Guru Ngaji Itu

Saya masih ingat saat kecil dulu. “Nak kalau ditanya, besar nanti mau jadi apa? Jawab, mau jadi guru ngaji dan guru sekolah.” Empat bersaudara, semua diajari seperti itu. Setiap ditanya, iya jawabnya seperti itu. Ternyata itu menjadi doa. Doa yang makbul untuk guru sekolah, namun tidak untuk jadi guru ngaji. Saya merasa gagal.

Guru ngaji hidupnya tenang. Saat guru lain sibuk mencari kelas belajar tambahan untuk syarat sertifikasi guru, guru ngaji didatangi siswa. Saat guru lain sibuk absensi siswa di kelas, guru ngaji tak peduli itu. Mau datang atau tidak urusan kamu! Tanpa absensi dan presensi, siswa guru ngaji tak pernah berkurang malah terus bertambah.

Guru ngaji tak pernah demo ke istana nuntut ini itu. Guru lain sibuk demo nuntut kesejahteraan, namun guru ngaji selalu menganggap hidupnya sejahtera, karena ada keyakinan tersendiri dalam hidupnya terkait rezeki. Hikmahnya, guru tak pernah merasa sakit ditinggalkan saat demo. Pun guru ngaji tak pernah membuat orang kaget dengan kondisi hidupnya.

Guru ngaji tak punya wadah organisasi Persatuan Guru Ngaji Republik Indonesia, namun jangan sepelekan guru ngaji dengan komunikasi massanya. Sekali guru ngaji ngomong, satu kampung bisa terpengaruh. Pun guru ngaji tak pernah deklarasi politis dukung copras capres, karena guru ngaji fokus menjaga al-Quran. Guru ngaji salah satu perpanjangan “tangan” Tuhan menjaga kitabNya.

Tak perlu menggaji guru ngaji! Dulu almarhum orang tua malah marah jika ada orang tua santri yang minta membayar. Kenapa saya sarankan jangan membayar guru ngaji? Jawabnya, senjata kesuksesan guru ngaji adalah keikhlasan. Ikhlas bukan berarti tak butuh materi untuk hidup di dunia, tapi jangan sampai materi itu menciptakan pengaruh terhadap proses santri yang belajar ngaji.

Orang tua dan santri rentan muncul dalam hati kecilnya bahwa dia punya hak diajar karena telah memberi. Biarkan transfer pengetahuan guru ngaji itu mengalir tanpa pencemaran. Kita boleh memberi sesuatu kepada guru ngaji, tapi pemberian itu tak ada hubungannya dengan proses belajar ngaji. Bisa? Kalau tak bisa, jangan memberi. Jangan pula berusaha untuk tak bisa, atau selalu menganggap tak bisa. Jika mendapatkan guru ngaji yang meminta untuk pengembangan pengajian, akomodasi, karena itu biasanya dilakukan tidak serta merta. Intropeksilah diri Anda sebagai objek yang dimintai.

Jika Anda orang tua dan mencari seorang guru ngaji, selain syarat bagus bacaannya, cari guru ngaji yang paling ikhlas. Masih adakah guru ngaji yang ikhlas? Guru ngaji ikhlas akan punah jika kita tak pandai menjaganya. Guru ngaji harus selalu ada, dan guru ngaji ikhlas harus dijaga. Caranya, latih guru ngaji agar tak mencoba meminta. Latih guru ngaji agar tak mudah memikirkan materi hidup. Latih guru ngaji untuk fokus ke santrinya. Caranya, memberilah, telungkupkan tanganmu terhadap guru ngaji.

Mungkin karena itu saya gagal menjadi guru ngaji. Tangan saya masih sering mengadah ke atas. Saya belum bisa ikhlas!