Bunga Bank Dalam Islam; Setengah Halal Setengah Haram

Celoteh ini adalah akumulasi dari carut marut kondisi perekonomian dan penetapan hukum (Islam) dalam konteks ke-Indonesia-an. Hukum bunga bank dalam Islam haram menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan fatwa tahun 2003, tentu mengejutkan banyak pihak terutama pelaku. Dilematis, satu sisi haram (jika mengikuti fatwa MUI), sisi lain kebutuhan mendasar manusia (kekinian). Mengenai judul, perlu dipahami, bahwa dalam hukum Islam tidak ada celah setengah halal dan setengah haram, karena kalimat tersebut bersifat ambigu dan samar, pastinya keluar dari kaidah hukum yang harusnya jelas.

Banyak sekali artikel tentang hukum bunga bank dalam Islam, dan mayoritas menghukuminya haram. Riba dalam berbagai kamus berarti al-Fadhlu wa al-Ziyadah (tambahan) dalam satu akad jual beli atau pinjaman. Pemberian bunga bank, terutama terjadi pada bank konvensional dengan berbagai bentuk jasa seperti giro, deposito berjangka, tabungan, obligasi, KUK, dan lain-lain, yang menetapkan kelebihan dari pokok pinjaman. Kelebihan itu ditafsirkan bermacam-macam, salah satunya sebagai sewa atau harga dari nilai uang.

Jika berdasar dari definisi kamus “al-Qamus al-Fiqhiy,” hal ini termasuk riba nasi’ah, yaitu tambahan yang dipersyaratkan oleh pemberi piutang dari orang yang berutang sebagai ganti penundaan (pembayaran). Contoh, seorang PNS meminjam uang di bank konvensional Rp. 100.000.000 dengan masa 10 tahun. Pembayaran diambil dari gaji bulanan sebesar 60% dari total gaji atau penghasilan. 10 tahun atau masa jatuh tempo, total pembayaran adalah Rp. 217.000.000. Kelebihan Rp. 117.000.000 menurut definisi ini adalah riba nasi’ah.

Landasan utama fikih mengenai larangan riba dapat dilihat dalam nash al-Quran dan hadis. Ayat yang saya angkat riba untuk contoh kasus di atas, adalah QS. al-Baqarah ayat 278-279; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Demikian pula hadis; dari Sulaiman bin Amr bin al-Ahwash, bapakku menceritakan kepada kami bahwa ia melaksanakan haji wada bersama Rasulullah saw. (Ketika berkhutbah, Nabi memulai dengan) memuji Allah lalu beliau memberi peringatan dan nasihat. Kemudian beliau berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya semua riba pada masa jahiliyyah dibatalkan. Bagi kalian (hanya) uang pokok kalian, kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi …”

Dari dua landasana dalil tersebut, tanpa kajian, akan dipahami bahwa bunga bank dalam Islam hukumnya haram. Namun demikian tanpa berniat mengaburkan penafsiran ulama, ada catatan kecil yang layak dijadikan bahan pertimbangan. Bahwa hukum bunga bank dalam Islam belum dibahas oleh ulama salaf. Adapun masalah bunga bank, oleh ulama kontemporer yang kemudian mengkategorikan sebagai riba.

Pada masa Nabi saw dan ulama salaf, belum ada istilah inflasi, karena sistem ekonomi memang berbeda dengan sekarang terutama di Indonesia. Inflasi kira-kira bermakna perubahan nilai mata uang akibat ketidak stabilan ekonomi, bisa karena barang lebih banyak dari uang yang beredar atau uang beredar lebih banyak. Mata uang yang dipergunakan pada masa itu adalah mata uang yang stabil, dinar dan dirham. Artinya, 1000 dirham tahun 2013, nilainya sama dengan 1000 dirham tahun 2030 dst. Karenanya, pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman menggambarkan keadilan. Tidak ada pihak pemberi hutang atau pengutang yang teraniaya seperti ayat dan hadis di atas.

Sangat jauh berbeda dengan sistem ekonomi di Indonesia. Bukti adanya inflasi bisa dilihat dari kenaikan harga BBM, kenaikan gaji PNS, fluktuasi IHSG dll. Rp. 100.000 hari ini, nilainya bisa jadi Cuma Rp. 1000 10 tahun yang akan datang. Artinya, jika sistem penambahan (ziyadah) yang kemudian divonis sebagai kategori riba tidak diberlakukan, maka peminjam dengan masa pinjaman 10 tahun akan untung, karena nilainya tidak sama saat pinjaman dilakukan. Dan pemberi pinjaman dipastikan teraniaya.

Hal ini tidak luput dari bahtera ilmu ulama sekelas Ibnu Taimiyah, yang hidup dengan mata uang dinar dan dirham (w. 728 H/1328 M), dan beliau menyadari hal ini. Ia mengakui bahwa mata uang pada masanya tersebut bukanlah maksud dan tujuan akhir. Ia tidak lebih dari sekadar fasilitas dalam transaksi manusia. Bahkan jauh sebelumnya, Imam Malik telah menyatakan bahwa seandainya manusia sepakat menggunakan kulit binatang sebagai mata uang, maka ia akan menghukuminya sama sebagaimana hukum dinar dan dirham.

Bagaimana hukum bunga bank dalam Islam?, menjadi pertanyaan penutup dalam celoteh saya ini. Pertama; kita harus adil menilai bahwa kelebihan akibat pinjaman sebagai akibat inflasi dan terkait dengan skala besar yaitu sistem ekonomi Negara. Mengingkari hal itu, berarti kita secara sadar, mengingkari kenaikan harga, perubahan mata uang, kenaikan gaji PNS (bagi PNS) dll, yang semua dipengaruhi oleh inflasi. Implikasinya jelas, pasti salah satu dari peminjam atau pemberi pinjaman akan teraniaya. Dan inilah tujuan akhir haramnya riba yang harus dihindari berdasarkan ayat di atas.

Kedua: jika inflasi menjadi alasan faktor pertimbangan dalam pembayaran hutang, maka hendaknya dilakukan secara adil, konsisten dan akurat. Karena selain memperhitungkan kondisi inflasi, hendaknya memperhitungkan kondisi deflasi. Di sinilah letak perbedaan antara bank konvensional dengan rentenir. Bank konvensional memperhitungkan perubahan nilai mata uang akibat inflasi dengan perhitungan ekonomi secara akurat, sedangkan rentenir tidak, tapi hanya berdasarkan perkiraan belaka.

Ketiga: meminjam pesan pakar tafsir Prof. Quraish Shihab; “Jika kamu berada dalam pusaran air sungai yang deras, tidak usah melawan arus, karena hanya akan menghabiskan tenagamu. Mengalirlah, dan berusaha menancapkan kakimu ke dasar sungai, atau menggapai pegangan sembari mengumpulkan tenaga.” Demikian perumpamaan yang harus dilakukan ketika seorang hamba dalam posisi terdesak atau terpaksa.

Hukum bunga bank dalam Islam jika dilihat konteks ke-Indonesia-an, posisinya sangat dilematis. Menghindari agar tidak ada yang teraniaya baik peminjam dan pemberi pinjaman berarti mutlak meniscayakan tambahan. Sedangkan menghindari tambahan dan dikaliam sebagai riba berimplikasi sebaliknya, kecuali Negara keluar dan berganti sistem ekonomi. Menurut saya bunga bank dalam Islam hukumnya setengah halal setengah haram. Tapi hanya di Indonesia dan Negara yang terpengaruh inflasi.

Komentarlah dengan bijak, mudah dipahami