Alhamdulillah Acara “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI Tidak Tayang

Beberapa hari menjelang bulan suci Ramadhan, beberapa cuplikan siaran televisi mulai marak. Cuplikan siaran televisi ini adalah program yang dipersiapkan stasiun televisi pada saat siang dan malam-malam Ramadhan. Salah satu acara yang banyak ditunggu para pemirsa adalah acara “Hadits-Hadits Palsu” yang dijadwalkan selepas sahur. Program khusus Ramadhan ini direncanakan tayang pada pukul 04.30-05.00 WIB. Sesuai judul acaranya, dipastikan mengupas tentang hadis-hadis populer di masyarakat.

Pertama kali melihat iklan ini, dari hati kecil yang paling dalam ada rasa tidak sepakat acara ini tayang di Negara mayoritas muslim, namun tidak menggunakan hukum dari agama penduduk mayoritas. Mungkin ketidak-sepakatan saya ini berbeda dengan beberapa orang yang sampai malam ini ramai di akun twitter dan fun page RCTI menanyakan kenapa acara ini tidak tayang.

Dari sisi memperkaya khazanah keilmuaan terutama dalam bidang hadis tentunya, acara ini sangat ditunggu banyak orang, terutama bagi sebagian penggiat ke-islaman demi kemajuan islam atau mungkin tujuan lain.

Ada beberapa alasan kenapa saya tidak sepakat acara “Hadits-Hadits Palsu” ini ditayangkan;

Pertama: menentukan sebuah hadis palsu atau asli, tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan beberapa kriteria penguasaan pengetahuan seputar hadis yang akan diklaim sebagai palsu atau tidak. Seperti Ilmu Rijal al-Hadis, Matn al-Hadis, Takhrij al-Hadis dan masih banyak ilmu yang berkaitan lainnya.

Sebagai pertimbangan, saya teringat dengan seorang kandidat doctor dalam bidang hadis ketika merunut satu hadis hanya dari sisi ke-dhabit-an perawinya membutuhkan waktu sekitar seminggu. Ini untuk satu sisi dan satu hadis saja, dan bukan untuk mengklaim hadis itu palsu atau tidak.

Pertimbangan lain, sejarah mencatat banyaknya perbedaan dari kalangan ulama salaf dan kontemporer dari sisi penetapan hukum, terkadang bersumber dari satu masalah yaitu, perbedaan memaknai suatu hadis, dari berbagai sisi yang terkait dengan hadis yang dijadikan sumber dalil dan rujukan. Artinya, satu hadis di dalamnya bahtera luas dari berbagai aspek yang harus dikaji.

Sampai di sini, maka lahirlah pertanyaan; siapa pembawa acara “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI?. Tanpa niat memandang rendah kadar keilmuan seseorang, dari pertimbangan pertama dan kedua bisa ditarik kesimpulan dengan sedikit membandingkan sebuah acara di televise, akan terjadi benturan dengan waktu, dan pertanyaan presenter. Realnya begini, ketika pembawa acara mengatakan hadis ini palsu, benarkah itu palsu?, atau jangan-jangan, pernyataan pembawa acara itu yang palsu. Cukupkah waktu yang sedemikian singkat untuk mengklaim sebuah hadis palsu atau tidak?.

Kedua: mari kita sedikit berbicara dengan efek pernyataan singkat dari sebuah fatwa agama di televisi. Kalau tidak salah tiga tahun lalu, pakar tafsir M. Quraish Sihab merilis pernyataan bolehnya wanita muslimah tidak memakai jilbab, ungkapan itu bukan fatwa, tapi pak Quraish mengutip salah satu pendapat dari seorang Ulama, tapi apa yang terjadi?, banyak yang justru tidak melihat hal itu sebagai kutipan tapi sebagai fatwa.

hadis-palsu

Kalau hari ini ibadah sebahagian masyarakat nilainya 8, saya tidak bisa membayangkan setelah acara “Hadits-Hadits Palsu” tayang, nilainya menurun di bawah 8. Kemalasan dan godaan akan dibantu dengan sedikit pengetahuan bahwa ini palsu dari pernyataan seorang nara sumber, yang sebenarnya bukan fatwa.

Sebagai perumpamaan, ketika pemerintah mengumumkan hari lebaran jatuh hari kamis, dan salah satu organisasi mengatakan hari Rabu, maka banyak yang memilih hari Rabu. Karena selain mendukung kemalasan beribadah, godaan, ada juga yang melihat lebaran pada hari rabu itu adalah fatwa. Intinya kualitas keagamaan masyarakat kita belum sampai ke situ (maaf kalau ini klaim).

Alangkah lebih bijak, jika mengetahui suatu hadis palsu atau tidak, bukan melalui kemasan mengumbar di televisi. Pengetahuan tentang kesahihan hadis adalah pengetahuna lanjutan. Seperti halnya memberikan daging sapi kepada seorang bayi. Daging sapi itu baik, tapi belum cocok untuk kadar seorang bayi.

39 Comments

  1. Muhammad FikriReplyJuli 18, 2013 at 13:33 

    acara itu bagus lagipula kaan narasumber acara tersebut memiliki pemahaman hadist yang baik…

    • MushlihinReplyJuli 19, 2013 at 15:41 

      Betul, tapi sebaiknya mempertimbangkan penilaian terhadap seorang nara sumber 🙂

  2. rizal ahmadReplyJuli 19, 2013 at 07:36 

    untuk pengemasan acara saya juga setuju pendapat anda. namun dari segi narasumber perlu anda cermati ulang karena di acara tersebut juga menampilkan narasumbernya yaitu salah satu imam besar masjid istiqlal jakarta Ali Musthafa Ya’qub, beliau merupakan orang yang juga ahli dalam hal hadist. jadi untuk narasumber bisa dibilang terpercaya..
    terimakasih..

    • MushlihinReplyJuli 19, 2013 at 15:48 

      Tidak ada yang meragukan kredibilitas beliau. Tapi tidakkah kita belajar dari perdebatan ulama besar bahkan termasuk guru dari Imam masjid Istiqlal ini, seperti yang saya kemukakan di bagian awal. 🙂

  3. fitrah ramadhanReplyJuli 19, 2013 at 09:48 

    acara itu bagus sekali sebenarnya, karena dengan begitu kita dapat membedakan yang mana hadist dhoif dan yang mana hadist shahih, jikalau kita tidak tahu maka kita kan tenggelam kepada kesalahan, mungkin banyak masyarakat indonesia yang tidak ada niat untuk mencari suatu kebenaran hadist, tetapi setelah melihat tayangan tadi, mungkin nantinya dia mau untuk mencari kebenaran hadist yang ia temui nantinya.

    • MushlihinReplyJuli 19, 2013 at 15:49 

      Betul, tapi untuk sebagian orang. Dan untuk masyarakat Indonesia keseluruhan, sya kira belum pantas 🙂

  4. HafizahReplyJuli 19, 2013 at 15:53 

    Acara itu sangat bagus…
    Insya Allah adalah acara keilmuan ISLAM yang terbagus yang pernah ada.
    98% mahasiswa dan dosen IAIN SUMUT mengatakan acara itu bagus dan sudah sesuai kadarnya, karena apa yang disampaikan narasumber fakta adanya dan penuh referensi.
    Yang bilang gak bagus ya paling para jemaah yang selalu mengikuti hadits dhoif trus merasa tersinggung ketika mendapat justifikasi palsu, ya mungkin seperti Anda.

    • MushlihinReplyJuli 20, 2013 at 19:33 

      Seperti yang saya katakan, untuk kalangan tertentu itu bagus. Tapi pernahkah Anda berpikir tentang “ketahanan” beragama?. Pernahkah anda berpikir tentang efek saling menyalahkan setelahnya. Penting: Pembenaran akan terjadi sepihak atas nama narasumber 🙂

  5. eep sohibahReplyJuli 20, 2013 at 03:08 

    saya setuju dengan pak muhlisin, terutama untuk ketentraman beribadah di indonesia yg masih majemuk,sejarah dan kultur menjadi sebab, siapapun pasti menolak hadis palsu, dan tidak ada yg meragukan kredibilitas narasumbernya, namun ada yang tempat untuk menyampaikan acara tersebut, dan TV bukan tempat yang baik, karena hadist palsu adalah ikhtilaf, dan bukan sekarang, tapi sejak ribuan tahun lalu.

    • farhanReplyJuli 24, 2013 at 01:08 

      betul saya sangat setuju … untuk acara tersebut tidak ditayangkan …

  6. MushlihinReplyJuli 20, 2013 at 19:38 

    Betul. Itu yang saya maksud 🙂

  7. sidiq fathonahReplyJuli 26, 2013 at 07:47 

    saya menilai konten acaranya bagus, dan sudah layak di rilis mnjd sebuah tayangan.., ini bargkali lngkah positif –perkara ada dis-interpretasi, memang tdk bs trhindarkn.., saya menyepakati: MEMENANGKAN YANG BAIK, mudh2n rating’y makin membaik..,amin

    • MushlihinReplyJuli 26, 2013 at 14:59 

      Dan yang patut dipertimbangkan, hal ini terkait animo umat 🙂

  8. Zahdan RazzaqReplyJuli 28, 2013 at 23:32 

    Saya rasa apapun memang pasti ada konsekwnsinya, anda mungkin pak muslihin ada di pihak yg kontra dgn alasan masyarakat belum siap, walaupun maaf sy rasa sangat susah sekali jika penyampaian kebenaran harus menunggu kesiapan semua masyarakat.

    • MushlihinReplyJuli 29, 2013 at 07:30 

      Gk apa2, kita memang tak perlu menunggu kesiapan dalam menyampaikan kebenaran, tapi dengan mengemas acara tidak vulgar salah satau bentuknya… 🙂 seperti mengajar mahasiswa, anak TK harus keluar dulu 🙂

  9. adhyReplyAgustus 1, 2013 at 16:09 

    Kang Mushlihin ini memang maksud pemikiranya seperti itu,walaupun yg mendukung acara Hadist-hadist palsu berkomentar positif. Tetep aja kang Mushlihin kekeh dg pendapatnya. Singkatnya penulis blog gak mau argumenya terkalahkan oleh komentator yg kontra thd kang mushlihin. Nanya balik nih ama kang Mushlihin yg anda permasalahkan kan hanya tempat mengulas dan durasi yg menurut anda tdk tepat.? Bgmn andaikan semua pengkajian dimasyarakat diisi narasumber yg berkompeten dlm Hadist,memberikan pengetahuan kpd masyarakat ttg Hadist palsu ? Dan ternyata berefek positip – anda jgn menilai efek negatifnya dulu ya,optimis dl dg hasilnya – Apa anda setuju ?.

    • MushlihinReplyAgustus 1, 2013 at 19:08 

      Why Not?…. Gk ada niat agar masyarakat tidak tahu kok, cuma kemasannya saja 🙂

  10. adhyReplyAgustus 1, 2013 at 16:13 

    Pak Mushlihin, emang ada juga ya Mahasiswa dg anak TK satu ruangan ? Kok mahasiswanya harus keluar duluan ?

  11. edjotReplyAgustus 2, 2013 at 21:19 

    acaranya bukan ditiadakan/ditiadakan tapi dipindah, bukan karena orang2 yang kontra mengajukan “ketidak sukaannya” kepada pihak RCTI namun karna animo/rating acara, coba disimak di
    mungkin maksud yang ingin disampaikan saudara Mushlihin baik namun terkadang hal baik belum tentu benar tapi hal yang benar udah pasti baik…

  12. isaReplyAgustus 3, 2013 at 18:39 

    sampaikanlah ilmu walaupun hanya satu ayat,
    sampaikanlah kejujuran
    walaupun pahit rasanya
    ORANG PINTAR adalah orang yg tahu/mengetahui kalau dirinya itu BODOH/banyak kekurangan
    akan ttapi
    ORANG BODOH adalah orang yg tidak mau tahu kalau dirinya itu sebenarnya BODOH

    *intinya jadi kalau mau pintar yah belajar
    *A artinya tidak, dan GAMA artinya kacau, jadi orang yg beragama seharusnya tdk kacau, bagaimana tdk kacau kalau hak dan bathil dijadikan satu, palsu yah katakan palsu, islam itu hrs tegas agr tdk kacau

  13. RizqiReplyAgustus 4, 2013 at 17:22 

    Kenapa Acara yg menurut saya bagus hrs dihentikan, Kapan kita tahu kalau yg selama ini keliru tdk dikasih tau. Saya lihat diantara yg memberi komentar banyak yang setuju dengan acara tersebut tayang.

    • MushlihinReplyAgustus 4, 2013 at 19:29 

      Cari tahu sesuai dengan konteks dan kontennya. Silakan baca komentar saya sebelumnya. Kurangnya komentar dalam celoteh ini bukan ukuran jumlah setuju atau tidak 🙂

  14. firmansjah abdullahReplyAgustus 5, 2013 at 09:50 

    para narasumber nya saya rasa dapat dipertanggungjawabkan. kadang agak tersentil sedikit sih, terutama kita yang selama ini menjalani apa yang disampaikan hadits2 lemah/palsu tersebut. benar gak ?

    • MushlihinReplySeptember 1, 2013 at 07:44 

      Masalah tersentil atau tidak, kalau benar kenapa tidak. Yang mengkhawatirkan jika acara ini toh berdampak melemahkan motivasi beribadah 🙂

  15. pardi albukhoriReplyAgustus 16, 2013 at 00:46 

    jangan saling merasa benar,dan mencari kekurangan/kesalahan seseorang,krn blm tentu apa yg kita lakukan itu benar di mata ALLAH swt.mari kita koreksi diri sendiri.

  16. sodikunReplyAgustus 30, 2013 at 08:12 

    saya tanya kepada anda,umur berapa Imam bukhari saat mulai mencari hadits?umur berapa Imam Ahmad bin Hambal mulai belajar hadits?tidak ada kata belum waktunya untuk mengetahui ilmu hadits,agar kita tidak tertipu oleh hadits2 palsu, apalagi jika sejak kecil dicekoki oleh hadits2 palsu,bisa terbawa hingga dewasa,yang pada ahirnya akan meyakini bahwa hadits palsu itu adalah hadits shahih…saya berdo’a insyaAllah RCTI menayangkan acara ini,tentunya akan menuai kritikan dari ustadz2 yang biasa membawakan hadits2 palsu karena income fulus mereka dan popularitas mereka akan memudar….

  17. sodikunReplyAgustus 30, 2013 at 08:14 

    jadi kalau menurut pak Muslihin kapan pantasnya??apakah akan menunggu kiamat baru pantas begitu?ayo jawab pak,jangan asal ngomong aja

    • MushlihinReplySeptember 1, 2013 at 07:43 

      Baca aja baik2 artikel dan komentar saya sebelumnya, ini masalah kemasan saja … 🙂

      • sodikunReplySeptember 1, 2013 at 09:57 

        rupanya pak Mushlihin ini tidak ingin income nya dan kredibilitasnya terganggu oleh acara ini,apakah bapak ini muslim?atau bapak ini pura2 jadi muslim? karena seorang muslim pasti akan senangbjika saudaranya semuslim diberitahukan ilmu…dan diberikan pengetahuan bahwa selama ini mereka sudah dibohongi oleh ustadz jadi2 an yang sering mencekoki mereka dengan hadits palsu yang mungkin si ustadz sendiri tidak tahu kalau hadits tersebut palsu….jadi alasan anda mengenai belum waktunya,apakah anda sudah mendata siapa saja yang nonton acara ini?apakah anda tahu segala2 nya? apakah anda mau mengatakan anda tuhan?

        • MushlihinReplySeptember 19, 2013 at 12:35 

          Hehehe… tuduhan anda bisa jadi fitnah lho 🙂

  18. sodikunReplySeptember 1, 2013 at 09:59 

    acara hadits2 palsu di RCTI lebih bermanfaat daripada acara pembukaan aib2 para pemimpin,pembukaan tuduhan2 korupsi,pembukaan aib2 artis dan pembukaan aurat2 para wanita dan pria

  19. abdiReplySeptember 10, 2013 at 06:36 

    Menurut saya, kecemasan anda kurang beralasan. Karena masyarakat kita sudah siap, kalaupun benar belum siap malah waktu yang tepat. Di saat masyarakat kebanyakan menganggap tradisi dan adat istiadat yang kebanyakan menyimpang dari Islam adalah bagian dari ritual agama Islam, acara ini memang pas untuk hadir. Apabila anda berbicara susah menentukan hadits ini palsu atau tidak, dari semenjak ratusan tahun yang lalu banyak ulama yang meneliti sebuah hadits dan narasumber merujuk pada pendapat ulama tersebut. Kapasitas ulama yang dihadirkan juga tidak mungkin sembarangan, RCTI TV nasional yang tidak akan gegabah membuat suatu format acara, apalagi acara agama yang sensitif. Sampaikanlah walau satu ayat… kebenaran adalah kebenaran. Jangan anda berfikir karena orang banyak yang melakukan sehingga suatu kesalahan bisa dianggap wajar bahkan benar. Ibadah tanpa ilmu adalah keniscayaan. Semoga banyak acara seperti itu yang dapat mendobrak kemusyrikan berbalut tradisi di Indonesia.

  20. Rian SastranegaraReplySeptember 18, 2013 at 17:28 

    Menurut saya apa yg bpk Muslihin tulis it ada benarnya, tp begini pak pd dasarnya semuanya itu beresiko, walaupun it hal baik ttp ada resiko buruknya, resiko tdk bs qt hindari, tp gmn kl qt lihat dr segi baik buruk, kira2 seandainya acr ini trs ditayangkan efek setelahnya akn lbh bnyk baiknya atau lbh bnyk buruknya? Kl mnrt sy akn lebih bnyk baiknya, krn pd dsrnya acara ini baik, yg disampaikan ilmu yg baik, apa yg bpk muslihin resahkan mgkn akn terjadi, tp yg spt sy blng td ini adlh resiko, kl ingin maju hrs brani hadapi resiko, bahkan kl acr ini tdk ditayangkan mgkn lbh bnyk resiko buruknya, krn bnyk umat yg tdk tw hadist palsu tp trs dijalankan

    • MushlihinReplySeptember 19, 2013 at 12:34 

      Andai semua seperti pak Rian, bisa menghadapi resiko, gk ada masalah. 🙂

  21. hasbalaReplyNovember 26, 2013 at 08:53 

    Salam. Alhamdulillah masih ada yang menanggapi dan peduli pada umat. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kepeduliannya itu diarahkan kepada yang lebih positif lagi. Mengajari umat kehati-hatian dalam menisbatkan segala sesuatu kepda Nabi. Nanti sedikit-sedkit akan membawa nama baik Nabi. Apa Jadinya jika segala sesuatu diatasnamakan kepada Nabi. Maka, lebh baik jika acara itu disikapi positif. Acara tersebut hanya MENJELASKAN BAHWA BEBERAPA HADIS yang populer di Masyarakat tdak dapat dipertaggungjawabkan secara ilmiah (ilmu hadis tentunya). Saya kenal betul dan sangat dekat dan kenal sangat baik dnegan para penyaji dan peneliti yang ada di acara itu. Saya tahu betul kapasitas keilmuan mereka. Mereka orang-orang yang bermulazamah bersama saya pada seorang guru, kiai. Saya juga lama sekali bermulazamah dengan sang kiai yang menjadi narasumber acara itu, dan saya mengetahui betul kapasitas keilmuan beliau di bidang hadis dan ilmu hadis. Mereka semua tidak sembarangan berfatwa. Kekhawatiran saudara terkait adanya kecerobohan, sama sekali tidak terbukti. Sebelum diekspos di TV, beberapa tahun kami semua sudah meneliti itu sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam ilmu hadis. Jangan kuatir. Semua perangkat hadis dan ilmu hadis juga kami gunakan. Ilmu Takhrij, Jarh Ta’dil, Rijal Hadis, Naqd Mutun al-Sunnah juga pastinya kami gunakan. Tidak mketinggalan pula, aqwal ulama juga pasti jadi pertimbangan kami. Insyallah Kami tidak ngawur. KAMI HANYA KASIAN KALAU UMAT DIPERDENGARKAN HADIS-HAIDS PALSU, Padahal hadis-hadis lain yang semakna dan sahih masih banyak. KENAPA TIDAK PAKAI HADIS SAHIHNYA SAJA? Ini menunjukkan bahwa Kajian ILMU HAdis di INDONESIA baru sebatas menjadi wacana saja, belum pernah dipraktikkan. SEKALI DIPRAKTIKKAN, MENUAI GUGATAN. Coba kita sikapi dengan arif. Kita duduk bersama. Teriamakasih. 🙂

  22. imagine all the peopleReplyMei 11, 2015 at 02:44 

    agama ribet ye..

    • MushlihinReplyMei 18, 2015 at 17:50 

      Gk ribet, jika dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Agama malah menjadi tuntunan bagi sesuatu yang ribet 😀

  23. Faiz SahlyReplyJanuari 29, 2016 at 07:54 

    Assalamu’alaikum ..
    Saya baru baca tulisan kang Mushlihin. Kalau ingin mengulas soal agama, sebaiknya memang dalam suatu Majelis. Apalagi untuk hal-hal yang sensitif dan dijadikan dasar hukum suatu amalan. Syukur kalau mau belajar langsung di bawah bimbingan seorang guru. Soal khilafiyah ini bisa ringan tapi juga bisa berat akibatnya, termasuk soal penentuan hadits ini palsu atau tidak dan seterusnya.

    Televisi memang mengemban misi mendidik, tapi juga mengemban misi menghibur. Jangan sampai acara yang baik terkontaminasi dengan rating atau kemasan yang menghibur atau menyenangkan pemirsanya semata. Acara serupa ” Hadits Palsu ” beresiko membawa akiat sebagaimana yang dikhawatrikan kang Mushlihin. Jadi sangat bijak untuk mempertimbangkan waktu tayangnya tidak di ” prime-time”. Jadi penontonnya terseleksi bagi yang benar-benar berminat, bukan sembarang orang.

    Saya sudah membaca buku ” Hadits Palsu ” yang disusun oleh Pak Ali Musthofa Ya’qub. Secara pribadi saya nggak ada masalah dengan tulisan beliau tersebut. Tapi bila ditayangkan dan tidak dipahami secara tepat apalagi cuma sepotong-sepotong, maka bisa jadi kesimpulan akhirnya bisa salah.

    Saya berikan contoh. Saya pernah merekam satu pengajian yang membahas suatu masalah (Bahtsul masa’il). Selanjutnya saya buat transkrip berdasarkan rekaman tersebut. Ketika saya coba tuliskan apa adanya, ternyata apa yang saya baca pengertiannya bisa bermacam-macam. Setelah saya tashih-kan kepada Kyai yang mengisi pengajian, ternyata trasnkrip tersebut masih harus dikoreksi agar benar pengertiannya.

    Dari pengalaman di atas, saya menyimpulkan bahwa menulis transkrip rekaman pengajian yang bisa didengar berulang-ulang saja, ternyata masih salah. Apalagi nonton TV atau mendengarkan pengajian di radio yang kadang sambil lalu, kemungkinan salah pahamnya bisa lebih besar. Pengalaman saya ini bisa dipraktekkan untuk menilai seberap tepat kita memahami materi dalam satu Majelis Ta’lim. Semoga bermanfaat.

  24. Tentara GensettyReplyJuni 7, 2016 at 10:25 

    Jika ditayangkan akan ada dampak baiknya, namun bagi orang yang awam, bisa menjadikan apa-apa yang tidak seharusnya dilakukan, apalagi di negara ini bermacam-macam agama. sulit untuk menjaga hadist-hadist shohih

Tinggalkan Balasan