Hikmah Terkait Kambing dalam Akikah

Akikah (biasa ditulis aqiqah), adalah menyembelih kambing atau domba dalam rangka mensyukuri kelahiran anak, dilaksanakan pada hari tujuh kelahiran dengan menghitung hari lahirnya. Misalnya lahir hari senin, maka hari ke-7 kelahirannya adalah hari senin minggu berikutnya. Hukum akikah adalah sunnah.

Seorang siswa saya pernah menanyakan kepada guru agama di kelasnya, dan kemudian guru tersebut menanyakan hal itu kepada saya. “1) Haruskan ketika melaksanakan akikah dengan menyembelih kambing, dan bukan hewan lain?; dan 2) kenapa bagi laki-laki dua ekor kambing dan perempuan seekor kambing saja?”. Jawabanya itulah yang kemudian menginspirasi saya untuk menjadikannya sebuah tulisan.

Perdebatan mengenai kemestian kambing yang disembelih ketika akikah tidak terjadi di kalangan ulama. Karena hal itu dianggap clear. Kesimpulan bahwa melaksanakan akikah mesti dengan menyembelih kambing didapatkan dari semua hadis terkait akikah. Semua menyebut kambing atau domba. Perbedaan ulama hanya terjadi dari segi jumlah kambing yang disembelih jika anak lahir laki-laki atau perempuan.

Semua syariat Tuhan melalui Nabi-Nya terdapat hikmah yang bisa dipelajari oleh umat. Seperti halnya kemestian menyembelih kambing dan bukan hewan lain bagi saya tak lebih dari sifat kebinatangan dalam diri sekor kambing. Niat terdalam dalam menyembelih hewan agar sifat hewan yang disembelih tidak ada dalam diri anak terlahir. Sifat kebinatangan umunya hadir dalam diri seorang anak, ternyata mirip dengan sifat seekor kambing.

Kambing adalah bintang malas, tidak takut air, tapi malas mandi. Kambing susah diatur. Bahkan semua Nabi Allah swt sebelum mengarahkan umatnya, terlebih dahulu dilatih mengembalakan kambing, sebagai latihan khusus sebelum mengarahkan manusia berakal yang juga susah diatur. Kambing adalah binatang serakah, rumput tetangga pun diembat. Dan masih banyak sifat kambing yang ternyata mentereng dalam diri manusia secara umum dan anak secara khusus.

Sifat itulah sebenarnya dimaksudkan dibuang dalam penyembelihan kambing ketika melaksanakan akikah. “Tidaklah sampai darah daging yang engkau sembelih…” Firman Allah swt dalam surah al-Anbiya. Artinya, fisik yang disembelih bukanlah maksud sebenarnya dari penyembelihan dalam akikah, meski juga tak boleh mengabaikannya karena hal ini salah satu hikmah dari banyak hikmah lain tentunya.

Kenapa anak laki-laki menyembelih dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan hanya seekor?. Apakah ini tidak melanggar emansipasi wanita?. Teriak pegiat emansipasi tetangga saya..

Sebenarnya terjadi perbedaan ulama mengenai hal ini. Namun berdasarkan hadis yang teruji kesahihannya, misalnya hadis riwayat Abu Dawud; “Abdullah bin Buraidah berkata; saya mendengar ayahku yaitu Buraidah berkata; dahulu kami pada masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami terlahirkan anak laki-lakinya maka ia menyembelih seekor kambing dan melumuri kepalanya dengan darahnya. Kemudian tatkala Allah datang membawa Islam maka kami menyembelih seekor kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan za’faran.” (HR. Abu Dawud). Imam Malik memang berpendapat bahwa akikah anak laki-laki dan wanita tidak boleh dibedakan, yakni satu kambing berdasarkan hadis akikah. Namun Jumhur ulama melemahkan pendapat ini, berdasarkan hadis-hadis shahih yang menjelaskan bahwa akikah laki-laki lebih baik dengan dua kambing.

Mengenai hikmah perbedaan, secara ringkas “Wanita menjunjung dan Laki-laki menjinjing.” Ada perbedaan tanggungjawab yang lebih besar terhadap seorang laki-laki dibanding perempuan. Dalam hukum Islam, bisa dilihat perbedaan itu dalam pembagian warisan dan pola pendidikan anak perempuan. Semoga bermanfaat.

2 Comments

  1. adliReplyJuli 19, 2014 at 00:29 

    Usah sembaranga bicara.. Cuba perhatikan hadis ini
    Ada apa dengan kambing?

    Abu Hurairah r.a menukilkan sebuah hadis Rasulullah yang menyentuh tentang kambing: “Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali dia itu seorang gembala kambing”. Maka para sahabatnya bertanya “Adakah Tuan juga?” Jawab beliau “Ya, aku pernah menggembala kambing dan bertanggungjawab ke atas beberapa bahagian penduduk Mekah”.

    Abu Hurairah juga meriwayatkan sabda Rasulullah “Asas kekufuran ada di arah matahari terbit, megah dan angkuh ada pada pemilik kuda dan unta, mereka yang bersuara nyaring (bising) ialah pemelihara haiwan berbulu (arnab, kucing) dan ketenangan itu ada pada gembala kambing”. (Hadis ini turut dinukilkan oleh al-Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatta`).

  2. LihinReplyNovember 13, 2014 at 06:57 

    Adli: ada apa dg hadis yg Anda nukilkan? Org dr mana sih kamu lkasar banget hehehehe.. Hadis yg kamu kutip hadis lemah tuh :p

Tinggalkan Balasan