Hai Mahasiswa, Kalian di Mana?

Awalnya opini ini akan saya beri judul, “Hai mahasiswa kalian nyungsep di mana?”, tapi mengingat diksi nyungsep bisa saja dimaknai negatif karena terkait tindakan. Sempat juga terpikir beropini mahasiswa ke mana, menanyakan tujuan bukan keberadaan atau tempat. Setelah saya pikir ulang, kek nya rawan. Alih alih celoteh biasa hanya untuk berbagi, ntar jadinya nambah musuh. Padahal ini nyenggol diri saya sendiri.

Mahasiswa itu tempatnya di mana sih? Kok dicari. Mahasiswa adalah siswa yang mendapat tambahan maha. Artinya setingkat atau beberapa tingkat dibanding siswa. Siswa jelas, tempatnya di sekolah atau tempat belajar. Kalau mahasiswa berarti punya maha tempat belajar lain yang lebih dari siswa. Jadi, tempat belajar mahasiswa itu bukan cuma di kampus. Tak menemukan siswa di kampus, itu gak aneh. Bisa jadi, dengan ke maha annya, mereka belajar di tempat lain.

Apalagi jika melihat peran dan fungsi mahasiswa. Jika menelisik lebih jauh, atas dasar peran dan fungsi mahasiswa itu, maka sejatinya mahasiswa pasti akan selalu dicari. Mahasiswa sebagai “iron stock”, diharapkan menjadi manusia yang memiliki kemampuan dan ahlak yang mulia. Apa kata dunia, jika kelakuan mahasiswa sama seperti siswa. Mahasiswa sebagai “agent of change”, yaitu berperan sebagai agen perubahan untuk masyarakat. Perubahan ke arah lebih baik tentunya.

Ada satu peran mahasiswa yang membuat mahasiswa hari ini dicari, yaitu mahasiswa sebagai “social control”, yaitu sebagai pengontrol kehidupan sosial. Dalam hal ini, mahasiswa menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah. Menyampaikan aspirasi yang telah dikeluarkan oleh masyarakat kepada pemerintah. Peran ini tak mesti dilakukan dengan demonstrasi, namun bukan juga menutup ruang demontrasi dengan alasan takut, bahkan karena tak mengerti fungsinya sebagai mahasiswa.

Demo menjadi tradisi paling efektif menyampaikan aspirasi sebagai jembatan masyarakat dan pemerintah. Apa tak ada cara lain? Banyak, tapi demolah yang paling efektif. Strata kadang membuat manusia menjadi tuli atau kurang jelas pendengarannya. Teriakan demonstranlah yang bisa membuat mereka mendengar. Kebiasaan hidup enak terkadang membuat terlena dan tertidur, maka demonstranlah yang akan membangunkannya. Menyampaikan aspirasi dengan kalem berpotensi menjadikan penyampai aspirasi dan penerima tuli bareng atau bahkan tidur bareng. Rawan….

Masih adakah mahasiwa yang mengerti atau tahu fungsi social control ini? Banyak yang bilang, mereka tak bisa lepas dari rasa nyaman terhadap apa yang mereka rasakan sekarang. Pergi pulang kampus, awal bulan tunggu kiriman, malam main mobile legend. Mereka lupa kalau orang tua mereka banting tulang menghasilkan uang. Ada yang kebetulan petani, menjerit karena harga beras murah akibat inpor. Tapi hanya bisa diam. Orang tua yang petani itu butuh agen menyampaikan aspirasi atau pertanyaan mereka ke pemerintah kenapa mesti inpor sehingga beras murah? Tapi sayang, anak anak mereka yang mahasiswa tidak melakukan itu. Ini contoh kecil. Hai mahasiswa, kalian di mana?

Kondisi makin rumit, saat lawan mahasiswa sebagai control social justeru datang dari masyarakat sendiri. Masyarakat jengah dengan aksi demo yang dulu kerap menghalangi aktifitas mereka. Hai mahasiswa kalian di mana? Tak perlu takut dengan keadaan. Kalian bisa melakukan itu tanpa menghalangi masyarakat. Pikirkan dengan matang, dan lakukan dengan bijak. Bukankah demo masak justeru ramai dihadiri orang? Semua perbuatan yang tidak baik akan mendapat perlawanan. Menyampaikan aspirasi itu perbuatan baik lho. Hanya saja diselipkan dengan perilaku buruk yang mendominasi. Bukankah merusak itu perilaku buruk?

Hai mahasiswa kalian di mana? Ayo bangun. Kebahagian itu bukan berarti menari di atas penderitaan orang lain…

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend