Aku Tak Layak Merayakan Tahun Baru Kawan….

Tanggal 29 Desember, mereka bergembira penuh suka cita. Bukan karena liburan akhir semester satu pekan, lebih banyak berkoar dengan harga terompet, dan tempat mana untuk mereka bertahun baru. Kau kira aku gembira karena aku bisa merayakan tahun baru..? Tidak kawan

Resonansi yang dikemas sedemikian rupa, tanpa tahu bahkan ikut-ikutan. Berkutat, berputar, seperti perputaran matahari dan bumi. Riang berharap waktu yang berlalu tak lebih baik dari waktu yang akan datang. Kau kira aku tertawa karena bumi menyambut matahari baru.., dan membuat resolusi di akhir tahun…? Tidak kawan…

Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari huru-hara, dan waktu terlaris penjualan kondom. Hari ini sama saja, hari dimana matahari yang sama yang dilihat Adam dan Hawa, matahari yang kian panas, matahari yang sudah tua, matahari yang dikelilingi bumi selama 365 hari 5 jam 48 menit setiap tahunnya, Waktu relatif, kata Einstein.

Demi masa… sesungguhnya manusia akan merugi, kecuali yang beriman dan beramal shaleh… Hidup ini tak perlu ikut-ikutan berputar seperti perputaran matahari…

Di sana, ujung timur, mereka masih berpikir, “Besok, apa makan?”. Di sana, ujung barat, mereka berpikir, “Besok, makan apa?”. Di ujung utara sana, sedikit congkak mereka riya, berkata, “Besok kita makan di mana?”. Dan, di pusat, setan-setan itu pongah, “Siapa yang kita makan?”

Setan-setan berpesta-pora, ting… bersamaan sumber energi bumi dipompa. Politisi menjadikan hukum sebagai tameng dengan bangga. Sementara di emperan sana, anak-anak jalanan lapar sepanjang hidupnya karena membeli nasi pun tak mampu Gebyar kembang api tak mampu hapus airmata mereka. Mengajak mereka mengerti apa makna tahun baru ?, sudahlah…

Aku tak layak merayakan tahun baru kawan….

3 Comments

  1. faqihReplyJanuari 4, 2013 at 11:23 

    Tak peru dibesar-besarkan. yang merayakan sialahkan, yang tidak juga silahkan… 😀

  2. JahranReplyJanuari 11, 2013 at 01:29 

    Happay new year hehehhe 😀

Tinggalkan Balasan