Fenomena Pindah Agama; The Power of “Kelamin”

Fenomena pindah agama sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bangsa dan agama. Ratusan penelitian berbicara tentang hal ini. Hasil penelitian itu tidak hanya dalam bentuk narasi, tapi juga dalam bentuk film. Terakhir, film yang berbicara tentang fenomena pindah agama adalah “La Tahzan”, film dengan judul berbahasa Arab, tapi isinya lebih kepada fenomena sosial secara global.

Pindah agama kembali fenomenal dan mencuat lagi di akhir 2013 dan awal 2014, tak lain karena pilihan Asmirandah, artis yang katanya cantik, menikah secara Islam, membatalkan pernikahan, lalu pindah agama mengikuti suami. Tentu, cerita panjang istri Rivanno ini bukan satu-satunya kisah wanita yang suaminya beda agama, rela berpindah keyakinan, dengan harapan bahagia di depan mata.

Adakah kekuatan lain yang mampu menggoyahkan sebuah keyakinan agama? Jika melihat sejarah perjuangan dakwah para Nabi, Wali, ulama, dan deretan tokoh, ada kekuatan dalam diri manusia yang bisa menggoyahkan keimanan. The power of “Kelamin”, itulah thesa saya untuk sementara. Bahwa ada kekuatan di balik kekuatan kelamin (dalam beberapa tulisan, diungkapkan lebih halus, dengan kata perkawinan), dan bisa memengaruhi keimanan.

Meski tidak detil, kita bisa sedikit melirik dan belajar dari kisah dengan subtopik; Pertama: keberhasilan dakwah Islam tidak lepas dari metode perkawinan.

Sulaiman as, menikahi Ratu Saba, Rasulullah saw menikahi sayyidatina Khadijah, Maulana Ishak menikahi Dewi Sekardadu, putri raja Blambangan, Sunan Ampel menikahi Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Majapahit, adalah sebagian kecil deretan keampuhan dakwah melalui perkawinan. Meski demikian, tidak ditemukan penelitian yang lebih menjurus mengenai power of “kelamin” dari kisah itu, karena perkawinan pun tidak semata-mata masalah kelamin (baca sex).

Dalam sejarah Wajo, pun dikisahkan saat La Maddukkelleng diperintahkan pamannya Arung Matoa la Salewangeng to Tenrirua ikut serta dalam acara pelubangan telinga puteri Raja Bone, La Patau Matanna Tikka. Kebiasaan dalam acara seperti itu, diadakan sabung ayam. Dan pada waktu itu, ayam Arung Pone, kalah. Pengawal tidak menerima kekalahan sehingga terjadi keributan yang mengakibatkan jatuhnya korban dari kedua belah pihak.

La Maddukkelleng menjadi buronan dan mundur ke Wajo. Tahun 1713, dia bersiap merantau ke Kutai. Arung Matoa pamannya bertanya, “aga bokongmu?”, (apa bekalmu?). La Maddukkelleng menjawab, “cappa lila, cappa kawali, cappa katawang, (ujung lidah, ujung badik/ senjata, ujung kelamin/ perkawinan).” Terbukti, La Maddukkelleng kemudian sukses melalui pernikahan dengan Andin Anjang atau Andeng Ajeng putri dari Aji Geger bin Aji Anom Singa Maulana (Sultan Aji Muhammad Alamsyah), sampai dia menjadi Raja Paser tahun tahun 1726–1736.

Kedua; ada hubungan antara Agama dan seksualitas

Jauh sebelum Islam masa Rasulullah saw, bangsa Ibrani masa Ibrahim sebagai millah ajaran Muhammad saw, meyakini bahwa antara keyakinan dan kejantanan (sex) adalah sisi mata uang berbeda tapi tidak bisa dipisahkan. Asumsinya bahwa manusia adalah jiwa dan tubuh yang berhubungan dengan yang Maha Kuasa. Tubuh dengan manifesto fikih dan, jiwa dengan dzikir.

Sepertinya, pandangan itu sekaligus menjadi antitesa ajaran Greek (saingan peradaban kala itu) yang membedakan antara jiwa dan tubuh. Kesamaan lain bisa dilihat dalam ritual sex agama Moche di Peru.

Ketiga: hubungan kejiwaan dengan symbol seksualitas

Di Polmas, terdapat tradisi Saeyyang Pattuddu, yaitu berkeliling dengan naik kuda. Kuda yang dinaiki harus dengan “tomissawe”, yaitu orang yang duduk di atas pundak kuda, plus pawang kuda. Umumnya, kuda yang menari-nari tersebut ditunggangi anak yang baru khatam al-Quran, atau dilakukan pada acara maulid.

Ada hal yang unik. Jika dalam Saeyyang Pattuddu, kuda dinaiki oleh wanita, namun kuda tunggangan enggan berjalan, maka dianggap wanita itu tidak mampu, tidak kuasa, atau tidak cocok dengan kuda itu. Seperti diketahui, kuda adalah binatang yang sering dijadikan simbol kejantanan pria. Artinya ada perbedaan antara satu wanita dengan wanita lain terkait seksualitasnya meski fisiknya sama.

Fenomena pindah agama pun tidak monoton. Wanita tidak mutlak kalah (mengikuti) keyakinan pria, seperti yang tersirat dari Saeyyang Pattuddu. Power of “kelamin” individu yang satu bisa jadi berbeda dengan yang lain, power wanita yang satu dengan wanita lain. Demikian pula power pria satu dengan pria lain, dan bisa pula seimbang.

Ringkasnya, siapa yang memiliki power of “kelamin” lebih dari pasangannya, dialah berpotensi menguasai. Perbedaan power masing-masing pasangan ini, bisa kita pelajari dari kisah dan sejarah Wali Songo, M Farmidji Zantman (ayah Asmirandah), dan Masyitah Istri Firaun.

Salam bahagia