Bahasa Arab, di Mana Engkau Kini?

Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran. Memahami makna al-Quran secara mendalam tak mungkin bisa dilakukan kecuali memahami bahasa Arab dengan benar. Dasar memahami ibadah harus dengan bahasa Arab. Bahkan, narasi keislaman tentang ekonomi, politik, pertahanan, semestinya bermodal bahasa Arab. Sebagai bagian dari bangsa yang mayoritas beragama Islam, sejatinya kita menomor satukan bahasa Arab. Bahasa Arab posisinya entah di mana. Dipelajari iya, tidak dipelajari juga iya. Entahlah…

Bahasa Arab tidak sepopuler bahasa lain terutama bahasa Inggris. Padahal dalam sejarah bangsa, bahasa Arab jauh lebih dikenal di masa lalu, karena bahasa Arab lebih dahulu masuk ke Indonesia bersamaan masuknya islam di nusantara. Ini terbukti dengan tulisan khas Arab melayu, yaitu bahasa melayu yang ditulis dengan huruf Arab. Bahasa Arab lambat laun tidak diminati bahkan, pribadi melihat sudah berada di ambang kepunahan. Hanya tersisa sedikit dalam jurusan perguruan tinggi Islam secara teoritik, tapi hilang dalam penggunaan. Bahasa tak akan berguna jika tidak dilafalkan.

Kondisi miris bahasa Arab yang kini entah di mana, bukan karena faktor alami, bukan! melainkan, bahasa Arab yang kini di ambang kepunahan setidaknya terjadi karena beberapa hal;

Pertama, globalisasi yang ke-barat-an. Pemahaman dangkal globalisasi yang dianggap bermuara ke barat (negara barat) saja dan mengabaikan negara timur yang dominan menggunakan bahasa Arab dan Parsi, akhirnya, bahasa era global dominan menggunakan bahasa Inggris. Jika dirunut mendalam, orang akan dianggap keren jika menggunakan bahasa Inggris, tapi dianggap kuno jika menggunakan bahasa Arab. Perhatikan nama toko, nama produk, bahkan nama anak sekalipun. Kalau toh ada nama ke-arab-an nya, maka merasa tak elok jika tak ada nama baratnya.

Kedua, gerakan anti Arab. Memang ada? Ada! Dalam ilmu pengetahuan, gerakan ini dimulai dengan menterjemahkan buku dan naskah-naskah timur tengah ke bahasa lain. Andai terjemahan yang dihasilkan sepenuhnya benar sekalipun, maka dari sisi perkembangan bahasa Arab sangat berpengaruh. Sederhana, buat apa lagi belajar bahasa Arab kalau terjemahan buku yang diperlukan sudah ada. Bentuk lain adalah pengadaan program studi ke barat dengan alasan pengembangan metodologi. Metodologi bagus tapi isi kosong. Saya bahkan tak mendengar lagi beasiswa ke Madinah apalagi Arab Saudi yang dibiayai oleh sponsor lokal.

Lebih jauh gerakan anti Arab terlihat melalui kemasan wahabi. Gerakan wahabi sebagai gerakan pemurnian akidah lalu diplesetkan lebih dalam. Imbasnya, orang yang menggunakan kata antum, akhi, ta’al, dan kata bahasa Arab keseharian lainnya lalu divonis Wahabi. Dampaknya tentu akan ke bahasa Arab secara meluas.

Ketiga, Sulitnya bahasa Arab. Bahasa paling sulit adalah bahasa Arab, tapi tidak bagi umat Islam. Umat islam akan lebih mudah mempelajari bahasa Arab dengan bantuan mudahnya pelafalan. Pelafalan huruf Arab sudah dimulai sejak kecil saat belajar al-Quran. Tapi ternyata, dari sisi bahasa itu tidak berlanjut. Apresiasi masyarakat terhadap bahasa Arab terhenti drastis. Pribadi melihat ini dipengaruhi iming-iming manfaat bahasa Arab secara duniawi. Bahasa Arab atau bahasa Inggris? maka masyarakat akan memilih bahasa Inggris, karena dianggap lebih bermanfaat untuk mendapatkan pekerjaan dll.

bahasa arab
Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran. Memahami makna al-Quran secara mendalam tak mungkin bisa dilakukan kecuali memahami bahasa Arab dengan benar.

Ini tentu PR bagi kita. Perlu diperhatikan, bahwa memahami islam dengan benar dan mendalam harus dimulai dari pemahaman naskah aslinya, dan bukan terjemahan. Anda ingin shalat lebih khusyu, pelajari bahasa Arab. Lho? Iya, karena tahu arti kata dari kalimat basmalah, akan berbeda jika paham makna kalimat basmalah dengan pengetahuan bahasa Arab. Pemahaman makna itulah yang akan menggiring kita lebih khusyuk. Kok bisa ya… coba saja…

Pembiasaan menggunakan kata dalam bahasa Arab keseharian juga penting. Jangan justeru menjadi bahan ejekan. Ajari anak bahasa Arab sejak kecil untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Arab. Ingat, menguasai bahasa Arab bukan berarti kita radikal, anti NKRI, atau wahabi. Bahkan sebaliknya. Yakinlah…

Tinggalkan Balasan