Cara Membedakan Berita Hoax dan Asli Situs Online

Maraknya berita hoax menjadi ujian berat era millenial. Berita hoax dengan mudah disiarkan melalui situs online baik itu situs berita maupun media sosial. Olehnya itu, diperlukan pengetahuan cara membedakan berita hoax dan asli situs online.

Dengan pengetahuan itu diharapkan kita lebih jeli yang mana berita yang pantas dishare dan tidak. Mengetahui berita hoax dan asli situs online, pun sedikit banyak menghindarkan kita dari jerat Undang Undang ITE.

Sebelumya, perlu diketahui bahwa berita hoax identik dengan berita bohong, meski sebenarnya terdapat sedikit perbedaan. Hoax adalah fakta yang dipelintir dengan membuat framing khusus sehingga menggiring pandangan pembaca yang berbeda dengan kejadian sebenarnya. (Baca: hoax dan bohong)

Dari perbedaan berita hoax dan bohong, kesimpulan utamanya adalah berita itu tidak benar dan tidak layak untuk dibagikan kepada orang lain, karena perbedaan pandangan yang dihasilkan mengakibatkan hal negatif.

Tahun 2018 terdapat 34.000 situs berita online, dan yang sudah memverifikasi komisi penyiaran hanya 300 an situs berita. Artinya puluhan ribu situs media berita berpotensi sebagai sumber hoax. Makanya perlu cara mengetahui yang mana berita hoax dan asli.

Bentuk situs online yang memposting berita hoax bermacam-macam. Ada dalam bentuk web berita, halaman facebook, status/ post media sosial, video, dll. Tujuannya juga beragam; ada yang murni menebar hoax untuk kepentingan tertentu, politik misalnya, ada juga untuk mengejar target view situs onlinenya.

Cara Membedakan Berita Hoax dan Asli Situs Online

Pertama, Ciri pertama web berita yang menampilkan berita asli adalah bukan web gratisan. Cara mengetahuinya dengan memeriksa URL situs. Misal: URL nya cukkaulu.blogspot. com itu adalah web gratisan blogger blogspot milik google.

Logisnya, situs berita berbayar mencerminkan kesungguhan dan keseriusan dari pemilik situs tersebut untuk menampilkan berita yang valid.

Argumen logis berikutnya, situs gratisan bisa dibuat oleh siapa saja dan sulit dipertanggungjawabkan, siapa pemilik dan pengunggah berita dalam situs itu. Berbeda dengan situs berita berbayar, jejak digitalnya jelas. Domain dari mana dan server di mana, jelas.

Meski demikian, bukan berarti semua informasi dari situs gratisan menebarkan berita hoax. Bisa jadi itu berita asli. Maka perlu cara mengetahui berita hoax dan asli dengan langkah berikutnya.

Kedua, situs berita, halaman, atau tempat memuat berita dilengkapi dengan halaman privacy policy, disclaimer, dan kontak yang jelas. Isi halaman memuat aturan dan ketentuan situs itu seperti apa dan yang bertanggungjawab siapa.

Misal anda mendapat berita heboh, mengejutkan, fantastis, menggembirakan, dll, cek tempat Anda mendapatkan berita itu. Adakah halaman disclaimer, privacy policy dan kontak. Ini penting karena siapa sangka, ketentuan dari situs tersebut menyebutkan bahwa semua berita dalam situs itu adalah khayalan. Bisa? Bisa! Artinya, jika Anda membagikan, berarti Anda membagikan berita khayalan bukan?

Jika Anda tidak menemukan halaman yang dimaksud atau halaman tersebut ada tapi tidak menjamin keaslian beritanya sendiri, maka keaslian berita dalam situs tersebut juga dipertanyakan.

Ketiga, berita isinya bukan opini. Situs berita hanya mengungkapkan kejadian apa, di mana, kapan, bagaimana, siapa. Tidak ada pendapat penulis berita di dalamnya. Artinya, tentu dalam berita asli tidak ada konten provokatif baik pada judul dalam isinya.

Misal, judul berita, “wah ternyata presiden begini…” kata ternyata dalam kalimat judul tadi adalah opini penulis dan berbau provokatif. Karena kenyataan dalam berita adalah konten itu sendiri, tak perlu mengungkapkannya agar pembaca terprovokasi. Biasa juga dalam berita hoax ada ajakan memviralkan. “Bagikan.” Dll.

Keempat, berita asli itu bukan saduran. Banyak situs berita menyadur dari situs berita sumber. Apakah menyadur dibolehkan? Boleh. Hanya saja, kadang saduran yang dihasilkan memunculkan perspektif baru dan itu sifatnya opini.

Tambahan hasil berita saduran biasanya dalam judul, awal dan akhir konten. Bahkan banyak situs berita hanya menyadur berita sumber sebagian saja sehingga menyimpang dari kenyataan sesungguhnya.

Misal dalam berita sumber tertulis, “sebelum Romi ditangkap, terjadi aksi kejar-kejaran dengan petugas KPK.” Setelah disadur oleh situs hoax, KPK disudutkan sehingga sumber diubah menjadi, “KPK tak sigap menangkap koruptor, terbukti Romi sempat lari dan dikejar petugas KPK.” Bisa juga Romi yang disudutkan, “ternyata Romi tidak menunjukan itikad baik, terbukti terjadi aksi kejar-kejaran saat akan ditangkap KPK.”

Apapun bentuknya, hasil saduran itu menghasilkan pandangan baru pembaca, dan itu hoax. Padahal kejadian asli yang termuat dalam berita sumber tidak mengilustrasikan seperti opini penyadur.

Jika menemukan berita di situs online dan menyebutkan bahwa sumbernya dari situs lain, maka bacalah berita dari sumber tempat berita dikutip agar kita membaca berita asli dari sumber pertama.

Kelima, apabila situs berita yang dimuat memiliki gambar maka keaslian gambar bisa menjadi rujukan keaslian berita, kecuali jika gambar hanya pemanis atau ilustrasi.

Cara mengecek gambar asli adalah dengan melalui google image. Masukan gambar di sana, maka hasil pencarian google image akan mengarahkan kita ke sumber pertama gambar. Sisa mencocokan, apakah gambar yang dimaksud sesuai dengan berita yang dimuat.

Misal berita penembakan teroris di Selandia Baru, dengan melampirkan gambar korban, namun setelah dicek ternyata gambar korban yang ada adalah gambar korban perang Suriah, maka berita tersebut adalah hoax.

Jika Menemukan Konten Berita Hoax

Saya pun pernah terjebak berita hoax akibat kurang tabayyun dan kurang klarifikasi secara online. Artinya, halaman kontak dan mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas suatu berita menjadi penting, karena di sanalah kita akan klarifikasi.

Jika cara mengetahui berita hoax dan asli situs online sudah dilakukan dan menemukan konten hoax, maka cukup laporkan secara online saja.

Bagi saya tak perlu langkah hukum, kecuali konten berita hoax tersebut sudah sangat merusak dan viral sehingga memerlukan penanganan hukum yang cepat dari aparat.

Untuk situs online bisa melaporkan ke google dmca. Untuk status facebook dan twitter bisa melalu feedback di sini dan di sini.

Tinggalkan Balasan