Hasil Penelitian PISA Anak Kita Paling Bodoh; Kritik atas Kurikulum 2013

Bukti bahwa sistem pendidikan di Indonesia sebagai sistem yang baik dari satu sisi belum terbukti. 20 % APBN yang digelontorkan untuk dana pendidikan belum menjawab kebutuhan akan kepandaian peserta didik. Hasil penelitian OECD atau Organization Economic Cooperation and Development melalui Programme for International Student Assessment (PISA), menunjukan bahwa anak terpandai Negeri tercinta ini, berada pada peringkat paling bawah.

Programme for International Student Assessment (PISA), setiap tiga tahun melakukan tes terhadap peserta didik umur 15 tahun dari 65 Negara. Untuk tahun ini, tes meliputi kemampuan matematis, membaca dan ilmu pengetahuan umum. Hasil penelitan menunjukan 42 % peserta didik usia 15 tahun tidak mencapai tingkat yang ditetapkan dan terendah untuk matematika, dan di dalamnya termasuk anak terpandai di Indonesia. Yah, secara umum, artinya hasil penelitian PISA anak kita paling bodoh!

Dalam Undang-undang yang bertanggungjawab terhadap pendidikan adalah pemerintah, orangtua dan masyarakat. Namun sistem pendidikan kita, kondisi masyarakat dan lingkungan, menggiring bahwa tangggungjawab pendidikan ada pada pemerintah. Orangtua tidak bisa berkutik lebih banyak ketika kebijakan pendidikan dalam satuan pendidikan tidak mendukung hal itu. Demikian pula dengan lingkungan. Lingkungan bahkan kadang memperburuk masalah. Lahirnya tontonan tidak mendidik, menghabiskan waktu dan energi, justru mendapat jatah tayang untuk anak usia sekolah.

Melihat hasil survei PISA yang melibatkan 510 ribu responden pada tahun 2012, dan diumumkan akhir 2013 itu, saat survey dilakukan, peserta didik yang dites berusia 15-16 tahun. Artinya, peserta didik saat tes lahir pada tahun 1996-1997. 2004 SBY sudah menjadi Presiden Indonesia, berarti anak yang dites tadi berusia 7-8 tahun, atau usia antara kelas 1-2 SD. So, hasil survey PISA yang menempatkan anak paling pintar di Indonesia sebagai yang terbodoh di Dunia, adalah produk sistem pendidikan masa SBY dan Kementerian Pendidikan jajarannya.

Kita pun harus bijak tidak menyalahkan secara sepihak. Apa yang dilakukan Presiden SBY terhadap pendidikan, tidak sedikit. Masa SBY-lah anggaran pendidikan 20% dinaikkan dengan berani. Apatah lagi, masalah pendidikan di Indonesia, sudah sistemik. Lalu apa dan siapa yang salah?

Tidak mudah hilang dari ingatan, dalam konvensi Ujian Nasional, beberapa guru keluar dari ruangan menyatakan tidak sepakat dengan pelaksanaan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Aksi walk out itu akibat anspirasi dari bawah (guru) seakan tidak didengarkan. Ini penting, karena faktanya, banyak sekali kebijakan pendidikan yang ditetapkan kementerian terkait, tidak melibatkan guru yang katanya ujung tombak pendidikan.

400 Triliun lebih anggaran Pendidikan, akhirnya harus terkuras akibat pergantian kurikulum yang ditolak guru di daerah. Kenapa ditolak, karena guru tidak mengerti, guru tidak mengerti, karena guru yang terlibat dalam rumusan kurikulum itu adalah “orang dalam” yang tidak mengerti kondisi pendidikan di Papua sana. 20% anggaran Pendidikan dari APBN mendapat porsi yang tidak sedikit buat Kementerian yang lebih dekat pada manajemen, bukan pada aksi.

Pluralisme mata pelajaran dalam kurikulum 2013 entah menempatkan posisi kita di nomor berapa pada survey PISA tahun 2015 nantinya. Mengintegrasikan kuantitatif dan kualitatif dalam satu waktu, menggabung kuadrat dengan kedisiplinan, jujur dan bertanggung jawab dikaitkan dengan fungsi trigonometri, sangat terkesan dipaksakan. Padahal tak sulit menambah jam mata pelajaran agama yang hanya 2 jam per-pekan, kalau toh merasa khawatir dengan perkembangan moral peserta didik hari ini.

Hasil dan tujuan pendidikan murni bukan salah guru secara keseluruhan, karena guru bergerak dengan sistem. Hasil penelitian PISA yang menempatkan anak Indonesia terpandai di nomor buncit dibanding 65 Negara lain, adalah pukulan telak bagi pemerintah secara tidak langsung. Semoga hal ini bisa menjadi bahan kritikan bagi mereka yang bisa mendengar, dan mau belajar. Karena kondisi bangsa “tahun depan” ada dalam genggaman peserta didik hari ini.

Salam bahagia

4 Comments

  1. Namin ABReplyFebruari 22, 2014 at 15:56 

    PR untuk kita sebagai guru pembaharu, semoga pendidikan kita akan lebih baik ditangan generasi yang melek IT dan Berkpribdian.

    • MushlihinReplyFebruari 23, 2014 at 06:56 

      Amin… 🙂 dan itu harus pak, salam kenal

  2. LindaReplyFebruari 23, 2014 at 17:23 

    waduh ternyata,untung saya udah ga sekolah 🙂
    ngomong2 itu gimana caranya pa bisa ada related post didalem postingan, keren liatnya jadi pengen 🙂

    • MushlihinReplyFebruari 24, 2014 at 08:31 

      Aduh, saya sulit menjelaskan di sini mbak eeee. Tapi intinya, theme yg saya pake belinya di kentooz kok. Kalau mau belajar, rajin trial and error saja hehehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.