Fenomena Modus Operandi Bisnis Ibadah Haji

“Pekerjaan ini gampang kok, modalnya keberanian, bahasa Arab ‘am, dan sedikit kemampuan komunikasi sosial. Mendapatkan uang gampang. Sederhana, memanfaatkan ketidaktahuan mereka (jamaah) di sana”.

Demikian kata teman sekolahku sewaktu di madrasah dulu. Dia termasuk siswa terbaik, kemudian mendapat beasiswa melanjutkan studi ke Mesir. Beberapa tahun kemudian, pulang ke tanah air, dan membuat orang tuanya sedikit kecewa. Pasalnya, harapan pulang dari Mesir akan menjadi ulama atau minimal cendekia, malah menjadi pebisnis haji.

Tulisan ini tidak menyoroti masalah bisnis, karena aktifitas bisnis adalah sah-sah saja. dalam kaca mata Islam, aktifitas bisnis atau wirausaha merupakan sunnah.

Dalam sejarah islam, Rasulullah sendiri adalah seorang seorang yang “mengawali karir”-nya sebagai pebisnis tulen, selalu mengedepankan sifat amanah dan kejujuran dalam setiap aktifitas bisnis.

Namun, sulit merasionalkan apalagi dalam paradigma hukum islam, jika yang dibisniskan tersebut adalah pelaksanaan ibadah haji. Di satu sisi mungkin dirasakan manfaatnya oleh jemaah.

Sementara jika dilihat dari sisi lain, ternyata penuh dengan kebohongan dan tipu muslihat dalam pelaksanaannya. Parahnya lagi, aksi tersebut ternyata dilakukan oleh orang-orang yang mengaku paham dengan hukum serta pelaksanaan ritual haji sendiri (salah satu contoh, kasus di atas).

Bisnis haji ini memang suatu usaha yang sangat menggiurkan bagi pecinta dollar tanpa pajak (tentunya belum dengan dosanya), apalagi bagi yang sudah sangat berpengalaman. Strategi dan rencana pelaksanaan ditetapkan jauh-jauh hari, bahkan untuk musim haji tahun depan, palaning-nya tahun kemarin.

Selain bisnis perjalanan haji yang umumnya sudah dikuasai oleh beberapa pihak, ternyata ada lagi bisnis besar yang menyangkut dengan pelaksanaan ibadah haji setelah jemaah sampai di Saudi Arabia. Bisnis ini dilaksanakan berasal dari dua modus operandi.

Pertama, ketika masih di tanah air. Para pebisnis, menawarkan paket-paket komplit diantaranya; 1) kemudahan berangkat cepat. Membludaknya jumlah para calon jamaah haji menyebabkan penetapan kuota pada tiap-tiap daerah. Hal ini kemudian dimanfaatkan dengan mendaftarkan jamaah di daerah lain yang memiliki kuota yang lebih sedikit pendaftarnya.

Biasanya daerah minoritas muslim, atau provinsi pemekaran. Iming-iming berangkat tahun depan misalnya, dengan mudah pebisnis akan memainkan harga untuk calon jamaah. 2) Kemudahan pengurusan administrasi; kalau melalui jalur formal Kementerian Agama, pengurusan administrasi bagi calon jamaah akan dibawa sendiri. Beda dengan pebisnis haji, sampai urusan poto, mereka akan mendatangi calon jamaah. 3) Iklan layanan terbaik ketika di tanah suci nantinya. “hanya nyawa yang saya tidak jamin di sana”, demikian slogan bisnis temanku. Bagi masyarakat yang tidak mengerti pelayanan semestinya (misalnya aturan pembagian hotel) di sana, akan mudah terbujuk dan terpengaruh.

Kedua, ketika berada di tanah suci. Berdasarkan cerita cara kerja temanku tadi, beberapa cara menggarap jemaah haji adalah, dengan menawarkan jasa penyembelihan dam haji tamattu’, qurban dan haji badal. Dia terkadang berani memberikan tarif dibawah tarif rata-rata, bahkan dibawah tarif resmi bank sekalipun.

Sebagai contoh, jika pihak resmi memasang harga untuk seekor kambing dam haji tamattu’ dan qurban sebesar 350 riyal, dia malah mematok harga hanya 300 riyal. Iming-iming murah ini cukup menggiurkan para jamaah yang berpikiran serba irit. Akhirnya tanpa disadari jemaah itupun menjadi korban sindikat tersebut. Ketika terjerat dalam jebakan, dengan mudah para jamaah mengikuti permainan dari pebisnis tadi.

“saya pernah membawa serombongan jamaah kesebuah gundukan pasir, dan mengatakan disinilah Nabi pernah bla bla. Jika kalian berminat naik ke bukit itu, bayarnya sekian”. Cerita temanku. Inilah salah satu lanjutan dari jebakan tadi

Harapan pengetahuan jamaah untuk pelaksanaan maupun perjalanan sangat dituntut untuk selalu ditingkatkan, sehingga praktik penipuan berkedok ibadah, tidak lagi menghiasi ibadah di tanah yang suci. Tidak bisa dipungkiri, dari satu sisi sangat membantu meringankan ibadah mereka.

Seorang kakek bahkan menangis haru ketika dala sebuah perhelatan bertemu dengan pebisnis haji, yang “mengerjainya” di tanah suci dulu. Hal ini fakta.

Peningkatan pelayanan formal pemerintah dan promosi berkesinambungan yang sesuai dengan fakta, juga sangat dinantikan. Fakta jamaah kelaparan, jamaah terlantar sebaiknya tidak terdengar lagi. “lebih baik rugi materil, daripada terlantar di sana, dan pelayanan tidak baik”. Lagi-lagi kalimat ini tidak asing dan fakta.

5 Comments

  1. salmananabaMei 9, 2012 at 23:45 

    hehe……sampai sampai sepupu juga sudah hampir sepuluh tahun di mesir sampai sekarang belum selesai karna sibuk dengan bisnisnya………..orang tua semua kecewa…….

  2. MushlihinMei 10, 2012 at 05:24 

    hahahahha, paling pulang bawa hajar jahannam….hahaha

  3. ajirMei 10, 2012 at 06:10 

    yah… mungkin ada praktek seperti itu, kalau kita mau husnudzan ada juga yang baik-baik, coba bayangkan kalau tidak ada jasa pelayanan hajji seperti teman anda itu. komunikasi dengan ketua kloter saja susah, di daerah bahasa indonesiapun susah.

  4. bunyaminMei 11, 2012 at 10:01 

    slahnya di mana ?

  5. MushlihinMei 14, 2012 at 15:27 

    saya kira sudah jelas 😀

Tinggalkan Balasan