HMI yang Kini Macam-Macam…

HMI kini. Berawal dari pertemuan dengan seorang yang masih ada hubungan keluarga. “Alumni pesantren, cocoknya masuk HMI.” Saya sangat penasaran dengan hal itu. Tahun 1999-2000 HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) masuk ke Wajo, meski dalam catatan sejarah HMI pernah ada di Wajo sekitar 20 tahun sebelumnya. Saya masih ingat, ada tiga acara penting saat itu yang saya tinggalkan, karena pengkaderan HMI memang sangat saya tunggu.

Apa hasil dari pengkaderan itu? Pikiranku serasa kosong. Nalarku terangsang untuk tak sungkan menanyakan dan memprotes apapun termasuk Tuhan. Kalau itu yang dikatakan radikal, saat itu pemikiranku sangat radikal. Kalau itu dinamakan liberal, pemikiranku saat itu sangat liberal. Saya merasa tak tahu apa-apa, sehingga semua buku harus saya baca. Lahirlah prinsip buruk; meminjam buku tanda tak punya, tapi mengembalikannya tanda orang bodoh.

Budaya keilmuan pesantren membatasiku hanya belajar pada patron aliran tertentu, di HMI merombak batas itu. Semua wajib dipelajari. Dari sinilah awal saya mengenal syiah, komunis, muktazilah, dan aliran “haram” lainnya. Jika mempelajari aliran tertentu kemudian dianggap penganut aliran itu, maka saya pernah syiah, pernah komunis, pernah muktazilah, pernah khawarij, dan pernah-pernah lainnya. Dampak buruknya saya terkucilkan di lingkungan pondok pesantren, dengan bumbu tuduhan beragam.

Setahun pernah jadi ketua cabang. Setahun saja, karena serakah jika lebih dari itu! Waktu itu saya menjabat dengan target kerja membuka skat organisasi dengan pemerintah, serta menjadikan kuktur membaca dan kajian sebagai tradisi wajib organisai. Masa itulah dilaksanakan Intermediate Training pertama kali HMI Cabang Wajo.

Demo? Tak terlalu sering, namun demonstrasi sudah menjadi hobby. Saya dengan teman-teman HMI pernah demonstrasi dengan jumlah pengamanan tiga kali lipat. Lucu… Saya masih ingat saat gabung dengan demonstran HMI di Makassar tahun 2011 kasus penyerangan sekretariat HMI oleh oknum polisi. HMI vs Polisi jadinya. Yah, sekedar mengingat masa-masa indah gas air mata. Seram…

HMI demo
Anak pertama saya beri nama Hilya MuthahharI, anak kedua saya beri nama Haurah Muqriatul Ilmi. Keduanya inisial HMI. Saya sangat mencintai HMI. Sederhana, karena dari HMI-lah saya terbentuk sehingga tak melongo dengan Rocky Gerung dan sejenisnya. Saya mengidolakan seorang yang luas wawasan agamanya sekaligus tuntas logikanya. Bukan mengeluarkan argumen ayat di depan non muslim. Atau ngoceh hadis di depan atheis, bakal gak nyambung.

Sekarang mungkin saya bukan lagi HMI. Anak ke tiga dan keempat tidak berinisial HMI lagi. Karena HMI sudah macam-macam. Selamat milad HMI yang ke-72, 5 Februari 1947 – 5 Februari 2019

Tinggalkan Balasan