Lihin Belawa

Hanya Celoteh Guru | Belawa to The World

Pasang Iklan

Kerugian Pacaran; Belajar dari Kenyataan

Kerugian Pacaran; Belajar dari Kenyataan
Kerugian Pacaran; Belajar dari KenyataanReviewed by Mushlihinon.This Is Article AboutKerugian Pacaran; Belajar dari KenyataanKerugian pacaran sudah diulas banyak, mulai dari tulisan, nasehat, sampai kisah yang hikmahnya ujungnya kerugian pacaran (baca: kerugian pacaran). Ayat al-Quran jelas melarang, dan tidak menyebutkan kecuali ta’aruf dan konsep ta’aruf jauh berbeda dengan pacaran, baik dari maksud maupun tata caranya. Sayangnya, larangan pacaran dan bahaya pacaran tidak didukung sepenuhnya oleh semua pihak. Tontonan, orangtua, […]

Kerugian pacaran sudah diulas banyak, mulai dari tulisan, nasehat, sampai kisah yang hikmahnya ujungnya kerugian pacaran (baca: kerugian pacaran). Ayat al-Quran jelas melarang, dan tidak menyebutkan kecuali ta’aruf dan konsep ta’aruf jauh berbeda dengan pacaran, baik dari maksud maupun tata caranya.

Sayangnya, larangan pacaran dan bahaya pacaran tidak didukung sepenuhnya oleh semua pihak. Tontonan, orangtua, bahkan materi pelajaran justeru mendukung pacaran. “Pacaran sehat” dalam buku olahraga kurikulum 2013 untuk siswa kelas XI, adalah salah satu buktinya. Masih banyak bukti lain, seperti keseriusan pemerintah menormalisir film dan sinetron yang memperlihatkan gaya pacaran usia sekolah.

Kerugian pacaran bukan hanya opini, dan bukan hanya pepesan kosong. Banyak kisah nyata yang menunjukan betapa bahayanya pacaran bagi pasangan muda mudi yang belum terikat dengan hubungan yang sah. Dan fatalnya, kerugian pacaran itu lebih banyak dialami oleh para wanita. Wanitalah yang paling berpotensi merasakan kerugian pacaran.

Penulis mempunyai teman yang pernah berjanji dengan seorang wanita sejak masih usia SMP. Isi janji mereka berdua, kira-kira seperti ini. “Saya tidak akan menikah kecuali dengan kamu.”

Walhasil keduanya bisa menjaga janji mereka masing-masing. Keduanya masing-masing mengejar cita dan asa. Sampai keduanya memiliki masa depan yang mapan. Datanglah si pria melamar untuk memenuhi janjinya. Namun sayang, rencana itu ditolak, karena orang tua pria ternyata juga sudah mengikat janji dengan sahabatnya untuk saling menikahkan kedua anak mereka.

Jodoh berada di tangan Tuhan. Apa daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhan pulalah yang menentukan. Puluhan lamaran kepada wanita, tertolak begitu saja demi sebuah janji yang tak sampai. Si pria takut durhak sama orangtua. Orangtua tidak mau mengingkari janji dengan sahabatnya.

Kisah nyata itu mirip dengan kisah yang baru terjadi di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Kajang. Seorang wanita tak mampu menahan kesedihan di tinggal sang pacar, padahal usia pacaran mereka sudah cukup lama.

Namanya Risna, ditingal menikah oleh kekasihnya, Rais. Mereka pacaran sekitar sembilan tahun, sejak 2005. Wanita mana yang tak sedih. Kesetiaan yang senantiasa dijaga, dalam kebersamaan yang salah, berbalut kemasan pacaran, akhirnya buyar. Rais menikah dengan wanita lain.

Tak tahan akan kesedihan, Risna datang pada hari H pernikahan Rais. Dan di depan para tamu, dia tak kuasa menahan dan memeluk mantan pacarnya, tanpa rasa malu. Anehnya, para undangan ikut terhanyut, ada yang menangis melihat kejadian itu. Konon, keluarga Rais pernah melamar Risna, namun ditolak oleh keluarga Risna dengan berbagai alasan.

Dua kisah tadi menyisakan hikmah yang seharusnya menjadi pelajaran buat kita semua. Pertama, budaya pacaran, berhubungan dengan lawan jenis, sepertinya bukan lagi hal tabu. Orangtua kebanyakan sudah maklum melihat anaknya pacaran. Muda-mudi pun tak malu mendeklarasikan dirinya pacaran di depan umum.

Pengaruh terbesar ada pada media televisi. Sesuatu yang salah jika diulang ulang akan menjadi benar. Remaja setiap hari disuguhkan pergaulan muda mudi atas nama cinta. Salah, namun karena berulang akhirnya menjadi alasan kalau itu tidak salah.

Risna, gadis berhijab yang menggegerkan dunia maya. Sumber gambar: jppn.com

Risna, gadis berhijab yang menggegerkan dunia maya. Sumber gambar: jppn.com

Kedua, siapa yang salah? Keadaan ini mengalir tak terbendung. Anak pacaran, dianggap biasa. Padahal pacaran penuh dengan kerugian, terutama bagi pihak wanita. Hallo…. Bagaimana kabar para wanita yang sudah termakan janji. Wanita punya masa, masa yang sulit di tengah persaingan pilihan wanita cantik, yang lebih muda, yang lebih muda, merona, kinyis kinyis manis rasa manggis. Masihkah ada yang berjanji untuk “Risna” untuk yang kedua kalinya?

Berapa usia “Risna,” dan Risna-Risna lain di luar sana? Semoga, dia masih punya harap, dalam haus pengetahuan para pria pencari pendamping hidup. Semoga masih ada ada nalar mengakui dia sebagai wanita baik, meski pernah tak sungkan memeluk pria di depan umum. (baca: Chen Long dan Wang Shixian pacaran)

Ketiga, kisah di atas menyiratkan bahwa jodoh ada campur tangan yang Maha Kuasa. Pacaran sembilan, sepuluh, dua puluh tahun, bukan jaminan cinta atas nama pacaran akan bertemu di pelaminan. Lalu apa yang kita harap dari pacaran, kalau bayang-bayang hidup bersama sebagai suami isteri juga tidak jelas?

Kenyataan ini kalah, kalah oleh kekuatan dengan bahasa sok bijak, “nikmati saja, mengalir saja, nikmati masa muda, ambil positifnya, semua indah pada waktunya,” dan bahasa sok bijkak lain, padahal apa yang dilakukan sudah keliru. Pacaran adalah kekeliruan terbesar, dan membuka lebar peluang zinah. Tak perlu kebijak terhadap sesuatu yang salah.

Melalui tulisan ini, saya berpesan kepada adik saya yang masih muda, yang masih punya masa depan, para wanita, ketahuilah; seburuk apapun laki-laki akan mencari wanita yang baik. Jangan pernah mencoba menorehkan sesuatu sehingga orang akan menganggapmu wanita tidak baik, meski bahasanya adalah pacara. Banyak kerugian pacaran, biasakan untuk sedikit merenung. Itu saja…

Tags: , ,

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

No Responses

Leave a Reply

five × five =