Kenapa Harus Jerman ?

Dalam catatan sejarah, Jerman dan Argentina bertemu 20 kali dalam ajang sepakbola Internasional. Akumulasi keseluruhan dimenangkan oleh Argentina dengan sembilan kemenangan, dan Jerman tujuh kali kemenangan. Sisanya, berakhir imbang. Namun dalam ajang Piala Dunia, Jerman lebih unggul. Dari lima kali pertemuan, Jerman tiga kali meraih kemenangan dan sekali kalah. Imbang pada Piala Dunia 1966.

Tentu catatan sejarah bukanlah sebuah patron kemenangan berikutnya. Bagaimana Brazil harus menelan kekalahan terbesar di rumah sendiri, adalah contoh sejarah baru yang menafikan sejarah lama.

Banyak yang menjagokan Lionel Messi akan mengangkat trofi Piala Dunia di Maracana. Alasannya, mitos benua. Belum pernah ada tim Eropa yang mampu menjuarai Piala Dunia yang digelar di benua Amerika. Mitos tetaplah mitos dan tidak bisa dipegang sebagai kebenaran. Toh perwakilan Eropa, Belanda, mampu mengalahkan Mexico, salah satu negara Amerika Latin. Belum lagi dukun Brazil yang akhirnya gagal memenangkan Brazil saat bertemu dengan Jerman di semi final. Intinya, ajang Piala Dunia bukanlah ajang mistis, tapi adu skill, strategi dalam sepakbola.

Kita akan melihat hal lain dalam final Piala Dunia 2014 Brazil antara Jerman vs Argentina dari pendekatan berbeda, dan saya menjagokan Jerman. Lalu kenapa harus Jerman?

Tim dengan akumulasi 17 gol ke gawang lawan sampai babak final, tim yang mempecundangi Brazil dengan skor memalukan 7-1, sudah barang tentu barisan tim jerman akan menjadi menakutkan. Jermanlah satu-satunya negara yang tidak pernah gagal masuk putaran final Piala Dunia kecuali kalau tim Jerman terkena sanksi akibat perang dunia. Tak salah jika Gary Lineker mengatakan “Sepak bola adalah permainan sebelas orang melawan sebelas orang lainnya yang akhirnya dimenangkan Jerman.”

Kenapa harus Jerman? Jerman adalah Negara dengan segudang filosof, beda dengan Argentina. Siapa yang tak kenal filosof beken seperti Nietzsche, Theodore Adorno, Marx Horkheimer, Sigmund Freud, Martin Heiddeger, Karl Marx, Immanuel Kant, Ludwig Feurbach, G.W. F. Hegel, Ludwig Witgenstein, Edmund husserl, dan Jurgen Habermas. Apa hubungannya. Sederhana saja. “Manusia hidup oleh dan dengan dua tujuan utama, yaitu kerja kerasdan tujuan komunikatif (interaksi)”. Teori filsafat ini dikeluarkan oleh Jurgen Habermas, filosof asal Jerman (1929). Teori ini sebenarnya melengkapi teori pendahulunya, Marx.

Perhatikan mekanisme permainan sepakbola Jerman. Polanya adalah pola kerja keras dan sangat komunikatif. “Mereka punya gaya masing-masing yang saling kontradiktif. Argentina cenderung mengandalkan individu, sementara Jerman tetap dengan ciri khasnya, kolektif untuk tak membiarkan lawan berkembang,” demikian kata Legenda sepakbola Inggris, Alan Shearer.

Teori filosof asal Jerman bukan hanya menjadi pajangan, tenggelam dalam tumpukan narasi teori belaka. Bagaimana Sigmund Freud yang bangga dengan teori egonya tercermin dalam konstalasi persaingan Bundes Liga. 50% pemain asal Jerman tampil sebagai starter untuk klub mereka di Bundesliga, bandingkan dengan jumlah 35% pemain asli Inggris yang yang turun sebagai starter di Premiership. Inilah yang oleh banyak pengamat bola membuat skill pemain Jerman tetap terjaga, tidak terpengaruh oleh persaingan keras dari pemain luar.

Sepakbola tetap sepakbola, kita hanya bisa memprediksi. Akurasinya tergantung metodologi yang kita gunakan. Tulisan ini bukanlah prediksi bola dengan mengedepankan metodologi sahih, mungkin seperti QuickCount yang ramai hari ini. Hal penting seperti kata teman saya, Kalau versi Real Count FIFA dalam pertandingan Jerman vs Argentina beda dengan versi Quick Count pengamat bola, maka jangan tuduh FIFA pasti curang.

Salam Damai

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend