Eksistensi Gay; Serahkan ke Tuhan Saja

Gay adalah kata yang berarti seorang laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki lain, seorang laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki atau atau laki-laki yang mencintai laki-laki baik secara fisik, seksual, emosional ataupun secara spiritual.

Eksistensi gay seakan tak lekang dimakan zaman, selalu saja muncul dalam variasi berbeda. Sejarah adat berbagai daerah di Indonesia juga tak luput dari kehadiran gay. Semakin modern, variasi gay mengikuti jaman, dari istilah banci, bencong dan berubah menjadi kemudian sedikit lebih lembut dengan istilah transgender. Memang tidak semua istilah yang disebutkan kemudian berperilaku gay, tapi beberapa penelitian menunjukan dari sinilah kemudian cikal bakal gay muncul.

2008 lalu, Siti Musdah Mulia, salah satu guru besar UIN Jakarta mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam. Tentu pernyataan ini mengundang reaksi keras waktu itu, karena dalam Islam, semua ulama sepakat bahwa gay sebagai.

Menghadapi Eksistensi Gay?

Fenomena penyimpangan seksual khususnya gay, telah muncul pada masa Nabi Luth yang diutus untuk kaum Sadoum (nama kaum yang diambil untuk istilah sodomi). Beberapa ayat dalam al-Quran mengungkapkan hal itu. Semua secara jelas mengutuk dan melaknat praktik gay karena bertentangan dengan kodrat dan kenormalan manusia. Terbukti, eksistensi gay dibahas beberapa kali dalam surah berbeda.

Dalam Bibel juga disebutkan eksistensi gay sebagai ibadah kafir dan lazim dikenal dengan istilah “pelacuran kudus.” Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus (Perjanjian Baru, Roma 1: 26-27). Dan masih banyak pernyataan lain seputar gay dalam Bibel.

Yang menarik, dalam sejarah agama, tak satupun Nabi ketika diutus untuk menghadapi kaum ini mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, termasuk Nabi Luth terhadap kaum Sadoum. Perilaku gay menjadi masalah yang sepertinya hanya bisa diatasi dengan azab Tuhan. Mungkin… Bisa diperhatikan dalam arti ayat berikut ini; ketika Luth as, sekuat mungkin memebri peringatan kepada para gay, namun mendapat perlawanan dari mereka, lalu;

Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (al-Ankabut 30).

Demikian pula dalam surah Hud ayat 76 Luth berkata: “Seandainya Aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau Aku dapat berlindung kepada keluarga yang Kuat (tentu Aku lakukan).”

Semua kisah dalam al-Quran di dalamnya terdapat pelajaran berharga. Dari rangkaian kisah Luth as dalam menghadapi fenomena gay, tersirat kalau kedurkahaan gay hanya bisa dibalas dengan azab dari Tuhan, dan berakhirnya perilaku gay bukan dari peringatan, tapi kebinasaan dari azab Tuhan.

Sumber: www.huffingtonpost.com

Bisa jadi. Hal ini pula mungkin menginspirasi Paus Francis dalam peringatan Pemuda Dunia di Rio, ketika ditanya oleh wartawan yang hadir tentang eksistensi gay di Prancis, sang paus kemudian berkata, “Siapakah aku yang berhak menghakimi seorang gay?.” Menurut Wall Street Journal, komentar Paus tentang gay datang dalam konteks pertanyaan tentang gay para imam di gereja. “Kita tidak punya hak untuk tidak lupa,” katanya lagi.

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend