Bagaimana Cara Anda Memakai Jilbab; Fenomena Jilbab

“Jilbab”, kata yang tak asing bagi wanita muslimah. Kalau di kampung penulis, dengan bahasa bugis, kata “Jilbab” tidak populer, tapi diganti dengan “kudung”. “Ma kudung”, artinya memakai jilbab. Terkadang jua, telinga menangkap penyebutan kata jilbab tidak sesuai EYD, bukan lagi dengan “Jilbab”, tapi “JilbaT”.

Dalam Islam, dengan sumber hukum al-Quran dan hadis, tujuan pemakaian jilbab, sangat jelas. Kata “jilbab” disebut sekali dalam surah al-Ahzab dalam bentuk jamak, “jalabib”.

Dalam ayat itu, Nabi diperintahkan untuk menyampaikan agar istri-istri Nabi, anak-anak perempuannya, dan wanita beriman untuk memakai jilbab. Dalam ayat tersebut diuraikan fungsi jilba, yaitu agar wanita beriman mudah dikenal, dan tidak diganggu. Jilbab dalam kata lain namun dengan makna sama, ditemukan di Q.S. An-Nuur : 31 yang artinya :

”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Ayat tersebut, sekaligus mengungkapkan cara berjilbab yang baik, dan benar, yaitu menutupi dada. Lantas bagaimana pemakai jilbab saat ini?.

Fenomena pemakai jilbab, dibumbui dengan ke-modern-an. Memakai jilbab, namun kain yang digunakan tipis/terawang, memakai jilbab, tapi kain yang digunakan press body, memakai jilbab, namun aduhai, kain yang digunakan tidak menutupi seluruh aurat.

Ada lagi versi “terbaru” katanya, tapi seperti seorang biarawati. Menggunakan ciput ketat pada bagian leher kemudian menggunakan kain kerudung yang tidak ditutupkan pada bagian leher tersebut. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, hadis Nabi;

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka”, (H.R. Abu Daud)

Teori; dengan berjilbab, wanita akan kelihatan lebih cantik, tebukti. Dengan memakai Jilbab, kesan feminim wanita lebih menonjol. Namun paradigma baru muncul.

Banyak wanita memakai jilbab, bukan dengan niat menjalankan perintah Agama, tapi justru ingin menutupi kekurangan dan tampil lebih feminin. Di pesta-pesta, ibu-ibu, cenderung memakai jilbab, kesan keibuan menonjol, dan fresh, lebih muda.

https://www.mushlihin.com/kiat-menjaga-adab-berbicara-wanita/
Jilbab yang benar seperti ini

Di daerah penulis, pemerintah mengeluarkan kebijakan; pegawai wanita, anak sekolah putri, dianjurkan memakai jilbab. Kesan positif muncul, kenakalan yang berasal dari gerakan liar dari siswi, berkurang. Nilai negatif menunggu. Ketika ada kasus asusila, maka portal berita menekankan isi berita dan headingnya pada JILBABNYA.

Belum lagi, budaya jilbab pada tersangka wanita. Sebut saja Apriyani, yang sontak berjilbab, Nunun, sang sosialita yang sempat lupa ngatan di balik balutan jilbab hitamnya, Angelina S. Dan masih banyak tersangka wanita lain, seakan ingin menyampaikan pesan keada publik, “saya ini orang baik-baik, buktinya saya memakai jilbab”.

Benarlah yang dikatakan Nabi, “sesungguhnya Amal-amal tergantung dari niat”.

Jika anda seorang muslimah dan mengaku beriman, memakai jilbab, tanyalah hati kecil anda. Apakah anda memakai jilbab karena anjuran, ikuti trend, menyembunyikan sesuatu, tersangka, atau hal lain. Jika iya, ubahlah jika ingin bernilai pahala di sisi-Nya. Atau bisa saja berawal dari anjuran, ikuti trend, menyembunyikan sesuatu, tersangka, kemudian muncul kesadaran bahwa memakai jilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah.

 

Tinggalkan Balasan