Filosofi Ma Kandang

Main gaple di betawi, main domino bahasa indonesia secara umum, dan ma kandang jika di daerah Sengkang dan sekitarnya. Pertama kali mendengar kata ini saya heran, pikiran saya ke ayam, ayam yang dimasukan ke dalam kandang, karena jika dibahasa bugiskan semestinya ma domeng yang artinya bermain domino. Pertama kali saya diajak main domino saya tolak, pikiran saya diajak main di kandang hehehe. Entah dari mana asal usul ma kandang.

Ada sedikit perbedaan antara main gaple dan ma kandang. Gaple menggunakan kartu dari bahan plastik dengan tebal sekitar 1 cm, sedangkan kandang terbuat dari kertas. Jumlah kartu 28. Pun cara bermain sedikit beda. Ma kandang, yaitu menyusun kartu berdasarkan nilai dari jumlah bulatan dalam kartu. Misal 4/4 atau ::/:: turun, maka pemain selanjutnya menurunkan kartu menghubungkan nilai 4 tadi. Misal 4/1 atau ::/●, pemain selanjutnya boleh menurunkan kartu nilai 4 atau 1, dst.

Secara umum ma kandang dimainkan empat orang masing-masing berpasangan. 1 orang masing-masing mendapatkan 7 kartu yang sebelumnya diacak. Pasangan satu berusaha mengalahkan pasangan lain, caranya jika salah satu pasangan menurunkan atau menghabiskan kartunya lebih cepat dibanding pemain lain. Jika kartu terkunci maka pemain yang menang adalah yang memiliki jumlah nilai kartu yang paling sedikit.

Ada filosofi menarik yang saya temukan dari permainan ma kandang ini. Pertama, ma kandang membutuhkan pikiran cepat, perhitungan tepat, dan analisa kemungkinan yang tinggi. Pikiran cepat karena selain memikirkan kecocokan kartu yang kita pegang, pun kita memikirkan kartu yang dipegang teman pasangan kita dalam keadaan lawan menunggu kita menurunkan kartu. Perhitungan diperlukan karena masing-masing pemain memegang 7 kartu dan berusaha menghabiskan dengan cepat. Perhitungan diperlukan jangan sampai kita tidak memegang nilai kartu yang cocok dengan yang sudah turun. Analisa kemungkinan karena kita tidak melihat kartu apa yang dipegang lawan. Kita hanya bisa menilai kemungkinan berdasarkan kartu yang kita pegang, apa yang diturunkan teman dan lawan. Sisanya feeling.

Kedua, ma kandang akan melatih kesabaran dan keegoisan kita. Terkadang kartu yang kita pegang bagus tapi kita harus bersabar karena ada kemungkinan kartu yang dipegang lawan juga bagus. Kita tak boleh egois. Ada opsi pilihan menurunkan kartu yang terbaik buat kita, tapi kita harus mendahulukan teman karena dia lebih potensial menghabiskan kartunya lebih dahulu. Misal, teman pasangan kita turun pertama kali, maka sebagus apapun kartu kita, tak boleh egois, tapi kita harus selalu membuka jalan bagaiman teman pasangan kita selalu bisa turun sehingga dipastikan kartunya akan lebih cepat habis.

Ketiga, ma kandang adalah ajang silaturrahmi. Ma kandang dimainkan di waktu senggang, malam hari atau di acara keluarga saat keluarga yang jarang ketemu berkumpul. Ma kandang menjadi pilihan hiburan yang tepat sekaligus melatih ketangkasan berpikir. Dalam ma kandang tak ada bangsawan, tak ada kaya, tak ada pejabat. Jika kartu yang dipegang tak bisa turun, maka tetap tak bisa. Semua sama, berbaur dalam permainan penuh canda.

ma kandang

Menarik, sehabis ma kandang, pemain dengan profesi masing-masing biasanya menceritakan keluhan, saran dah harapan ke depan. Polisi berbicara masalah keamanan, petani berbicara masalah sawahnya, ustad berbicara masalah agama, dst. Kadang hanya sekedar masalah tanpa solusi. Di tahun politik, mungkin ada baiknya para caleg rajin mengunjungi tempat ma kandang karena di sana banyak aspirasi tak langsung.

Tiga filosofi ma kandang itulah yang membuat saya selalu rindu untuk memainkannya. Banyak pihak nyinyir, katanya itu permainan tak bagus dan kebanyakan judi. Benar bahwa banyak yang berjudi menggunakan kartu domino (kandang), tapi domino hanya alat, karena duduk di tepi jalan saja tanpa alat orang bisa berjudi. A man behind the gun, senjata sekalipun tergantung siapa yang memegang. Alat yang baik jika digunakan buruk hasilnya juga buruk. Sebaliknya, alat yang buruk jika digunakan untuk kebaikan akan jadi baik.