Guru Tak Semua Sama; Kisah La Beddu 2)

Sambungan dari Guru Tak Semua Sama; Kisah La Beddu 1

Bercucur air mata haru, tak kuasa menahan kegembiraan bebaur penyesalan di atas makam ibunya. Berita kelulusannya, tak sempat ia persembahkan sebagai  takzim terhadap ibunya. La Beddu lulus murni sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil… Suatu hal yang sulit dipercaya.

Menjelang dua tahun berlalu. La Beddu tak kunjung mendapat panggilan untuk mengikuti prajabatan sebagai syarat mutlak menjadi abdi negara penuh. Beberapa kali dia menghadap ke yang berwenang mempertanyakan, namun semua jawabannya sama, “nanti kalau waktunya akan dipanggil jua”.

Memasuki bulan ke 21 semenjak dia menjadi CPNS, La Beddu jatuh sakit. badannya menggigil, meriang, dengan sedikit bintik merah. Menurut dokter, dia menderita demam berdarah. La Beddu hanya bisa terbujur kaku, tak berdaya, diatas ranjang tua yang senantiasa berderit. Adiknya sedih, namun setia menjaga.

Dan siapa sangka, di saat sakit keras seperti itu, panggilan prajabatan wajib dihadiri. Dokter puskesmas menyarankan, agar menunda terlebih dahulu. La Beddu was-was, dia khawatir, hanya karena tidak mengikuti kali ini, dia tidak mendapat kesempatan lain kali. Diputuskan untuk ikut. Meski sakit masih mendera.

Perjalanan ke kota ditempuh siang hari. Di saat panas tak bersahabat dengan sakitnya. La Beddu hanya bisa berdoa diberi ketabahan dan kekuatan, untuk kebahagiaan ibunya di alam sana, dan kebahagiaan adiknya kelak.

Tiga jam perjalanan melalui jalan berbatu, serasa ditempuh 10 jam. La Beddu sampai di tempat pelatihan dan segera melapor. Karena kondisinya yang sakit, dia mendapat ruang khusus. Pada pelatihan itu, dia bersama dengan beberapa anak pejabat kabupaten. Kondisi itu membuatnya semakin risih. Anak kampung, miskin jauh dari pergaulan mereka, anak pejabat, pikirnya.

Satu hari, dua hari berlalu. La Beddu masih bisa mengikuti semua materi ditengah panas dingin suhu tubuhnya. Demi masa depan, tak ada kompensasi, dan tak ada toleransi.

Hari ketiga La Beddu kaget, dalam absen harian pelatihan jumlah peserta 66 orang namun yang hadir cuma 65 orang. Dia menanyakan kepada rekan sebangkunya, “hus, gak usah dipertanyakan, dia anak pejabat tinggi”, jawab temannya. Tak puas dengan jawaban itu, La Beddu bertanya kepada panitia, dan jawabnya sama.

La Beddu tertunduk lesu, dirinya yang sakit meregang, tak dapat kompensasi. Berusaha dia tenangkan perasaannya. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk melaporkan masalah ini. Tapi dia punya bukti apa?, buktinya bisa-bisa hanya dirinya sendiri. Absensi pasti sudah diantisipasi oleh pelaku, rekan-rekan yang lain, mungkin tak ada yang berani. Mereka pasti berpikir, takut cari gara-gara.

guru honor jadi PNS

Kejadian itu tak serta merta didiamkan. La Beddu memberanikan diri berbicara dengan penanggungjawab pelatihan. Seorang tua yang kelihatan sedikit bijak. Namun jawaban yang dia terima, hanya tambahan, agar dia bersabar. “Kita terikat dengan loyalitas, dan ketaatan terhada pemimpin, itulah resiko Abdi Negara”, jawabnya lesu.

Satu bulan penuh diikuti La Beddu, sampai akhirnya namanya masuk dalam daftar lulus, artinya beberapa bulan kemudian, jika tak ada pelanggaran, La Beddu berhak menjadi PNS penuh, dan bukan calon lagi. Memori di benaknya, yang melatihnya bersabar pada saat pelatihan, diusahakan dibuang jauh-jauh. “Biarlah hanya menjadi kenangan”.

Berambung ke Guru Tak Semua Sama; Kisah La Beddu 3)

 

Tinggalkan Balasan