Guru Pendidik itu Berhak Menghukum

Orang yang bijak adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar dalam hidupnya. Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bagian dari hidup manusia yang harus dijalaninya hingga maut menjemputnya. Karena itu, tidak ada istilah terlambat bagi mereka yang mau belajar.

Guru yang terdidik dan terpelajar adalah guru yang melihat murid-muridnya sebagai intan murni. Guru yang bijaksana adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar sepanjang hidupnya, bahkan murid-muridnya pun dijadikan materi atau guru kehidupan olehnya. Karena sebenarnya, eksistensi guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi harus sebagai pendidik. Betapa banyak guru menganggap para murid-muridnya adalah anak-anak kemarin sore, tidak berpengalaman, tidak tahu apa-apa, dan sangat lugu. Namun, guru sebagai orang tua ke-2 memiliki hak untuk memberikan hukuman mendidik bagi “anak-anaknya”

Memahami makna kata mengajar dan mendidik sebagai suatu hal yang sama adalah keliru. Seorang yang hanya mengajar tidak peduli murid-muridnya mengerti atau tidak. Sebaliknya, seorang yang mendidik, akan mengajar hingga siswa mengerti apa yang diajarkan oleh guru. itulah esensi yang sering diabaikan oleh mereka yang menyandang profesi sebagai guru.

Documen pribadi

Karena teman saya salah menerapkan rumus matematika yang diajarkan hari itu, semua siswa sederet mendapat hukuman. Rambut pelipis kami ditarik dan dicabut. Setelah itu beliau mengatakan, itulah konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang salah. Orang yang salah terkadang tidak mesti menanggung hukuman sendirian. Kesalahan berefek kepada orang yang tidak melakukan kesalahan sekalipun. Belajarlah untuk pahit dan manis bersama. Demikian kalimat beliau yang masih terngiang sampai sekarang. Kami muridnya, tidak pernah kecewa, marah, apalagi dendam kepada guru yang melakukan itu. Justru kami merasa, pesan yang disampaikan dengan kondisi seperti itu sangan berkesan.

Peristiwa yang sudah 15 tahun silam di atas hingga saat ini pun sangat sulit dan bahkan tidak dapat terlupakan. Seiring berjalannya waktu, sekarang kami mulai merasakan dan mengerti maksud semuanya. Betapa susah mengendalikan manusia dengan berbagai kualitas, dan latarbelakang masing-masing. Pantas saja semua Nabi pernah mengembalakan kambing, binatang yang paling susah dikendalikan, ternyata salah satu tujuannya adalah latihan untuk mengendalikan manusia.

Sekarang jauh berbeda. Siswa akan melaporkan gurunya ke pihak berwajib jika mereka mendapatkan hukuman fisik. Dalam hati saya sedih. Mereka adalah pendidik, orang tua kedua kita. Mereka juga manusia yang memiliki nilai kemanusiaan. Guru itu seorang teladan kehidupan, pemikir masa depan, orangtua kedua dari para murid, dan sedangkan murid-murid hanya titipan Tuhan untuk mendapatkan pendidikan formal. Sangat mulia.

Betapa berbeda siswa hari ini. Mereka tidak lagi menganggap seorang pendidik sebagai orang tua mereka. Kemurnian ilmu bagai cahaya seperti hadis Nabi, mestinya didukung terutama dari segi proses transfer pengetahuan. Posisi guru berbeda dengan murid, tidak sama. Guru adalah subjek dan murid adalah objek. Keberkahan pengetahuan bukan hanya berasal dari pengetahuan yang ditransfer, tapi juga wadah tempat menerima pengetahuan itu.

Kerena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ternyata pepatah Melayu ini sangat relevan dalam banyak kasus. Artinya, betapa banyak guru yang merasa tidak melakukan hal-hal yang tidak memposisikan dirinya sebagai subjek, tetapi merasa tercoreng, ternodai nama baiknya, merasa dipermalukan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.

Hanya Tuhan yang tahu…

Tinggalkan Balasan