Lihin Belawa

Hanya Celoteh Guru | Belawa to The World

Pasang Iklan

Bertengkar dalam Rumah Tangga, Boleh Kok. Ini Caranya!

Bertengkar dalam Rumah Tangga, Boleh Kok. Ini Caranya!
Bertengkar dalam Rumah Tangga, Boleh Kok. Ini Caranya!Reviewed by Mushlihinon.This Is Article AboutBertengkar dalam Rumah Tangga, Boleh Kok. Ini Caranya!Pernikahan dalam suatu rumah tangga meniscayakan perbedaan. Dari perbedaan itu meniscayakan pertengkaran. Dengan berat hati saya katakan, di balik indahnya pernikahan, pasti ada pertengkaran. Ini adalah jaminan mutu. Bertengkar dalam rumah tangga jangan dianggap atau divonis sebagai hal negatif saja. Bertengkar dalam rumah tangga kadang menjadi positif kok, tergantung cara kita melakukannya. Dalam sebua penelitian, […]

Pernikahan dalam suatu rumah tangga meniscayakan perbedaan. Dari perbedaan itu meniscayakan pertengkaran. Dengan berat hati saya katakan, di balik indahnya pernikahan, pasti ada pertengkaran. Ini adalah jaminan mutu. Bertengkar dalam rumah tangga jangan dianggap atau divonis sebagai hal negatif saja. Bertengkar dalam rumah tangga kadang menjadi positif kok, tergantung cara kita melakukannya.

Dalam sebua penelitian, orang yang pacaran sebelum menikah akan rentan bertengkar setelah menikah. Cara bertengkarnya pun cenderung frontal. Mau tahu kenapa? Karena sebelum menikah (saat pacaran) semua jurus romantis agar makin dicintai sudah dikeluarkan, akhirnya saat berumahtangga dengan pacarnya, jurus itu menjadi hambar.

(baca juga: tips membuat pria mengakui kebohongannya)

Berbeda dengan yang pacaran setelah menikah. Semua serba alami. Bertengkarnya pun alami, sehingga pertengkaran itu mudah di-manage lebih proporsional dan profesional. Bertengkar dalam rumah tangga secara profesional adalah kemampuan memainkan emosi, karena sebenarnya bertengkar itu adalah diskusi yang bermuatan emosi saja. Mau tahu cara bertengkar dalam rumah tangga yang baik? Berikut caranya:

Pertama, hindari bertengkar bareng. Maksudnya mana mungkin bisa berdiskusi tanpa ada teman? Mana mungkin bisa bertengkar tanpa ada lawan bertengkar? Maksudnya adalah jika suami berdiskusi dengan muatan emosi yang tinggi, maka isteri, cukup dengan emosi sedang sedang saja. Apa salahnya, jika yang satu marah, yang lain diam saja? Tidak sulit, masalahnya ada pada kontrol emosi.

Kedua, saat bertengkar usahakan topiknya satu saja. Pertengkaran akan berakhir dengan perang, lempar prabot, ngambek berkepanjangan, dll, jika pertengkaran mengangkat topik yang beragam. Apalagi mengungkit masa lalu masing-masing.

“Tak kusangka kamu seperti ini pelit!, saya ingat dulu waktu kamu pelit sama saudaraku!”.

Kalimat tadi adalah contoh kalimat pertengkaran yang tidak baik, dan tidak profesional. Silahkan bahas pelit dalam pertengkaran, tapi apa gunanya dengan membahas sifat itu yang terjadi di masa lalu?

Ilustrasi

Ilustrasi

Ketiga, jangan bawa orang lain dalam pertengkaran. Apalagi jika membawa nama keluarga lain. Ini akan memancing pertengkaran yang lebih besar, dan itu tidak baik.

“Kamu mirip dengan saudaramu, jelek!”

Kalimat itu adalah kalimat yang sudah berbahaya. Menvonis fisik dengan kata “jelek” mungkin masih bisa dikendalikan, tapi melibatkan orang lain apalagi saudara, itu adalah kalimat pertengkaran yang sangat dilarang.

(baca juga: rahasia perbedaan pria dan wanita)

Keempat, hindari marah dan pertengkaran di depan anak. Anak akan meniru kebiasaan orang tuanya. Bertengkar di depan anak akan memicu potensi anak punya sifat pemarah. Selain itu, marah berbalas marah bukanlah dunia anak-anak. Seorang anak yang melihat orang tuanya bertengkar, dia akan bingung harus memihak siapa.

Kelima, jangan marah terlalu lama. Emosi yang tersimpan lama, dendam namanya. Dendam tidak akan membawa kebaikan apapun. Bahkan efek dendam juga berdampak pada fisik. Orang sering menyimpan dendam, akan terlihat lebih tua.

Dalam islam, marah dalam pertengkaran baiknya selama waktu satu antara waktu shalat. Misalnya, marah setelah shalat subuh, berhentilah sebelum dzuhur. Bukankah setiap shalat kita tahiyyat dan membaca “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadil-ahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba-hambaMu yang shaleh.

Keenam, ini yang terakhir. Kita make logika. Isteri atau suami adalah orang kita cintai. Keduanya saling mencintai. Nah kalau kita mencintai, kenapa sulit untuk saling memaafkan? Rahasia pertengkaran dalam rumah tangga yang menjadi kebahagiaan adalah saat saling memafkan. Tak percaya? Silahkan lakukan hehehehe

Tags: , ,

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

2 Responses

  1. rosyidApril 12, 2016 at 09:06Reply

    bagus banget nih artikelnya, sangat informatif.

  2. buah tinMarch 6, 2017 at 16:24Reply

    hahaha. kirain teh emang beneran diperbolehin. admin mah aya aya wae lah

Leave a Reply

sixteen − one =