Bencana Palu-Donggala, Mari Intropeksi Diri

Waspada harus, tapi panik jangan. Percaya atau tidak, di Indonesia setiap hari terjadi gempa. Kita semua berharap gempa tidak menjadi bencana. Seperti beruntun, pasca gempa Lombok, Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya, luluh lantak karena bencana. Berbeda dengan bencana yang terjadi. Bencana Palu, Donggala sangat luar biasa. Bukan hanya gempa, tapi stunami dan terjangan lumpur mengubur hidup-hidup ribuan penduduk di sana. (Baca: kisah suprarasional bencana Palu Donggala)

Semoga Palu tidak menjadi kota mati. Badan Pertanahan mungkin akan sulit mematok tanah sesuai sertifikat. Bayangkan, ada gundukan besar setinggi rumah bergelombang datang menghantam. Petobo hancur, berpindah posisi dan tenggelam ke dalam tanah. Tanah terbelah sekitar 10 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. Setelah gempa susulan lagi, tertimbun lagi menjadi rata. Seorang korban yang masih hidup bertutur, dia melihat rumahnya berjalan sendiri. Dia heran karena tanpa sadar sudah berada di dekat Terminal Petobo yang jaraknya hampir 1 kilometer dari rumahnya. Padahal dia hanya tiarap. (Baca: LGBT, Serahkan ke Tuhan saja)

Pasca gempa, aksi penjarahan masal melanda. Penjarahan liar ini justru merugikan sesama warga Palu sendiri. Bahkan team relawan juga dijarah. Sebagian masyarakat yang bermental kriminal tampaknya memanfaatkan bencana gempa barusan ini sebagai peluang emas untuk memperoleh barang secara gratis, alias menjarah. Harian asing mempublish gambar seorang penjarah pulang dengan¬†LEDTV ukuran 50 inc, yang harganya berkisar Rp.8 juta. Artinya, aksi itu bukan karena lapar. Pepatah yang mengatakan, “Musibah bisa membuat seseorang bertaubat” ternyata keliru. Di sana, musibah ternyata justru membuat sebagian orang malah bangkit nafsu liarnya.

Bagi kita yang masih bisa bernafas lega, terhindar atau selamat, mari mengambil pelajaran dari bencana Palu Donggala. Pertama, apapun cara matimu. Matilah dalam keimanan. Tak perlu membela mati-matian hal-hal duniawi, toh ketika bencana datang, hanya DIA lah yang layak disebut dan akan membuat kita tenang. Stop nyinyir takbiir. Karena saat bencana, kamu akan teriak dengannya tanpa disuruh.

Kedua; harta yang kita usahakan, pergi pagi pulang sore, kita tabung sedikit demi sedikit, begitu mudahnya musnah. Hanya sekejap, terkubur tak tersisa. Ini peringatan, pun sebagai bukti kecil, bahwa yang kekal hanyalah pahala amal ibadah. Carilah apa yang akan kamu temui nanti di akhirat, namun jangan lupa dunia. Arti penggalan ayat dalam surah al-Qhasash. Akhirat harus prioritas.

Ketiga, mari belajar dan mencontoh tim relawan kemanusiaan. Mereka bekerja sepenuh hati, tanpa pamrih, tanpa pilah tapa pilih. Coba bayangkan andai mereka korban, bisakah kita menjadi seperti mereka? Lihatlah, bahwa empati bukan karena identitas, negara, suku, bangsa, tapi itu adalah panggilan jiwa bagi pemilik jiwa.

Tinggalkan Balasan