Budaya vs Agama? Awas Syirik!

Pasca banjir melanda Makassar dan sekitarnya, ramai diberitakan seorang wanita yang melakukan ritual di sekitara jembatan kembar kabupaten Gowa. Wanita paruh baya itu mengaku mampu menahan air, bahkan kehadirannya di bendungan Bili bili membuat air surut dengan cepat. Sialnya tindakan syirik tersebut banyak dibela netizen. Pembelaannya macam macam.

Syirik atau kesyirikan baik yang nyata atau tidak, terkadang dibungkus dengan seni, budaya, adat, bahkan muncul slogan, “islam harus berjalan seiring dengan budaya.” Padahal Islam ya islam, punya aturan sendiri. Islam akan berjalan seiring dengan budaya jika budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Syukuran misalnya, dilakukan dengan aturan budaya, padahal islam memiliki aturan sendiri. Argumennya biasanya bahwa itu adalah perbuatan baik. “Bukankah bersyukur itu baik?” katanya.

Tulisan ini akan membahas masalah perilaku manusia masuk kategori syirik atau bukan, dengan mencermati perbuatan baik dalam islam itu seperti apa. Karena bukan hanya wanita tersebut yang melakukan hal yang sama. Banyak sekali ritual-ritual, sesajen yang kemudian diklaim sebagai bentuk kesyukuran saja. Mari kita lihat dengan cermat.

Syarat penghuni surga beriman dan beramal shaleh. Shaleh atau baik dalam bahasa Arab disebut al-shalihat (الصالحات). Dalam kamus Arab Arabi dan kamus Mu’jam didapatkan beberapa arti kata Shalih antara lain, menyalami, sesuai, cocok, baik, persiapan yang cukup untuk keberhasilan. Dalam menafsirkan kata shalih oleh mufassir dikatakan bahwa tidak adanya lagi keburukan dan kekurangan atau paling tidak bahwa keburukan dan kekurangan lebih sedikit daripada kebaikannya.

Dari makna tersebut, selanjutnya dijelaskan bahwa untuk mencapai makna shaleh atau baik maka setidaknya terpenuhi 4 syarat yaitu; 1) Cara yang benar tentunya yang sesuai dengan peruntukan aturan dan cara tersebut; 2) Waktu yang tepat; 3) Tempat yang sesuai; 4) Tujuan yang benar.

budaya dan agama

Melihat ritual sesajen tidak cukup dengan alasan tergantung niatnya. Niat dalam hati, maka perlu melihat indikator dari perilakunya. Pertama bagaimana caranya? Misalnya dengan cara mengalirkan makanan ke sungai atau laut. Apakah itu sesuai peruntukannya. Kalau dikatakan, di laut dan sungai juga ada makhluk yang butuh makanan, maka berikan makanan itu yang sesuai peruntukannya. Sampai poin ini saja sudah kelihatan, bahwa apa yang mereka lakukan murni budaya dan bukan shalihat.

Kita tak perlu berpanjang lebar membahas masalah waktu, tempat dan tujuan, karena jelas dalam islam tak ada tuntunannya. Intinya Islam sebagai agama punya aturan sendiri. Jika budaya tak melanggar syariat, mari berjalan beriringan, namun jika bertentangan, maka ajaran islam jika dilakukan akan menjadi budaya sendiri yang benar.