Ketika Handphone sebagai Berhala dan Selfie Ibadahnya

Peristiwa Fathu Makkah 11 Ramadan tahun 8 Hijriyah, mencerminkan kalau Nabi saw sangat tegas jika itu terkait masalah tauhid. Buktinya, semua berhala, dan patung yang ada di sekitar Ka’bah dihancurkan, sehingga tak satupun jenis berhala ada di kota Makkah. Khalid bin Walid ra, merobohkan berhala Uzzaa, Amr bin Ash merobohkan berhala Suwa, dan Saad bin Zaid Asyhali menghancurkan berhala Mana.

Berhala adalah tuhan masyarakat Jahiliah. Mereka menganggap berhala itu yang mengendalikan kehidupan mereka. Mereka seakan tak bisa hidup tanpa berhala. Lalu, apakah berhala hilang? Tidak! Berhala era milenial bukan lagi berupa patung. Berhala makin canggih, namanya handphone. Handphone sudah mengendalikan banyak orang. Kita sepertinya tak bisa hidup tanpa handphone. Seperti anggapan masyarakat jahiliah masa Nabi saw akan berhala.

Salah satu “ibadah” dalam penyembahan berhala handphone ini adalah selfie. Selfie artinya memotret diri sendiri. Meski bisa dilakukan sendiri, namun bisa juga dengan bantuan orang lain. Selfie sudah mempengaruhi ibadah yang sebenarnya ibadah. Bahkan, selfie dilakukan bukan lagi karena perintah dan kebutuhan, tapi sudah ada kenikmatan di dalamnya. Banyak orang rela menyabung nyawa demi selfie, seperti saat stunami Aceh, maupun gempa Banten beberapa waktu lalu.

Tahun 1914, salah seorang putri Kekaisaran Rusia, Anastasia Nikolaevna, mengirim surat kepada sahabatnya. Surat itu berisi poto dirinya yang diambil menggunakan cermin. Dia berdiri depan cermin dan dengan tangan gemetar memotret dirinya di cermin. Itulah sejarah selfie pertama kali. Kedengaran sulit. Justeru karena itulah, teknologi digital berinovasi bagaimana cara memotret diri sendiri tanpa menggunakan cermin. Lahirlah berhala handphone dengan beragam fitur selfie dengan mudah, sehingga tangan tak akan gemetar seperti Anastasia Nikolaevna.

handphone sebagai berhala dan selfie ibadahnya

Sepertinya, berhala handphone ini sedikit demi sedikit mulai memenangkan persaingan. Banyak ibadah yang sebenarnya ibadah, disusupi oleh ibadah selfie dari berhala handphone ini. Berangkat umrah, selfie. Shalat pun selfie. Bahkan saat bencana masih ada yang menyempatkan selfie. Anehnya, ibadah selfie ini pendukungnya pun banyak. Mendukungnya cukup like and share.

Nah, sebagai manusia yang tidak ingin menjadikan handphone sebagai berhala dan selfie ibadahnya, mari kita alihkan selfie menjadi self control (kontrol pribadi). Kita terlalu banyak memperhatikan jasad kita; memperindah fisik, memberi makan fisik, merias fisik, namun lupa ruhani kita. Manusia bukan hanya fisik, tapi juga ruh. Pernahkah kita memotret diri kita, mengontrol batiniah dan spiritual kita sebagaimana kita selfie akan fisik kita? Rajinlah bermuhasabah. Amal apa yang telah kita buat sejak pagi? Dosa apa yang kita lakukan sejak malam?