Empat Bukti Ketinggian Ilmu Ali bin Abi Thalib ra

Ada banyak sahabat yang berada di sekitar Nabi saw, beriman, dan wafat dalam keadaan beriman. Dari mereka, memiliki keahlian masing-masing. Namun, jika ditanyakan, siapa sahabat Nabi saw yang paling tinggi ilmunya, dan apa buktinya?, maka tak perlu pemilihan langsung atau pemilihan via DPRD yang harus menjawabnya. “Saya adalah kotanya ilmu pengetahuan, dan Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya”, sabda Nabi saw.

Penegasan Nabi saw akan ketinggian ilmu Ali bin Abi Thalib adalah sabda, dan itu pasti benar adanya. Sabda dari lisan suci bukan pepesan kosong, karena dalam narasi panjang sejarah para sahabat, terbukti ketinggian ilmu suami Fatimah az-Zahraa, putri Rasulullah saw. Berikut beberapa bukti ketinggian ilmu Ali bin Abi Thalib yang sempat didapatkan penulis;

(Baca juga: Kisah dua khalifah yang kalah di pengadilan)

Pertama: Pernah suatu ketika, dalam suatu daurah para sahabat, mereka membincangkan mengenai huruf “alif” huruf pertama dalam deretan huruf Hijaiyyah. Huruf alif adalah huruf yang paling banyak dalam al-Quran. Huruf alif adalah huruf yang tak pernah sukun (mati). Di akhir perbincangan, sahabat menyatakan, sangatlah sulit berbicara tanpa menggunakan huruf alif.

Tidak bagi Ali bin Abi Thalib. Mendengar hal itu, dia berdiri, lalu berbicara dengan pembicaraan penuh hikmah, rentetan kalimat 700 kata dan 2745 huruf yang sarat dengan pengetahuan tauhid, dan hebatnya, dari apa yang dikatakan satupun tidak menggunakan huruf alif.

Kedua: Pernah suatu ketika, ayah dari Hasan dan Husain ini memberikan khutbah pada acara walimah, acara pernikahan anak dari sahabat Nabi yang lain. Penyampaian khutbah yang sarat makna, terangkai dalam kalimat seperti syair yang isinya keindahan pernikahan, dan pesan bagi kedua mempelai.

Semua yang hadir terdiam mendengarkan khutbah tersebut, dan tak ada yang mengira kalau rangkaian kalimat dalam khutbah itu, sama sekali tidak menggunakan satu huruf yang memiliki titik, seperti huruf ba, ta, tsa, dll. Ini diketahui, setelah beberapa ulama menulis ulang isi khutbah itu, diantaranya, Muhammad Rida al-Hakimi, Sayyid al-Musawi, dan ulama lainnya.

Ketiga: Khalifah Umar bin Khaththab ra, khalifah kedua dalam sejarah Islam, pernah didatangi sekelompok pendeta. Mereka berkata “Hai Umar, Anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepadamu. Jika kamu dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.”

Dengan kalem Umar menjawab, “Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan.”

Para pendeta memberikan 10 rangkaian pertanyaan sekaligus. 1) Jelaskan kepada kami tentang gembok utama yang mengunci langit? 2) Apa yang dimaksud kuburan yang berjalan bersama penghuninya?: 3) Makhluk apa yang memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan pula dari bangsa jin? 4) Ada lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya. Makhluk apa itu? 5) Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh saat berkicau? 6) Apa yang dikatakan ayam jantan saat sedang berkokok? 7) Apa yang dikatakan kuda saat meringkik? 8) Apa yang dikatakan katak saat bersuara? 9) Apa yang dikatakan keledai saat meringkik? 10) Apa yang dikatakan burung pipit saat berkicau?

Mendengar petanyaan beruntun itu, Khalifah Umar ra menundukkan kepala berpikir keras. Belum terlontar sepatah kata pun, para pendeta meledek “Jika kamu tak mampu menjawab, itu adalah wajar, karena agamamu bukanlah agama yang benar”.

Salman al-Farisi, salah seorang sahabat Nabi saw menyaksikan kejadian itu berlari menemui Ali bin Abi Thalib ra. Saat bertemu, dia memohon “Ya Abul Hasan, selamatkanlah agama Islam!”, lalu menceritakan kejadian yang menimpa Umar ra.

Bersama Salman, Ali berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, dan ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib ra datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: “Ya Abul Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!”

Lalu Ali bin Abi Thalib meminta para pendeta mengulang pertanyaan, dan dengan sigap menjawab; 1) Gembok utama ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika syirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah. Anak kuncinya adalah syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, 2) Kuburan yang berjalan bersama penghuninya adalah ikan hut yang menelan Nabi Yunus as putera Matta. Nabi Yunus as dibawa keliling tujuh samudera, 3) Makhluk yang memperingati bukan dari bangsa jin dan manusia adalah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud as. Semut itu berkata kepada kaumnya: “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar” (QS. An-Naml), 4) Makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya adalah Adam, Hawa, Unta Nabi Shaleh, Domba Nabi Ibrahim, dan Tongkat Nabi Musa yang menjelma menjadi seekor ular.

Baru mendengar 4 jawaban Ali bin Abi Thalib saja, sontak membuat tiga pendeta Yahudi mengucapkan dua kalimat syahadat.

Keempat: saat Nabi bersabda “Akulah kota ilmu dan Ali-lah gerbang utamanya”, beberapa orang merasa iri, dan tercipta di hati mereka kebencian mendalam pada Ali bin Abi Thalib ra. Muncullah pemikiran makar, untuk menguji apa yang dikatan Nabi saw tersebut. Dikumpulkan sepuluh orang paling pintar di antara mereka, dan sepakat memberikan masing-masing satu pertanyaan yang sama kepada Ali bin Abi Thalib ra. Mereka meminta kepada Ali bin Abi Thalib ra menjawab pertanyaan mereka dengan alasan berbeda satu sama lain.

Maka bergantianlah para pemikir datang menghadap bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra. Pertanyaan mereka seragam, yaitu “Mana yang lebih utama, ilmu atau harta?”. 10 orang bergantian mendapat jawaban dari pertanyaan itu, dan 10 jawaban semuanya sama, bahwa ilmu lebih utama dari harta, tapi jawaban itu dengan alasan yang berbeda. Berikut alasan Ali bin Abi Thalib ra atas jawaban pertanyaan itu.

1) Ilmu adalah warisan para nabi sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syadad, dan Firaun; 2) Harta itu harus dijaga olehmu sedangkan ilmu akan menjagamu; 3) Pemilik harta itu akan mempunyai musuh yang banyak, sedangkan pemilik ilmu mempunyai teman yang banyak; 4) Jika engkau menggunakan harta itu maka harta itu pun akan berkurang, sedangkan jika ilmu yang kau punyai kau gunakan maka ilmumu akan bertambah; 5) Pemilik harta paling sering dipanggil dengan sebutan si kikir dan sebutan yang tercela, sedangkan pemilik ilmu dipanggil dengan nama keagungan dan kemuliaan; 6) Harta itu harus dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak perlu dijaga darinya; 7) Pemilik harta itu akan dihisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan diberi syafa’at pada hari itu; 8) Harta akan menyusut dengan lama disimpan dan dimakan waktu, sedangkan ilmu takkan pernah aus dan takkan pernah binasa; 9) Harta itu dapat mengeraskan hati, sedangkan ilmu dapat menerangi hati; 10) Pemilik harta suka mengakui dirinya sebagai raja, sedangkan pemilik ilmu mengakui dirinya sebagai seorang hamba.

Empat bukti ketinggian ilmu Ali bin Abi Thalib ra diakui jumhur ulama terlepas dari perdebatan teologi, Sunni, Syiah, dan Khawarij (baca: Sunni Syiah masih saudara). Bagi kita, cukuplah ketinggian ilmu Ali bin Abi Thalib ra dijadikan tauladan, motivasi, penambah semangat, dan pengagungan terhadap ilmu pengetahuan. Karena mengetahui ketinggian ilmu seseorang dengan bukti, bisa memberi motivasi kepada kita, menggerakkan, atau minimal sebagai bahan sugesti bahwa apa yang kita ketahui hari ini masih perlu ditambah, dan terus dirambah lagi. Apalagi kalau tokoh tersebut sekaligus sahabat baginda Nabi saw (baca juga: syarat sukses Ali bin Abi Thalib).

Salam bahagia

Rujukan: Sahih al-Tirmidzi, al-Manaqib, jilid V, Hadis Nomor 3723, Muhammad Rida al-Hakimi, Saluni Qabl an Tafqiduni, jilid II, Murtadha al-Huseiniy al-Faruz Aabaad, Fadha’il al-Khamsah Min as-Shihah as-Sittah

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend