Kenapa Masyarakat Lebih Memilih Metode Hisab?

Sebagai masyarakat awam, untuk memutuskan metode yang lebih bagus hisab atau rukyah, bisa menelusuri dari akar masalah Hisab dan Rukyah yang berkembang di Indonesia. Bahwa perbedaan begitu tampak terjadi antara ormas Islam satu dengan yang lain, dan mencuat pasca reformasi. Selain karena belum adanya kesepakatan terhadap metode apa yang akan digunakan untuk penetapannya, di dalamnya juga terdapat kepentingan politis organisasi.

Pemaknaan nash dan ragam interpretasi membuat masyarakat bingung. Nahdhatul Ulama dan Hizbut Tahrir sama-sama menggunakan rukyah, namun berbeda dalam memulai awal Ramadan dan Syawal.

Perbedaan itu dari masalah Wilayah al-Hukmi dan rukyah global yakni bila bulan sudah terlihat di suatu negara maka wilayah negara lainnya wajib mengikutinya. Sedangkan kelompok lain semisal Muhammadiah, menggunakan metode hisab.

Kebanyakan masyarakat tanpa melihat identitas kelompok, memilih jalan menetukan awal pelaksanaan ibadah dari dua metode tersebut dengan mengembalikan kepada pemerintah sebagai bentuk ketaatan selain Allah dan RasulNya.

Ijtihad mengembalikan kepada pemerintah adalah kepasrahan terhadap kurangnya sarana, alat dan pengetahuan. Namun ada beberapa faktor sehingga masyarakat yang awalnya ikut kepada keputusan pemerintah akhirnya bergeser mengikuti metode lain suatu kelompok.

Faktor tersebut, yaitu; Pertama: dalam menetukan awal Ramadhan, pemerintah terkesan lamban dan lebih mengutamakan formalitas sidang isbat. Padahal hasil dari hisab dari berbagai titik di daerah telah diketahui sekitar jam 6 sore, dan sudah bisa langsung dirilis tanpa embel-embel sidang isbat.

Bagi masyarakat pulau Jawa, hal ini bukanlah masalah berarti berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia bagian timur. Jika sidang isbat dilaksanakan jam 8.00 waktu Indonesia bagian barat, maka di wilayah Makassar dan sekitarnya sudah jam 9.00, dan belum memperhitungkan durasi pelaksanaan rapat. Akhirnya terkadang pelaksanaan shalat malam (tarawih) jauh malam.

Kedua: pelaksanaan sidang isbat dengan mempertemukan para ulama dari berbagai organisasi, beradu argumen rasional, hanya menjadi ajang perdebatan atau paling tidak cuma silaturrahim saja. Padahal, keputusan sudah dipegang oleh kementerian agama sebagai pelaksana. Artinya sidang isbat hanyalah formalitas belaka.

Hal ini membuat sebagian masyarakat jengah dan tak mau mengambil peduli dan akhirnya lebih mengikuti keputsan penetuan awal ramadhan melalui metode hisab.

Seyogyanya masalah ini tidak stagnan pada persoalan keyakinan semata, dan membiarkan kelompok-kelompok mayoritas dan minoritas mengeluarkan ketetapan secara intern.

Metode hisab

Kedua faktor penyebab sehingga masyarakat lebih memilih metode hisab tersebut, sebaiknya dijadikan pertimbangan oleh pemerintah.

Banyak masyarakat sudah memberikan otoritas penuh kepada pemerintah sebagai daulah dalam masalah hisab dan rukyah, namun cara dan mekanisme penetapan membuat sebagian masyarakat akhirnya bergeser ke metode lain.

1 Comment

  1. KhushairiReplyJuli 8, 2013 at 09:58 

    Tahun ini, sidang isbat pukul 18.00 jadi tarwih nya tidak jauh malam 🙂

Tinggalkan Balasan