Benarkah Sahabat Lari dari Medan Perang?

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran 3: 144)

Tidak ada yang bisa menyangkal akan kebenaran ayat tersebut, bahkan hampir semua kitab tafsir memberikan penjelasan tentang ayat tersebut dengan jelas.

Ayat tersebut menceritakan peristiwa perang Uhud dan adanya beberapa orang sahabat lari dari medan perang. Detail tentang peristiwa tersebut dapat dibaca di kitab-kitab sejarah islam dengan jelas.

Siapa saja yang lari dari medan perang saat itu?. Kita boleh saja melihat beberapa pendapat yang salah satunya berasal dari Ibn Ishaq, meski riwayat-riwayat Ibn Ishaq menurut saya (yang masih belajar), kebanyakan tidak memiliki validitas seperti hadis sahih. Sehingga tidak bisa dijadikan sandaran hukum.

Lantas, bagaiman kemudian bisa dikatakan bahwa semua sahabat pantas untuk meriwayatkan hadis dari Nabi saw, kalau toh sebenarnya mereka tidak konsisten terhadap perjuangan menegakkan ajaran Islam yang ditunjukkan lari dari medan perang?. Bukankah salah satu syarat seorang periwayatan hadis adalah “adalah ashahabah”, keadilan sahabat?.

Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah. Hal tersebut menunjukan bahwa sahabat masih berada pada fase-fase awal pendidikan mereka di bawah asuhan Rasulullah saw.

Perang Uhud adalah perang besar pertama yang dijalani oleh Umat Islam di Madinah, menghadapi musuh yang mempunyai persiapan sangat matang dan berjumlah beberapa kali lipat dari pasukan Islam.

Ibn Ishaq mengatakan bahwa pasukan Musyrikin terdiri dari 3000 orang pasukan dengan 200 orang pasukan berkuda dan 700 pasukan berperisai. Sementara pasukan Islam belum terbangun kekuatan yang solid dengan pasukan terlatih.

Pasukan Islam terdiri dari 1000 orang, dengan 2 orang pasukan berkuda dan 100 orang pasukan berperisai. Dalam hitungan matematis dengan analisis kekuatan manusia, kita akan tahu bagaimana kondisi yang bakal terjadi dengan umat islam saat itu.

Hal yang membuat kondisi pasukan Islam ini makin lemah ketika di tengah perjalanan Abdullah bin Ubay bin Salul mengundurkan diri dengan membawa 300 orang. Sehingga pasukan Islam tinggal 700 orang saja.

Berita bahwa Rasulullah saw sebagai komando puncak sudah meninggal saat peperangan ditengah lemahnya kondisi pasukan Islam melawan pasukan yang lebih besar dengan strategi yang terlatih, belum lagi berita-berita yang mengacaukan konsentrasi dan daya juang pasukan Islam membuat sebagian dari sahabat akhirnya memilih lari dari medan perang.

Ilustrasi

Dalam teori apologi tentunya alasan sejarah seperti ini sangat mudah membuat jawaban bantahannya, dan akan membuat semakin debatebel. Namun jika klaim larinya sahabat dalam peperangan berdasarkan ayat al-Quran yang mulia, alangkah adilnya jika, keadilan sahabat juga berdasarkan ayat al-Quran.

Perhatikan ayat al-Quran surah Ali Imran 3: 155 berikut ini sebagai lanjutan penjelasan apa yang disinggung dalam Ali Imran 3:144 di atas.

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qs. Ali Imran 3: 155).

Masihkah mereka tidak adil, dan tak berhak meriwayatkan hadis, jika Allah swt telah mengampuni mereka?

Bacaan pendukung: Sirah ibn Hisyam: 3/8-12, Ibn Jauzi, Zadul Masir: 1/483, tafsir al-Quran al-Karim.

Tinggalkan Balasan