Framing, Hoax Tingkat Tinggi

Framing yang saya maksudkan di sini adalah terkait penyajian berita. Apa itu framing? Framing adalah kemasan peristiwa tertentu berdasarkan cara pandang pemberi informasi. Suatu peristiwa dibingkai untuk maksud dan tujuan tertentu. Saat peristiwa disajikan dalam bentuk narasi teks, gambar, atau video, penyaji tidak mengingkari kebenaran secara total. Tetapi menonjolkan beberapa aspek tertentu. Aspek tertentu itulah nantinya yang akan membuat penerima informasi menarik kesimpulan sendiri, dan kesimpulan itu akan sesuai dengan keinginan penyaji.

Definisi framing seperti yang saya utarakan tentu akan sulit dipahami. Perhatikan gambar berikut:

framing media

Dari gambar tersebut, media tidak berbohong dalam menampilkan informasi. Hanya saja, informasi yang ditampilkan dikemas, dibingkai dengan menampilkan sebagian dari peristiwa sebenarnya, sehingga penerima informasi akan mudah memahami dan menarik kesimpulan yang berbeda dengan kenyataan sebenarnya. Sampai di sini tentu mudah dipahami.

Perhatikan video sederhana di bawah ini:

Framing juga kadang dikemas dalam bentuk penyebutan fakta tertentu secara berulang sehingga pandangan publik akan peristiwa akan berbeda. Misalnya, hari raya islam, idul fitri, adalah hari bahagia, hari kemenangan, dan hari yang ditunggu bagi umat islam. Namun karena framing penyebutan hanya pada topik kemacetan, pencurian rumah yang ditinggal mudik, kecelakaan mudik, dll, akhirnya kesan yang muncul bukan hari bahagia, bukan hari kemenangan, bukan hari yang ditunggu, karena persepsi yang muncul dipengaruhi berita menakutkan.

Peran besar media sangat menentukan pandangan publik melalui framing yang dilakukan. Modelnya sangat beragam selain dari model di atas, model framing yang umumnya dilakukan adalah pertama menampilkan pertarungan tak seimbang. Misal, kubu capres 003 berdebat melawan kubu capres 004. Namun media ini mengundang nara sumber dengan kapasitas berbeda. Kubu capres 003 tampil menawan, gagah, cerdas, high level, dst. Berbeda dengan kubu capres 004, nara sumber yang media itu hadirkan, pemarah, penampilan awut awutan, gak biada debat, dst. Apa pandangan publik terkait debat itu? kita akan tahu sendiri.

Model framing kedua, pengambilan hanya dari sudut pandang tertentu. Dalam kasus, seorang penjahat yang ditangkap akibat pembunuhan yang disengaja, tentu akan membuat publik geram. “Hukum seberat beratnya!” Media datang dan memberi framing. Kehidupan dan perilaku baik pembunuh itu disiarkan berulang. Diberitakan, pembunuh itu dermawan, sosial, ramah, suka menolong, dll. Dan itu fakta. Akhirnya framing itu akan meredam amarah publik, bahkan pembunuhan berencana bisa jadi akan dianggap pembunuhan tak direncanakan.

Contoh lain, Framing juga bisa dikemas dalam bentuk pencitraan, yaitu sesuatu yang secara keseluruhan sebenarnya tidak baik, namun mengambil beberapa hal yang baik dari peristiwa itu. Sebaliknya framing juga bisa dilakukan untuk pembusukan. Misal, beberapa media mencoba menframing gerakan 212 yang lalu dengan mengulang ulang informasi rusaknya rumput yang terinjak, informasi dana yang beredar, dan apa saja yang bisa mengubah persepsi publik.

Ketiga, penggunaan narasi terbalik. Faktanya, seorang polisi menembak pengedar ganja. Setelah 3 kali tembakan peringatan, peluru menembus dada hingga pengedar ganja itu tewas. Kalimat dikemas terbalik, “tanpa sempat membela diri di pengadilan, seorang yang diduga pengedar ganja, akhirnya meregang nyawa tertembus timah panas dari peluru tajam oknum polisi.”

Jika hoax didefinisikan sebagai pergeseran dari yang sebenarnya maka framing masuk kategori hoax. Framing yang mengubah kesimpulan publik sehingga berbeda dengan kenyataan sebenarnya, masuk dalam kategori hoax dengan level tingkat tinggi. Bisa dibayangkan, dalam poto penyerang akan dipresepsikan publik sebagai yang diserang, akibat framing yang dilakukan penyaji berita. Bagaimana hari raya kemudian menjadi hari menakutkan, dst.

Era digital, media dan jurnalis akan mendapatkan lawan sepadan melalui media sosial. Netizen melalui media sosial akan menjadi pembentuk framing baru. Karena kekuatan media jurnalis adalah jumlah pengguna, pembaca, penonton dari apa yang mereka sajikan, maka akun media sosial dengan follower jutaan akan dengan mudah melakukan framing dengan gaya mereka sendiri. Gaya framing netizen masih tergolong sederhana. Umumnya dengan kemasan gambar edit dengan caption quote di dalamnya.

Sebagai konsumen berita, kita sebaiknya melakukan tabayyun berlapis dari setiap informasi yang kita dapatkan baik dari media jurnalis maupun dari media sosial. Perang framing akan melahirkan pandangan berbeda. Waspada dengan berita berulang, karena bisa jadi itu bentuk framing dan membentuk hoax baru level tinggi.