Lihin Belawa

Hanya Celoteh Guru | Belawa to The World

Pasang Iklan

Tujuan Uji Kompetensi Guru 2015 Apa Sih?

Tujuan Uji Kompetensi Guru 2015 Apa Sih?
Tujuan Uji Kompetensi Guru 2015 Apa Sih?Reviewed by Mushlihinon.This Is Article AboutTujuan Uji Kompetensi Guru 2015 Apa Sih?Mempertanyakan tujuan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 bisa bersifat retoris, pasalnya tujuan Uji Kompetensi Guru 2015 sudah disebutkan oleh pihak Kementerian Pendidikan dalam hal ini Sumarna Surapranata. Selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, dia mengatakan bahwa Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 dilakukan untuk melakukan pemetaan dalam rangka memperoleh baseline tentang kompetensi guru. […]

Mempertanyakan tujuan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 bisa bersifat retoris, pasalnya tujuan Uji Kompetensi Guru 2015 sudah disebutkan oleh pihak Kementerian Pendidikan dalam hal ini Sumarna Surapranata. Selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, dia mengatakan bahwa Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 dilakukan untuk melakukan pemetaan dalam rangka memperoleh baseline tentang kompetensi guru.

Jelas! Lalu kenapa saya menanyakan kembali? Tiada lain karena proses pelaksanaan Uji Kompetensi Guru 2015 tidak mencerminkan hal tersebut. Ada beberapa poin kejanggalan menurut saya yang mengindikasikan kalau UKG 2015 bukan untuk tujuan pemetaan terkait kompetensi guru. Pribadi melihat hasil UKG tidak bisa mewakili totalitas guru yang ada di republik ini memiliki kompetensi yang baik atau tidak. (baca: Info UKG 2015)

Pertama, bentuk ujian yang diberikan. Soal Uji Kompetensi Guru 2015 berupa bentuk pertanyaan pilihan ganda dengan jumlah nomor bervariasi tergantung mata pelajaran. Pertanyaan utamanya, mampukah jawaban dari pertanyaan tertulis kepada guru mewakili predikat kompetensinya? Kalau dikatakan mampu, maka mungkinkah pertanyaan pilihan ganda mewakili hal itu? (baca: ini yang salah dalam pendidikan kita)

Mengetahui kompetensi guru tidak harus berpatokan kepada kemampuan menjawab pertanyaan. Seperti halnya peserta didik, yang hebat bukan mereka yang hanya mampu menjawab pertanyaan tertulis dari gurunya. Banyak peserta didik sukses meski nilai tertulis di sekolah rendah. Demikian pula dengan guru. Kita mafhum akan kemampuan otak kiri dan otak kanan, dan kita tidak boleh menafikan salah satu di antara keduanya bukan?

Terlebih lagi dengan model soal pilihan ganda. Jika soal pilihan ganda menjadi alat ukur, maka di baiknya ada faktor keberuntungan, dan ada pula faktor strategi jitu cara menjawab. Bukan semata mata benarnya jawaban karena yang menjawab tahu, atau salahnya jawaban karena yang menjawab tidak tahu. Siapa sangka saya pernah menjawab semua pertanyaan game kuis milioner dengan benar padahal dari beberapa pertanyaan banyak yang saya tidak mengerti. Itulah keberuntungan. Faktor strategi menjawab juga demikian. Cobalah jawab pertanyaan pilihan ganda dengan memilih opsi B secara keseluruhan, maka dipastikan akan ada jawaban yang benar.

Kedua, jika Uji Kompetensi Guru 2015 adalah pemetaan bagi guru toh beberapa peserta ujian ditemukan bukan guru. Seperti informasi Sekretaris Dikbudpora Tebo, Triyatna yang terjadi di Kabupaten Tebo. Seleksi Uji Kompetensi Guru (UKG) yang seharusnya hanya diperuntukan khusus untuk guru, justru ada penjaga sekolah yang lulus seleksi UKG.

Di Kabupaten Gunungkidul, ada guru yang telah meninggal dunia juga ikut terdata untuk mengikuti UKG. Seperti almarhum Tukino Guru SDN Jambe UPT Wonosari (nomor urut peserta 689), Almarhum Usman Asngari guru SDN Ngunut UPT Playen (nomor urut peserta 755). Lalu bagaimana bisa dikatakan jika UKG adalah pemetaan kalau data yang dipetakan saja sudah kurang cermat?

Ketiga, Uji Kompetensi Guru 2015 sepertinya bukan untuk keseluruhan guru, tapi hanya guru yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan saja. Guru Pendidikan Agama Islam yang notabene berada di bawah kendali Kementerian Agama tidak melaksanakan Uji Kompetensi. Pertanyaan utamanya tentu cara menghitung jumlah guru yang dianggap kompeten secara nasional. Tak akan jadi masalah jika hasilnya dikatakan, hasil Uji Kompetensi Guru 2015 yang sudah melaksanakan ujian saja. (baca: ada apa dengan mata pelajaran PAI di UKG)

uji-kompetensi-guru-2 Fakta ini membuat sebagian guru justru berpikir bahwa Uji Kompetensi Guru 2015 yang dilaksanakan di akhir tahun, tiada lain hanya bentuk penyesuaian anggaran. Dikarenakan Kementerian selain Kementerian Pendidikan tidak memiliki pos anggaran untuk itu, makanya UKG tidak dilaksanakan.

Sejatinya hal ini tidak berkembang menjadi liar dan melahirkan perspektif negatif yang makin berkembang. Jika benar tujuan Uji Kompetensi Guru pemetaan dan mengetahui kualitas kompetensi guru, tak ada salahnya lakukan penelitian lapangan dengan proses uji menjawab soal dan praktek. Lakukan sidak dengan sampel cermat, dan tak perlu menggunakan anggaran negara sampai 261 Milyar untuk pemetaan yang pastinya tidak akurat.

Kompetensi guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjawab pertanyaan dengan durasi waktu yang ditentukan. Banyak guru hebat dalam mendidik dengan inovasi praktisnya. Dan untuk mengetahui itu lihat langsung di lapangan.

Salam untuk pendidikan yang lebih baik

Tags: , ,

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

No Responses

Leave a Reply

2 × five =