Mengenang Gagasan Cemerlang Jokowi di 2014

Dalam politik, siapa yang berhasil memenangkan permainan isu dialah pemenangnya. Isu yang saya maksud adalah gagasan yang dilempar ke publik, dan gagasan itu menarik perhatian, membuat publik takjub, dan terakhir berpihak. Gagasan sebagai isu oleh banyak orang dianggap janji politik, padahal konteksnya berbeda. Isu lebih dekat pada permainan nalar dan pemikiran sehingga melahirkan keberpihakan. Sedangkan janji mesti dipersyaratkan kesepakatan antara yang memberi janji dan yang dijanji.

Perjalanan politik Jokowi tak lepas dari gagasan cemerlang dan menjadi isu cemerlang yang krusial dan menarik perhatian publik. Setidaknya ada enam poin gagasan cemerlang Jokowi yang berhasil menarik perhatian publik dalam perang isu pemilihan presiden 2014 lalu. Gagasan yang kemudian menjadi isu itu, bisa jadi dikemas oleh orang lain dan bukan gagasan langsung Jokowi, tapi karena yang melempar gagasan itu adalah Jokowi, maka dianggaplah gagasan Jokowi.

Pertama, Indonesia sebagai negara berkembang yang penduduknya gila mobil, hanya tergantung pada mobil Jepang, Korea dan Eropa, muncullah gagasan yang menjadi isu, yaitu Mobil Nasional Esemka. Publik kaget dan terperangah. Ini menarik! Ini layak didukung!.

Kedua, sebagai negara kepulauan yang didominasi laut, seyogyanya transportasi antar pulau yang dihubungkan oleh laut tidak menjadi kendala. Muncullah gagasan tol laut. Menarik dan sangat memancing keberpihakan publik. Bagaimana tol laut itu? Saat gagasan dilontarkan, hal itu tidak diungkap secara detil.

Ketiga, Stop Hutang. Sejak era Soekarno, sampai SBY, semua berhutang. Seolah negara ini tidak bisa berbuat apa-apa tanpa berhutang. Tanah subur, tanam tongkat jadi tanaman yang disokong dengan pajak, tampaknya tak cukup. Untuk rakyat, negara harus berutang. Rakyat pun dibayangi rasa kawatir. Siapa yang akan membayar utang itu. Cerdas, Jokowi dengan lantang berkata, “Stop Hutang.”

Keempat, stop impor! Impor inilah yang menyiksa para petani, karena apa yang mereka usahakan tidak memiliki pasar yang luas karena harus bersaing dengan hasil pertanian dan perkebunan dari luar. Jokowi mampu melihat celah itu. dalam Muktamar PKB 2014, atas nama kedaulatan pangan dan eksistensi para petani, jika saya terpilih, maka impor harus dihentikan. Bak panas terkena semilir angin, masyarakat pasti suka gagasan ini.

Kelima, jangan menaikan harga BBM. Tak perlu! Harga BBM yang tinggi akan membebani dan menyengsarakan masyarakat. Mestinya Pertamina didorong untuk menjadi lebih kuat dari Petronas milik Malaysia.

Keenam, tidak seperti pemerintahan sebelumnya, atas nama uang rakyat kabinet harus ramping seramping rampingnya. Tak boleh rangkap jabatan, dan tak boleh diisi oleh orang partai. Gagasan ini memancing publik berpikir bahwa itu bisa mengakal kolusi korupsi dan nepotisme. Publik terpukau.

Dari semua gagasan cemerlang jokowi tersebut itulah kemudian dianggap sebagai janji politik. (baca: janji politis dalam al-Quran). Bagi penulis, gagasan cemerlang itu lebih dekat kepada permainan isu. Permainan isu dalam kancah politik, itu biasa. Itulah sebabnya, banyak yang beranggapan kalau berbohong adalah hal biasa dalam politik.

Namun, jika dilihat dalam kacamata agama atau etika politik, sepatutnya apa yang diucapkan minimal menjadi janji untuk diri sendiri. Dalam bahasa agama misalnya, hidup dan mati lillah rabbil alamiin. Dalam etika politik juga demikian. Bahwa apa yang udah terucap dari lisan sudah bukan menjadi milik pengucap lagi.

 

Tinggalkan Balasan