al-Quran Direvisi? Lho Kok…

Gonjang ganjing al-Quran direvisi sempat memenuhi beranda media sosial saya. Menarik dan sangat memancing perhatian di tengah situasi politik yang panas menuju 2019. Kenapa? Karena merevisi al-Quran adalah suatu kesalahan besar. Tuhan menurunkan al-Quran, Dia pula yang menjaganya. Menjaga dari segala bentuk, termasuk perubahan di dalamnya. Betulkah al-Quran direvisi? ternyata tidak!, yang direvisi adalah tulisan dalam mushaf al-Quran. Bedanya apa? Tulisan sarana membaca. Sedangkan cara bacaan atau sebutan huruf dalam al-Quran, adalah tetap. Adakah yang salah dalam penulisan al-Quran sebelumnya? Mari kita lihat.

Forum ulama al-Quran, lajnah pentashih al-Quran bukan forum sembarangan. Kapasitas ulama yang bergabung di forum ini, tidak main-main. Mereka para ulama yang tidak diragukan lagi keahliannya dalam ilmu al-Quran. Mereka menghapal al-Quran dengan berbagai macam riwayat bacaan secara Mutqin.

Mutqin
Maksudnya; tidak diragukan lagi hapalan al-Quran nya. Lancar, bacaat tepat, sifat huruf, penyebutan dll, meyakinkan
.

Mereka paham asbab nuzul al-Quran, penafsiran al-Quran, sejarah terkait al-Quran, ilmu qiraat, ilmu rasm, dan masih banyak lagi imu terkait al-Quran. Bahkan untuk kawasan Sulawesi Selatan, yang memenuhi syarat untuk itu setahu saya cuma satu orang. Nah, hasil Ijtimak ulama al-Quran berkesimpulan bahwa ada 186 penulisan kalimat dalam mushaf al-Quran harus di perbaiki. Jadi bukan al-Quran yang diperbaiki, namun penulisannya. Berarti ada ijtihad di sini. Bolehkah ulama ber-ijtihad mengenai kodifikasi penulisan al-Quran? Mari kita lihat sejarah.

Kodifikasi al-Quran dimulai ketika Umar bin Khattab (W. 03 Nop 644 M) mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar (W.23 agustus, 634 M) agar menulis dan membukukan al-Quran. Usulan itu tidak langsung diterima khalifah. karena menganggap akan melakukan sesuatu yang baru yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Umar lalu meyakinkan dengan argumen; bahwa banyaknya ulama al-Quran yang wafat dalam banyak peperangan. Kedua dikhawatirkan bercampurnya antara al-Quran dengan hadis Nabi saw. Dua argumen itu menggugah dan meluluhkan hati Abu Bakar. Meski demikian, khalifah tidak serta merta menerima usulan Umar, tapi memanggil sahabat Zaid Bin Tsabit untuk mengumpulkan tulisan al-Quran dalam satu kumpulan tulisan. Zaid pun tidak serta merta menerima.

“Saya tidak akan melakukan sesuatu perkara besar yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, sendainya saya diperintahkan untuk memindahkan gunung uhud lebih saya sukai dari pada menulis ulang al-Quran”Zaid bin Tsabit

Memang benar, ijtihad Umar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, meskipun sudah disepakati oleh khalifah Abu Bakar, akan tetapi Zaid tidak dengan mudah menerima proyek gratis itu. Perlu diketahui bahwa bukan karena perintah khalifah yang membuat Zaid menolak, namun karena kepatuhan kepada Rasulullah saw, tidak mau melakukan sesuatu yang belum ada landasannya. Namun, pada pada akhirnya, Zaid pun menerima perintah itu setelah mendengarkan penjelasan logis dari Khalifah Abu Bakar dan Umar ra.

Dimulailah kodifikasi al-Quran. Penting; bukan perubahan al-Quran, tapi pengumpulan tulisan al-Quran dan penulisan al-Quran. Ini dilakukan berjenjang. Dimulai dengan pengumpulan, penulisan, perbaikan tulisan (dengan titik), pemberian tanda baca (dengan harakat), dan seterusnya. Tujuannya apa? Kembali ke alasan Umar. Kalau para penghapal al-Quran yang bacaannya bagus sudah wafat, lalu siapa yang mengajarkan kita? Penulisan itulah yang kelak memandu kita memudahkan dalam membaca al-Quran.

Keynote
Salah seorang ulama Qiraat, Abu Bakar Bin Mujahid, mengklasifikasi bacaan al-Quran berdasarkan rukun al-Quran yakni; 1. muwafaqah al arabiyah (sesuai bahasa arab), 2. sihhatussanad (sanadnya sahih) dan 3. Muwafaqat al-Rasm al-Utsmani (sesuai dengam rasm Usman bin Affan). Tiga ketentuan yang menjadi syarat diterimanya al-Quran tersebut. Abu Bakar Bin Mujahid menyusun urutan Qiraat berdasarkan kelaziman imam qurra’ dengan al-Quran sehingga sampai hari ini kita kenal dengan istilah Qira’at sab’ah (bacaan tujuh imam), Qira’at Asyarah (bacaan 10 imam) dan Qira’at Arba’ah Asyarah (bacaan 14). Upaya yang telah dilakukan oleh Ibn Mujahid tersebut selama bertahun-tahun bukan tanpa kritikan dan perlawanan dari pihak-pihak tertentu. Bahkan ada yang menuduhnya telah mengkotak-kotakkan al-Quran tanpa dasar yang kuat dari Rasulullah saw atau bid’ah. Usaha Ibn Mujahid itulah yang kemudian sampai hari ini kita nikmati.

Untuk di Indonesia, bacaan al-Quran yang populer adalah bacaan imam Ashim Riwayat Hafs Untuk hal ini tidak ada perubahan. Penting untuk diperhatikan, bahwa meski ada perbedaan penyebutan bacaan seperti yang sudah disebutkan, ada Qira’at sab’ah (bacaan tujuh imam), Qira’at Asyarah (bacaan 10 imam) dan Qira’at Arba’ah Asyarah (bacaan 14 imam), tapi tidak mengubah arti dan makna. Untuk penulisan, itu berdasarkan kesepakatan ulama al-Quran Indonesia, Yordania, Mesir, Iraq, Pakistan dan lainnya, dengan menggunakan kaidah penulisan (rasm) Imam Addani karena dari imam Addani inilah yang lebih sesuai dengan rasm Usmani. Untuk penulisan terbuka peluang kodifikasi berdasarkan ijtihad ulama al-Quran. Tujuannya apa, salah satunya untuk memudahkan para pembaca.

Memang ada yang aneh penulisan al-Quran? Bukan aneh, tapi minimal menimbulkan pertanyaan baru bagi pembaca pemula. Seperti tulisan ulaaika, atau maaliki dalam al-Fatihah. Contoh yang saya sebutkan adaah inisiatif saya sendiri, entah masuk dalam sekian tulisan yang direvisi atau tidak.

Semoga tulisan ini menambah wawasan kita semua.

Digubah dari tulisan Abdul Waris Ahmad

Tinggalkan Balasan