Asmirandah Pindah Agama, Memang Masalah Kok !

Saya pada dasarnya tidak suka dengan berita artis, infoteinment, hot, silet, atau apapun istilahnya. Pasalnya, pemberitaan itu sudah masuk ranah strategi bisnis dan terkadang hanya akting belaka. Berita di-setting sedemikian rupa agar nama artis yang diberitakan mencuat lagi. Hal ini dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis minimal memulihkan ingatan promotor akan diri yang bersangkutan. Berita Farhat A, sumpah pocong Arya Wiguna, dll, sedikitpun tidak menggelitik saya untuk melihatnya dan menorehkan sebuah celoteh. Berbeda dengan berita Asmirandah pindah agama yang membujuk kuat, ditambah beberapa tulisan tentang hal itu yang saya anggap sebagai kesalahan berpikir.

November 2013 Asmirandah dinikahi secara Islami oleh Jonas Rivanno. Jonas membantah, namun tak bisa berkutik dengan bukti pengakuan hitam di atas putih akan hal itu. Berita itu santer, Jonas Rivanno berpura-pura menjadi muallaf demi bisa menikah dengan Asmirandah di Kantor Urusan Agama. Tak lama berselang, pembatalan pernikahan berlangsung di Pengadilan Agama Depok. Itu berita biasa. Yang luar biasa, ketika kabar Asmirandah pindah agama dari Islam ke Kristen, dan dibaptis di gereja Tiberias Kelapa Gading, selanjutnya menikah dengan Jonas Rivanno yang beragama kristen.

Alasan Asmirandah yang sederhana cukup membuat perasaan kecewa. “Saya ingin bahagia”, katanya. Alasan ini adalah hak Asmirandah sebagai individu, tapi manusia lain juga punya hak untuk membandingkan dan mengira-ngira bagaimana bentuk perasaan Asmirandah, perbedaannya dengan ayahnya sendiri, M Farmidji Zantman, yang dulunya warga negara Belanda dan beragama kristen, masuk islam menjadi mualaf dan menikah dengan ibunya Asmirandah. Kedua orangtuanya hidup bahagia sampai melahirkan dirinya.

Pro kontra pelak dan tak terhindarkan. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, merasa Islam sebagai kelompok yang menyatukan rasa dalam satu keyakinan, tentu tak mudah menerima kenyataan ini. Bahkan ada yang menilai, kalau gaya Jonas Rivanno menikahi Asmirandah adalah strategi kristenisasi. Kelompok lain menyebut Asmirandah sudah murtad, dan memang murtad.

Beberapa tulisan, terutama di kompasiana melihat hal ini, tidak perlu dibesar-besarkan. Seribu satu macam alasan dikeluarkan untuk mendukung hal itu. Beberapa alasan itu kemudian saya rangkum dan sebenarnya mirip dengan ungkapan kutipan dari Dawam Raharjo. “Pindah agama bukan berarti murtad, melainkan menemukan kesadaran baru dalam beragama. Karena pada dasarnya, kita sendiri yang notabene agama Islam adalah sebuah proses, menemukan yang Maha Benar. Begitu juga dengan agama lain, sebuah proses menemukan jati diri dan kebenaran itu sendiri. Keyakinan adalah urusan Tuhan dengan hambanya, dan tidak perlu saling menyalahkan.”

Sekilas, argumen itu benar, namun melupakan beberapa hal fundamental. Pertama: kurang lebih 13 tahun Nabi saw memperjuangkan akidah di Mekah. Jauh lebih lama dan perjuangan lebih berat, dibanding ketika Nabi berada di Madinah yang memperjuangkan keimanan dengan bahasa fikih. Sederhana, buat apa Nabi saw bersusah payah menegakkan kalimat tauhid, jika agama Islam yang diperjuangkan Nabi saw hanyalah sebuah proses menemukan yang Maha Benar, sama dengan proses ketika beragama dengan agama selain agama Islam? Nabi saw secara tidak langsung menjelaskan, bahwa ajaran yang saya bawa ini benar, dan yang lain salah, menyimpang dari ketauhidan ajaran Rasul yang sebenarnya. Titik..

Kedua: pengetahuan jauh berbeda dengan keyakinan, apatah lagi keimanan. Syarat keimanan adalah menganggap yang lain memang salah, dan cuma yang diyakini saja yang paling benar. Dalam keimanan tak ada keraguan, dan dalam keimanan tak ada kira-kira. Itulah keimanan. Mungkin terkesan ganjil dan keras. Contoh sederhana, anda mengklaim beriman kepada tuhan A, dan berpikir “jangan-jangan” tuhan A ini bukan tuhan. Proses itu adalah mencari tahu, bukan beriman. Ketika telah menemukan sesusai kadar kedirian Anda, dan menjustifikasi hanya tuhan A yang benar, itulah iman.

Ketiga: agama dan keimanan bukan hanya terkait hubungan vertikal antara Tuhan dengan hambaNya. Ideologi individu saja bisa memengaruhi semua aspek kehidupan, apalagi agama. Bahasan agama lebih luas dari narasi ideologi apapun di dunia ini. Agama adalah pedoman buat manusia di dunia dan di akhirat. Clear… kalau agama, pun terkait hubungan horizontal manusia dengan manusia lain, maka siapapun yang berbuat atas nama agama, juga terkait dengan orang lain.

Terkait dengan kasus Asmirandah pindah agama dan merasa bahagia, kebahagiaan Asmirandah adalah haknya, namun ternyata kebahagiaan itu membuat orang tuanya, yang melahirkannya, menganggap Asmirandah sebagai darah dagingnya, merasa sedih dan kecewa sehingga dimediasi untuk melaksanakan umrah dan berdoa untuknya.

Asmirandah pindah agama, memang masalah kok. Iyah, masalah buat orangtuanya, masalah bagi mereka yang melihat agama sebagai kelompok non-formal tanpa AD ART yang terikat dalam satu keyakinan yang sama. Umat Islam harus belajar, bahwa sejarah orang murtad tidak akan berhenti sampai dunia ini menutup masa. Umat Kristiani juga harus belajar dengan topik yang sama. Semua umat beragama dengan keimanannya menyalahkan siapa yang berbeda dengan apa yang diimani, tapi tak perlu berbuat kerusakan di dunia ini, karena dalam agama apapun, berbuat kerusakan adalah salah satu ciri orang kafir.

Salam bahagia

Sumber data: 1, 2, 3

Tinggalkan Balasan