Alasan Perokok, Rasional dan Nyentrik

Alasan perokok tak ada habisnya. Mereka bisa berlindung di balik pengharaman rokok oleh MUI untuk sebagian wilayah. Belum lagi kaitannya dengan ekonomi, aspek perolehan cukai rokok, aktivitas perekonomian, besarnya pengeluaran anggaran kesehatan untuk pemulihan penyakit, adalah sebagian objek perdebatan benda bakar ini.

Peringatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), selama abad ke-21 ini diperkirakan tembakau membunuh satu miliar jiwa. Kementerian Kesehatan; sebanyak 427.948 perokok meninggal per-tahun. Ditambahkan pula secara spesifik, dari angka tersebut di antaranya 4.280 anak meninggal per tahun terkait rokok. Bilamana rokok dikonsumsi dalam ambang batas aman, tentu laju kematian akibat rokok tidak separah itu. Katanya sih…

Perokok tak tinggal diam. Argumen mereka, banyak peristiwa kematian mendadak dikatakan sebagai akibat merokok. Secara tak sadar, pelaku seorang perokok, jika ditimpa musibah atau kematian, direduksi sebagai kasus akibat rokok murni. Bahkan mungkin penyebab utamanya hanya karena terlalu kecapekan atau masuk angin doang. Itulah alasan perokok

Nikotin merupakan zat racun yang terdapat pada tanaman tembakau. Namun ketahuilah, sejarah juga mencatat bahwa dalam dosis yang tepat, nikotin dapat menyembuhkan penyakit. Lantaran sebagai obat, maka memiliki karakteristik efek samping yang berbahaya bila digunakan secara berlebihan.

Efek keracunan akut muncul dalam takaran dosis 40 mg atau setara dengan kandungan nikotin dalam dua batang rokok. Untunglah, sebagian besar nikotin ini dirusak selama menghisap rokok oleh proses pembakaran. Kata perokok dengan alasannya.

Rasionalisasi farmakologis, kadar nikotin yang optimal dalam darah, bisa membuat orang merasa nikmat, efori, dan bersemangat. Juga menghilangkan rasa kaku pada otot, sehingga aktivitas gerak tubuh membaik.

Dengan ringannya kekalutan pikiran dan sirnanya rasa kantuk, akan membuka peluang sesorang bisa berbuat lebih banyak. Ungkapan hiperbolik dalam iklan rokok, melapangkan jalur persepsi sebagai lambang kejantanan, solidaritas, kesuksesan, dan kedewasaan, adalah bukti bahwa merokok memiliki nilai rasional meski masih dalam konteks iklan.

Tapi argumen di atas terlalu teoritik, harus ada alasan nyentrik untuk meruntuhkan bahwa merokok itu tidak adil. Sederhana. Jika merokok dilarang, semestinya wanita pun dilarang memakai kosmetik.

Rokok dibeli, bisa membuat kere, harganya selalu mengikuti “harga minyak dunia”. Kenaikannya berkisar 32% tiap tahun. Perdebatan tentang kenaikkan harga rokok bukanlah hal yang baru. Bedak?, juga demikian. Bedak dibeli, membuat kere suami, harganya juga mengikuti minyak kelapa. Kenaikannya aku kurang tahu.

Rokok membuat percaya diri. Lihat seorang lelaki, memakai jaket hitam, sepatu hitam tinggi, mungkin memegang pistol, menunggu pacarnya di persimpangan. Bedak juga demikian. Tanpa ilustrasi sekalipun semua sepakat bahwa wanita akan tampil percaya diri dengan kosmetik bedak yang dipakainya. “Aku tidak pakai bedak. Toh tetap percaya diri”?. Bisa saja. Tapi ada juga laki-laki percaya diri tanpa rokok.

alasan merokok

Rokok Bisa menyebabkan penyakit, seperti dalam bahasa bahaya nikotin tadi, menyebabkan penyakit. Saat ini, sejumlah bedak wajah di pasaran mengandung bahan kimia yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk pembuatan bedak.

Bahan paling berbahaya yang sering ditemukan dalam kandungan bedak wajah adalah methanil yellow (pewarna kuning). Kandungan methanil yellow digunakan secara terus-menerus pada wajah, kulit akan mengalami iritasi bahkan bisa mengakibatkan perubahan pigmen kulit secara signifikan.

“Saya kan tidak sering pakai bedak yang mengandung Methanil yellow”?, kata perempuan ketika melumuri wajahnya dengan make up. Perokok yang adil akan menjawab, “saya juga tidak akan terlalu sering merokok”. Well…. Itulah alasan perokok

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.