Debat Capres 2019 Tidak Mendidik?

Debat capres perdana 2019 dimulai semalam dengan topik pembahasan korupsi dan terorisme. Apakah debat capres 2019 tidak mendidik? Tulisan ini tidak akan membahas topik debat itu, tapi akan melihat proses debat capres secara keseluruhan. Karena debat capres merupakan amanat undang-undang nomor 7 tahun 2017, maka sudah menjadi kewajiban KPU melaksanakan debat itu. Anggaran tentu tidak sedikit. Namun demi demokrasi berkualitas, nilainya diharapkan lebih besar dibanding dengan anggaran yang dikeluarkan. Nilai yang berharga untuk semua aspek termasuk pendidikan.

Cara mendidik terbaik adalah memberi keteladanan. Peserta didik sebagai objek dan subjek akan lebih mudah menarik kesimpulan, memahami, mengikuti, dan melakukan hal yang bersumber dari perilaku. Perilaku itu akan menjadi teladan jika semua elemen membenarkannya. Masyarakat sudah menyerahkan mekanime debat capres sepenuhnya kepada KPU, maka semua alur proses akan menjadi perilaku yang bisa diteladani. Maka seyogyanya, proses debat capres memberikan tayangan perilaku yang layak ditiru.

Dalam debat ada masalah yang akan diperdebatkan. Apa masalahnya? Itu yang jadi masalah bagi yang tak mengerti masalah. Mungkin inilah sebabnya kisi-kisi topik yang menjadi pertanyaan diberikan kepada peserta debat capres 2019 lebih awal. Ketua KPU, sudah menjelaskan bahwa salah satu tujuannya adalah menghindari potensi peserta debat dipermalukan. Pertimbangannya, bahwa salah satu dari kedua pasangan calon akan menjadi presiden.

Debat capres 2019 bukan ujian di sekolah, bukan ujian siswa. Konteksnya beda. Debat capres lebih dominan memberikan pemahaman mengenai siapa pasangan calon presiden dan calon wakil presiden peserta debat. Debat capres diharapkan memberikan gambaran sikap, tekstur, pengetahuan, visi misi, dll. Intinya, debat capres adalah tarung drajat. Berbeda dengan ujian di sekolah. Ujian di sekolah selain uji pengetahuan, di sana bisa menjadi syarat kelulusan dalam sebuah jenjang. Maka, pemberian kisi-kisi apalagi bocoran soal tak laik dilakukan.

Layak kah memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat capres 2019? Bagi saya layak dan pantas. Hanya saja, publik harus paham bahwa ini bukan seperti ujian siswa di sekolah. Menjadi menarik, ketika moderator memperlihatkan bahwa soal debat masih tersegel, namum kamera di sisi lain menayangkan peserta debat yang siap dengan catatan jawabannya. Logikanya, kalau soal sudah diketahui peserta debat, lalu buat apa disegel? Kalau soal tidak diketahui, lalu dengan apa peserta debat membuat jawabannya dalam catatan? Sialnya, hal ini disimak jutaan manusia yang yang sebagian dari mereka masih menempuh proses pendidikan. Ada hal yang berpotensi memberikan nilai yang tidak mendidik dalam proses ini. Mereka masih SMA, mahasiswa, atau mereka yang masih terus belajar.

Pertama, dengan mudah mereka akan beranggapan kalau kualitas peserta debat jauh di bawah mereka. “Kami ujian tanpa kisi-kisi kok”. Anggapan ini akan melahirkan kesombongan. Lebih parah lagi, rasa hormat kepada pemimpin negara kelak akan semakin terkikis. “Ah, kamu rejeki mu aja jadi presiden. Debat saja nggak bisa”. Bukankah narasi seperti ini adalah hasil dari sesuatu yang tidak mendidik?

Kedua, dengan melihat proses debat, publik akan mudah mecurigai kualitas penyelenggara dari sisi pemanfaatan anggaran. Pemberian informasi pengetahuan mengenai peserta debat justeru tidak dalam. Proses debat terkesan hanya sandiwara saja. Tarung drajat antar paslon hilang, karena peserta debat sudah siap dengan jawaban berdasarkan kisi-kisi yabg diterima. Hal ini akan melahirkan rasa pesimis di masyarakat. Karena masyarakat ingin melihat calon presiden mereka lebih dalam. Momennya adalah debat capres.

Ketiga, peserta didik akan membandingkan debat yang mereka lakukan di sekolah. Debat terbuka tanpa bocoran soal, dan saling memperlihatkan kemampuan masing-masing. Mereka akan kecewa, karena mereka tahu yang mereka lakukan adalah proses belajar menghadapi perdebatan yang lebih besar kelak. Adakah debat yang lebih besar konteksnya dari debat capres di negara ini? Lalu kenapa debat yang kami pelajari kualitasnya lebih seru? Buktinya kami tanpa bocoran apapun!

Sepertinya tugas guru akan bertambah. Pemikiran peserta didik tentang debat harus diinstall ulang. Harus ada pengetahuan baru kepada mereka mengenai macam-macam debat dan bentuk pelaksanannya. PR pertama, masyarakat harus paham bahwa debat capres bukan ujian siswa di sekolah. Konteksnya beda!

Masyarakat dan penyelenggara debat capres semestinya juga memerhatikan waktu tayang debat. Debat capres lebih efektif dari sisi pendidikan jika dilaksanakan mulai pukul 23.00 sampai selesai. Waktu yang sudah larut, maka yang akan menyaksikan, mereka yang betul-betul butuh informasi mengenai debat itu. Terkait itu, pengawasan media sosial juga penting, terkait berita hoax, pemberitaan yang tidak utuh, video dipangkas, dll.

Apakah debat capres 2019 tidak mendidik? Sebagai guru saya merasakan itu…

Tinggalkan Balasan