayoritas ulama mengharamkan dengan dalih bahwa merayakan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya. Kedua, merayakan tahun baru masehi adalah perilaku yang menyerupai orang kafir. “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama selain Islam), maka dia termasuk bagian dari mereka.” Sabda nabi saw. Ketiga, perayaan tahun baru identik dengan kemaksiatan. Fakta membuktikan itu, jika malam tahun baru masehi, kondom terjual laris jauh melampaui penjualan di hari lain. Belum lagi praktek minum minuman keras, canda tawa berlebihan, dan perbuatan maksiat lainnya.

Diantara ulama yang mengungkapakna berdasarkan alasan tadi adalah Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Buya Hamka, dan beberapa ulama yang sudah tidak diragukan lagi samudera pengetahuannya.

Adapun ulama yang menghalalkan, memiliki pandangan bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Ulama yang menghalalkan adalah dari mereka para cendekia. Argumen paling mendasar adalah masalah niat. “Sesungguhnya segala sesuatu tergantung niatnya”. Sabda Rasul saw. Niat merayakan tahun baru dengan perbautan maksiat, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Lalu bagaimana mengambil tindakan atas perbedaan pendapat hukum merayakan tahun baru masehi ini?. Bagi saya tak perlu pusing, mendukung sana sini, namun perlu memakai logika berpikir yang benar dalam melihatnya.

Pertama; dalam logika taat hukum asas yang paling menonjol adalah unsur kehati-hataian. Hal ini sudah diisyaratkan oleh Nabi saw, “tinggalkan apa yang kamu ragu terhadapnya kepada apa yang kamu tidak ragukan lagi.” Perbedaan pendapat ulama mengenai hukum merayakan tahun baru masehi jelas menimbulkan keraguan dalam hati. Mana yang benar, mana yang harus diikuti. Tinggalkan hal itu, dan tidak usah melakukan.

Kenapa kita tidak memilih meninggalkan keraguan dengan merayakan tahun baru masehi?, di sinilah fungsi kehati-hatian berlaku. Dengan pendekatan logika jelas, jika pendapat ulama yang mengharamkan benar, maka siapa yang merayakan tahun baru masehi, akan mendapat ganjaran dari perilaku haramnya. Jika ulama yang mengatakan hukum merayakan tahun baru masehi boleh-boleh saja, maka kita tidak mendapat pahala dari perayaan itu. Pahala bisa saja didapatkan tergantung niat, namun peluang itu juga terbuka bagi yang tidak merayakan.

Kedua; dalam Islam ada dua hari raya yang diakui, Idul Fitri dan Idul Adha. Pergantian tahun bagi umat Islam juga ada. Namun, bukanlah kewajiban bagi muslim untuk merayakannya. Tahun baru Islam identik dengan ibadah dan ikutan terhadap keputusan Umar ra sahabat Nabi atas kalendar Hijriah. Merayakannya terkait kebersamaan dan rasa persaudaraan. Jika tahun baru hijriyah sebagai tahun baru Islam saja bukan kewajiban untuk merayakan, apatah lagi tahun baru masehi.

Demikian pandangan saya atas perbedaan pendapat hukum merayakan tahun baru masehi. Saya memilih tidak merayakan. Pilihan saya dengan logika sederhana dan membandingkan dalam posisi saya sebagai muslim.

Salam bahagia dan selamat liburan