Bu Susi Merokok; Tugas Baru Buat Pendidik

Setelah sekian lama menanti siapa gerangan nama yang muncul hasil tarik ulur kepentingan bangsa dan kepentingan politis, muncullah sederet nama, ada yang familiar, ada pula yang kedengaran baru. Baru dalam artian namanya tidak sering atau jarang kedengaran dalam carut marut perpolitikan bangsa. Salah satunya adalah nama Susi Pudjiastuti.

Wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965, merupakan nama yang tidak familiar. Dalam laman facebook Ir. H Joko Widodo diceritakan bahwa bu Susi kaget setelah dirinya ditarik menjadi Menteri oleh Presiden terpilih.

Kehadiran Susi Pudjiastuti di kabinet kerja Presiden terpilih, Joko Widodo, membawa nuansa baru. Namanya sontak melejit, baru saja setelah pelantikan. Saya sendiri baru mencari tahu siapa sebenarnya wanita, ibu yang konon pernah 3 kali bersuami (ada yang menyebut 2 kali), setelah media ramai mem-bully-nya di media sosial. Pasalnya, wanita tangguh yang memiliki 49 pesawat ini, dengan santai merokok di area istana, di depan para wartawan, tanpa rasa canggung dan risih. Yah, bu Susi merokok di istana. (Baca: penyebab akibat rokok)

Poto merokok wanita yang dipilih Presiden sebagai Menteri kelautan dan perikanan ini, dengan cepat menyebar, ada yang mencela ada pula yang membela.

Kondisi ini menarik perhatian banyak orang, memancing rasa penasaran, sehingga banyak orang ingin tahu siapa sebenarnya wanita hebat berani melanggar Perda DKI tentang larangan merokok, dan wanita yang seakan lupa kalau Menteri itu adalah public figur.

Susi Pudjiastuti, wanita peraih penghargaan Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, plus ratusan penghargaan lainnya, kini menambah deretan nama tokoh hebat yang hanya lulusan SMP. Karena saat duduk di bangku SMA kelas II, dia memutuskan keluar dan berbisnis dengan modal 750 ribu hasil menjual perhiasan pribadinya.

Mujur tak dapat ditolak, tantangan demi tantangan bisa dilalui bu Susi, sampai kemudian dia mendapat pinjaman Bank untuk membeli pesawat. Musibah Tsunami adalah bagian dari jalan bisnis sewa pesawatnya, sampai kini memiliki puluhan pesawat.

Perseteruan terang-terangan di dunia maya, baik pembela dan pencela akan sikap bu Susi yang merokok terang-terangan di area istana negara, menyisakan suatu hal yang pasti, yakni tugas baru buat pendidik. Demikian pula, rangkaian argumen merembet kepada kehebatan bu Susi yang lain, yaitu hanya tamat SMP. Telak, toh sudah terlalu banyak anak kuliahan, alumni S1, S2, S3, tapi hanya menambah deretan pengangguran yang kian menumpuk.

Guru: “Jangan merokok di sekolah nak ya…”

Siswa: “Kenapa bu?, tuh Menteri saja bebas merokok di istana…”

Guru: “Rajin belajar nak, agar kelak kamu menjadi orang hebat, Menteri, atau Presiden…”

Siswa: “Masa sih bu, Tuh Menteri cuma lulusan SMP doang…”

Percakapan sederhana tadi adalah bukti betapa perjalanan hidup seseorang, kadang menjadi tugas baru bagi yang lain. Kehebatan bu Susi yang hanya tamatan SMP, menorehkan goresan halus pada pikiran sederhana seorang anak, kalau sekolah bukanlah jaminan. Sebenarnya tidak salah, bukankah Tuhan mengangkat derajat orang yang berilmu, bukan orang yang sekolah? Bisa jadi ilmu bertambah dengan sekolah, tapi bukan jaminan.

Sangat disayangkan, kalau kehebatan suami Christian von Strombeck, pria asal jerman yang juga seorang pengusaha di bidang penerbangan, sedikit tercoreng dengan kealpaan kalau dirinya kini adalah public figur. Merokok adalah hak seseorang, tapi merokok di depan umum apalagi area istana, adalah pelanggaran atau minimal contoh yang kurang baik bagi peserta didik. (baca: foto akibat merokok)

Seorang anak akan lebih mudah melakukan sesuatu yang dilihatnya, apalagi kalau disepakati bahwa yang dilihat itu adalah benar dan diketahui publik.

Cerita akan berbeda jika, saat bu Susi ingin merokok, dia mencari tempat aman yang tidak diketahui publik, apalagi anak-anak. Cerita juga akan lebih indah andai para kulitinta, tidak mengekspose hal itu yang kemudian diketahui banyak orang termasuk anak usia sekolah.

MENTERI-SUSI-MEROKOK

Bu Susi merokok, tugas baru buat pendidik, itu pasti. Pendidik harus memeras otak memikirkan cara yang tepat, argumen yang masuk akal, dan dapat diterima anak didik, guna meyakinkan kalau apapun perbuatan buruk hasilnya akan buruk.

Tantangan pendidik jelas, melawan kekuatan ketokohan seorang Menteri, dan melawan buaian godaan iblis. Pendidik pasti bisa, asalkan semua pihak ikut membantu, termasuk bu Menteri.

Tinggalkan Balasan