Aturan Islam Tentang Memukul Anak

Ada pertanyaan menarik, “bolehkah memukul anak, atau siswa?”. Kalau jawaban memakai hukum hak asasi manusia, yang tak tahu dibentuk oleh siapa dan tujuannya apa, maka jawabannya tidak boleh. Seorang siswa memukul gurunya, guru jangan membalas memukul, bakal kena pasal HAM nantinya. Tapi jika melihat aturan Islam tentang memukul anak, tunggu dulu, jangan sampai kita memukul rata, menganggap sama antara memukul dan tindak kekerasan

(baca: benturan UU perlindungan anak dan kondisi guru)

Sebagai orangtua, pendidik, pengasuh terhadap anak, atau peserta didik yang dianggap anak, maka dasar utama yang harus dikedepankan adalah berlaku lemah lembut. Itulah sebabnya, pendidik terbaik adalah wanita, karena ibu adalah wanita yang paling lemah lembut terhadap anaknya. Nabi pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Sungguh orang yang telah diberi bagian kelembutan berarti ia telah diberi bagian kebikan dunia dan akhirat.”

Dengan sifat kelembutan inilah muncul kesadaran bahwa nasehat jauh lebih baik daripada memukul. Mencontoh manusia yang paling layak diteladani, Rasul saw sama sekali tidak pernah memukul kecuali saat berperang dijalan Allah. Nasehat yang diberikan bentuknya bertingkat, dimulai dari dorongan, motivasi, janji manis, teguran, dan terakhir ancaman bermanfaat sesuai dengan kesalahan anak.

Bagaimana jika sudah melakukan semua itu, tapi tidak juga berhasil? Cobalah koreksi ulang, mungkin ada yang salah, mungkin niatnya keliru, mungkin, ikhlashnya kurang, atau masih ada “mungkin-mungkin” yang lain. Sudah, tapi masih saja begitu !. begitu apa?!?… Silahkan memukul, dengan melihat sifat dan karakter anak

(baca: membentuk karakter anak dengan memukul).

Anak memiliki karakter, dan tabiat berbeda. Ada yang dinasehati, tapi membuang muka. Ada yang berubah, hanya dengan tatapan mata. Namun ada pula yang sadar jika dengan pukulan. Tantangan terbesarnya berasal dari pengaruh eksternal. Bukankah, semua anak dilahirkan dalam keadaan fitri (suci).

Dalam islam, orangtua diperbolehkan memukul anak bila anak malas beribadah. Memukul bukan berarti melakukan tindakan kekerasan. Anak bukanlah musuh. Anak bukan makhluk yang berbahaya. Anak hanya tidak tahu. Beritahu dia, bahwa hidup ini bukan hanya meyediakan kelembutan. Tuhan tidak hanya menyediakan perasaan enak, nikmat, dan senang semata, tapi dalam hidup pun ada rasa sakit. Saat sakit, manusia bisa sadar akan kesalahannya. Saat sakit anak akan berusaha keluar dari rasa itu.

Banyak dalil naqli yang menunjukkan bolehnya memukul anak bila diperlukan karena anak tidak taat dalam hal yang baik, karena mengabaikan perintah kebaikan atau berbuat maksiat. Ayat al-Quran dalam surah al-Baqarah ayat 205, “Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” Demikian pula hadis Nabi saw, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena enggan melakukannya pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.”(Diriwayatkan Imam Abu Daud, hadis nomor 495)

Dalam narasi perjalanan hidup sahabat Nabi saw, Abdullah bin Umar yang memukul anaknya Bilal bin Abdullah bin Umar. Demikian pula Ibnu Abbas yang mengikat anaknya, Ikrimah bin Ibnu Abbas dengan tali agar anaknya mau mempelajari al-Quran dan Sunnah Nabi. Hasilnya, Ikrimah menjadi salah seorang ulama besar yang banyak meriwayatkan hadis Nabi saw.

Bukan hanya sekedar membolehkan dengan syarat dan kondisi tertentu, aturan Islam tentang memukul anak, juga menyisakan beberapa larangan. Beberapa larangan saat memukul anak, atau peserta didik, yaitu;

Pertama, melarang memukul wajah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi saw, “Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.” Kedua, saat memukul anak, dilarang menampakan wajah marah. Rasulullah saw bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia berlawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” Ketiga, jangan memukul dalam keadaan sangat marah. Suatu hari Abu Mas’ud al-Badri memukul budakku (yang masih kecil) dengan cambuk, Rasul lalu menegur dari belakang, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’, tapi Abu Mas’ud tidak mendengar, Rasul saw berkata lagi, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada apa yang kami lakukan terhadap budak ini.” Keempat, dilarang terlalu keras dan kasar. Sikap ini tentu bertentangan dengan landasan cara menasehati yang harus berlemah lembut. “Barangsiapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka dia akan terhalang dari mendapat kebaikan.” Sabda Nabi saw. Kelima, dilarang memukul dengan benda keras.

Ada banyak cara memukul yang sesuai ajaran Islam. Langkahnya seperti berikut, 1) niatkan untuk kebaikan anak. Segala sesuatu tergantung dari niat. Jika niat memukul anak merasakan kekerasan, maka rumus aksi-reaksi pasti terjadi; 2) lakukan dengan perasaan lemah lembut. Sekeras apapun ayunan pukulan, perasaanlah yang menentukan efeknya; 3) memukullah sebagai pelajaran bagi anak. Prinsipnya, biarkan anak merasakan sakit hari ini, agar dia tahu kalau hidup ini keras; 4) hindari larangan memukul sperti yang sudah diungkapkan sebelumnya.

Yuk memukul … 😀

Tinggalkan Balasan