Blackberry Kesayanganku Hilang | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Blackberryku Hilang (9 Mei 2013)

Hawa dingin dari AC mobil baru waktu itu membuat tiada pilihan terbaik selain tidur di jok belakang. Tas hitam usang plus jaket coklat yang kubeli 4 tahun lalu cukuplah sebagai alas kepala pengganti bantal. Sesekali meluruskan kaki di bagian kursi tanpa penumpang. Berbeda di jok bagian tengah, terisi 3 perempuan dengan celoteh tak henti. Di bagian depan menemani sopir, perempuan masih umur sekolahan tak henti mengunyah sembari ngutak-atik dua gadgetnya silih berganti.

Memasuki daerah dengan signal putus-putus, inisiatif menonaktifkan pilihan jaringan kulakukan. Maklum penyakit ponsel species Blackberry, speed lowbat bukan rahasia lagi. Sesekali kunyalakan sebagai penerang menolong hapalan yang masih tersendat. Tak tahu jam berapa tepatnya, mata ini sudah pulas. Zzzzz

Sekitar jam 2.30 dini hari, kurasakan mobil berbelok. “Sudah sampai di warung” gumamku. Ada sesuatu yang aneh. Blackberry dalam genggamanku sudah tidak ada lagi. Kutenangkan perasaan dan kesadaranku. Aku tak bermimpi. Satu-satu penumpang turun tak luput dari perhatianku. 5 menit berlalu, kucari Blackberryku sendiri, di bawah kursi mobil, di balik dan di dalam tas, di celah apa saja yang memungkinkan Blackberry bisa nyungsep. Namun, tarada (kata orang ternate).

Dengan bergegas sopir mendekat setelah kulambaikan tanganku memanggil. “Hp ku hilang.” “Hp apa?.” “Blackberry,” jawabku. Dengan muka was-was dan khawatir, sopir gemuk itu bertanya beruntun, “kapan, di mana, bagaimana bisa?,” kujawab santai dengan menceritakan dari awal. “Kita cari.” Katanya.

Karpet mobil diangkat, kursi dilipat, barang penumpang di bagasi juga diangkat. Nehi… Penumpang tiga orang menyusul dengan pertanyaan sama. Mereka turut membantu. Hampir bersamaan mereka mengusulkan dan bersedia tas mereka dibongkar dan digeledah. “Tunggu dulu, kita tunggu penumpang yang satu lagi,” kataku.

“Kamu punya uang kecil tidak?” Kalimat pertama dari penumpang yang ditunggu, tak lama setelah dia kembali lagi masuk ke warung. Sekitar 5 menit berselang, wanita yang kemudian saya tahu sudah sarjana itu datang, rileks, tak tahu, dan bertanya, “ada apa?.” “Inie, hape-nya bapak ni hilang-ee.” Jawab temannya.

Penggeledahan tas saya mulai, satu satu. Meski dari awal firasatku mengatakan, Blackberry 9320 putih kesayanganku itu tidak ada di tas mereka. Benar, hasilnya nol. “Kita berangkat.” Kataku ke pak sopir.

Dalam perjalanan, perempuan di jok tengah banyak menghiburku. Kuladeni mereka dengan canda. Sampai mereka sempat heran, seperti tidak kehilangan saja, katanya. Dalam pikirku, mau diapa lagi. Tanya alamat twitter, fb dan seterusnya, sampai mereka meminta untuk dikonfirm. Bahkan dari 2 orang dari mereka menawarkan meminjamkan hp-nya untuk saya pakai sementara.

Masih ada waktu sekitar 2 jam untuk berhenti di polres Maros, namun tidak kulakukan. Kekhawatiran akan proses pelaporan yang lama menghambat perjalananku ke Ternate jam 6.00 pagi. Dengan hape pinjaman, janji dengan teman kuatur. Hati kecilku mengatakan, “Blackberry kesayanganku itu, ada di tempat yang indah.”

“Wa ma anfaqtum min syayin fa huwa yukhlifuh.” Tidaklah sesuatu yang kalian infakkan kecuali Allah menggantinya. Demikian firman Allah swt, yang saya yakini sepenuh hati. Tidak ada setelah ada adalah sebuah ujian lembut dari Tuhan yang sangat berat. Kematian, kehilangan, hanyalah varian bentuknya. Kelapangan hati adalah penawarnya. Bukankah bersama kesulitan itu, ada kemudahan?.

Sulit, tapi teka-teki hilangnya Blackberry kesayanganku adalah sebuah tanda tanya besar dalam hidupku. Ada keanehan, namun hati kecil yang konon tak ilmiah bisa memutuskan. Punya bisa membahagiakan, namun menjajah punya orang lain adalah kejahatan.

Bersambung

Tinggalkan Balasan