Hukum Mengkonsumsi Obat Penahan Lapar dan Haus Saat Puasa Ramadhan

Fikih sebagai rangkuman ketentuan ibadah bagi umat Islam tentu melihat kondisi dan keadaan orang yang beribadah. Fikih bersifat statis, namun fikih pun tidak boleh semau gue, karena posisi manusia sebagai pelaku ibadah yang memiliki hawa nafsu, rentan menafsirkan sesuatu sesuai keinginannya. Aturan ibadah yang dirangkum dalam fikih mestinya memiliki dasar sesuai sumber hukum Islam yang paling dasar, yaitu al-Quran dan Hadis.

Semakin canggihnya teknologi, banyaknya temuan pakar di tengah kondisi alam yang statis, membuat fikih semakin menarik dipelajari agar tidak mudah dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Seperti halnya puasa Ramadhan, perbedaan geografis sehingga mengakibatkan puasa di beberapa daerah lebih lama dengan kondisi panas yang lebih membuat fikih harus menunjukan perannya.

Seorang teman saya bertanya, bagaimana hukum seorang tentara dengan tugas jaga siang ala militer, berat, panas, padahal yang bersangkutan sedang berpuasa. Bolehkah dia mengkonsumsi obat penahan lapar? Pertanyaan ini sebenarnya sudah menjadi polemik di beberapa negara Eropa, waktu yang berbeda dengan kondisi panas samapi 40 derajat. Muncullah Azhak Hussam, pemilik perusahaan kosmetika di Garden Grove, California, dengan produk Ramadan Fasting Tablet. Suplemen ini mampu mengurangi rasa lapar dan haus selama berpuasa.

Tentu tak mudah menghukumi keadaan ini dengan halal atau haram tanpa melihat puasa Ramadhan secara keseluruhan. Hussam mengatakan itu boleh saja, karena menurutnya “Tuhan tidak membebani hambaNya, kecuali apa yang hambaNya mampu untuk itu”. Inilah yang saya maksud hukum yang dilandasi hawa nafsu, tanpa mempertimbangkan konteks puasa Ramadhan secara menyeluruh.

Puasa Ramadhan adalah ibadah unik dibanding ibadah wajib yang lain. Puasa Ramadhan bisa dilihat dari sisi batal tidak batal, dan berpahala atau tidak berpahala. Fikih melihat aspek batal tidaknya, dan etika melihata aspek berpahala atau tidak. Hukum menggunakan obat penahan lapar dan haus tidak membatalkan puasa, karena yang membatalkan puasa dan wajib qadha (mengganti) berikut kafarat, hanyalah bersenggama (bergaul dengan istri) di siang hari bulan ramadhan, dan tidak ada yang lain. Adapun fidyah, karena suatu sebab yang sudah digariskan dalam hukum Islam. Sedangkan kafarat saja tanpa meng-qadha, ialah pembatasan puasa Ramadhan secara khusus, yaitu dilakukan secara sengaja dan atas kehendak sendiri

(baca: pengertian puasa menurut ulama).

Dengan demikian, mengkonsumsi obat penahan lapar dan haus saat puasa Ramadhan tidak terkait hal yang membatalkan puasa baik kewajiban membayar qadha, fidyah dan kafarat, namun ada aspek lain (etika) yang tidak terkait dengan istilah batal atau tidak batal, yaitu berpahala dan tidak berpahala yang tidak menyebabkan qadha, fidyah, dan kifarat.

Menjawab pertanyaan bagaimana mengkonsumsi obat penahan lapar dan haus saat puasa Ramadhan, maka kita lihat konteks puasa Ramadhan secara menyeluruh. Puasa Ramadhan adalah menahan diri dari makan, minum, dan jima (bergaul dengan pasangan suami atau istri) sejak terbit fajar sampai terbenam matahari pada bulan suci Ramadhan. Di antara tujuan puasa Ramadhan yang utama adalah melatih diri agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi terkait dengan perasaan lapar dan haus yang dirasakan saat berpuasa.

Jika pengertian dan tujuan puasa Ramadhan tersebut digabungkan, maka secara sederhana, maka meski lapar dan haus bukan menjadi syarat sah puasa, tetapi akan menjadi hilang makna puasanyanya jika tidak dapat merasakan lapar dan haus. Oleh karenanya, menyertakan obat penahan lapar pada saat puasa sama artinya dengan menghilangkan makna puasa dan kualitas pengorbanan dari ibadah puasa tersebut dalam konteks sosial.

Kita bisa melihat bagaimana hukum Islam melihat puasa Ramadhan secara arif dengan konsep Qadha, fidyah dan kafarat. Kalau seorang tidak mampu dan betul-betul tidak mampu, silahkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dengan resiko Qadha tentunya dengan pahala yang berbeda pada bulan selain Ramadhan

Selain itu, secara tersirat, Allah dan rasul-Nya sudah memberikan solusi agar lapar yang kita alami saat puasa Ramadhan tidak berlebihan. Misalnya, makan sahur pada waktu-waktu akhir yang cukup, mengkonsumsi menu makanan yang bisa memperlambat lapar tapi bukan obat, mempercepat berbuka sebelum shalat maghrib, dan usaha alamiah lainnya. Artinya, mengkosumsi obat penahan lapar dan haus saat puasa Ramadhan beresiko menghilangkan pahala puasa yang dilakukan bukan membatalkannya.

Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan bagi Anda yang melaksanakannya …

Tinggalkan Balasan