Harga Batu Permata Bacan Melejit, Banyak yang Tak Senang !

Hampir semua pecinta batu permata mengenal batu dengan unsur chrysocolla chalcedony asal Maluku Utara. Yah, batu permata yang dikenal dengan nama Bacan, mengambil nama daerah asalnya ini mau tak mau diakui melebihi batu permata yang lain. Bukan Cuma dari sisi harga, keindahan, kekerasan, bahkan sampai hal brand pun demikian. Batu permata Bacan melejit menelikung batu permata yang lain. Bahkan, Bacan mampu bersaing dengan batu mulia sekelas Shappire dan Emerald.

Harga batu permata Bacan jauh melampaui harga batu permata yang lain. Itu bukan karena jasa mantan Presiden SBY saat memberikan batu permata Bacan Doko kepada Presiden Obama beberapa tahun lalu, bukan pula karena kelebihan batu permata Bacan yang senantiasa berubah, akan tetapi hal yang paling penting adalah, batu permata Bacan disukai warga negara asing, bahkan menjadi komuditi ekspor ke Taiwan dan Tiongkok.

Walhasil, harga batu permata Bacan yang melejit sedikit banyak membantu perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat Halmahera yang awalnya tak punya pekerjaan tetap, kini bisa menikmati hasil jerih payah menambang bacan. Meski kini area penggalian batu permata Bacan makin sulit, namun tak menyurutkan semangat para penggali. Semua karena harga batu permata Bacan yang kian menjanjikan kehidupan yang lebih baik. (Baca: Kenapa batu Bacan terkenal?)

Harga batu permata Bacan yang melejit ternyata juga membuat segelintir orang berfikir pintas namun negatif. Tidak mampu mendapatkan rough Bacan karena jarak, atau tak mampu menjadi reseller karena modal minim, akhirnya mencoba meracik komponen yang tak memiliki kandungan chrysocolla chalcedony sehingga mirip bacan, sampai kemudian muncul istilah bacan sintetis atau dikenal dengan istilah bacin. Selain itu, persaingan tak sehat muncul. Banyak yang mulai terusik dan merasa tak senang. Rasa iri menguasai, terutama berasal dari pencari batu permata jenis lain selain batu permata Bacan. (baca: cara menguji keaslian batu Bacan)

Poto sumber: Poto Bacan Doko Online Group FB

Pribadi sempat kaget membaca beberapa tulisan yang dimuat di fajar.co.id, sebuah media besar asal Makassar, Sulawesi Selatan. Bagi saya, tulisan-tulisan itu sedikit banyak membuat kepercayaan publik terhadap batu permata Bacan akan menurun, yang tentu akan berpengaruh terhadap harga dan ekonomi masyarakat secara umum. Tulisan itu bisa di baca di link berikut: 1) 2) 3)

Banyak kawan saya, langsung percaya apabila berita yang dibaca berasal dari media yang telah memiliki brand, dan nama besar. Padahal belum tentu apa yang disampaikan benar adanya. Perlu pemahaman mendalam terhadap tulisan yang dibaca, apakah itu berita, atau opini belaka. Jika berita apakah memenuhi unsur berita, dan jika opini apakah memenuhi unsur tulisan sebuah opini?

Meski sudah disaingi oleh tribun timur, brand media fajar termasuk kategori media besar, sehingga banyak orang yang mudah langsung percaya dengan apa saja yang ditulis di media tersebut. Padahal, bisa jadi tulisan itu hanyalah opini penulis di sana, tanpa dasar apalagi bukan hasil dari sebuah penelitian.

Beberapa kawan saya di group penjual batu permata Bacan setelah membaca tulisan itu, sedikit banyak terpengaruh. Mereka sedikit panik, dan melempar jualan mereka ke pasaran dengan harga modal bahkan di bawah modal. Rasional, karena mereka menyadari efek dari tulisan seperti yang dipublish media sekelas fajar.co.id tadi.

Saya percaya pengaruh kekuatan sebuah tulisan dapat membawa kepada kebaikan. Tentu, jika tulisan itu ditorehkan dengan hati, keikhlasan, dan memerhatikan fakta sebenarnya. Berbeda, jika sebuah tulisan dibuat untuk hal yang tidak baik; mengalihkan isu, “menyerang” untuk kepentingan pribadi, apalagi sampai menjelekan seseorang.

Ungkapan syair Arab mengatakan, “Undzhur Ma Qala, wala Tanndzhur Man Qala”. Perhatikan apa yang dikatakan, jangan perhatikan siapa yang mengatakan. Ungkapan ini, kiranya bisa juga menjadi perhatian dalam memaknai sebuah tulisan. Jangan melihat siapa yang menulis, siapa yang mempublikasikan, tapi lihatlah isi yang ditulis. Perhatian terhadap siapa yang menulis bukan berarti diabaikan sepenuhnya, hanya saja tak laik dijadikan kunci penentu memahami maksud tulisan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend