Maaf Saya Tidak Merayakan Acara Ulang Tahun

167 views

Acara ulang tahun yang saya akan bahas di sini adalah acara ulang tahun kekinian. Tentu semua tak asing dengan kue tart, tiup lilin, lalu bernyanyi panjang anunya, panjang anunya, serta mulia. Sepertinya poin acara itu hampir wajib, meski ada yang melakukan sebagian saja. Hanya ada kue tart saja, atau tiup lilin saja. Tetangga saya bahkan lebih dari itu. Acara bertambah, nyanyi, joget, dst...

Entah sejak kapan acara ulang tahun seperti itu booming, ramai. Isteri ulang tahun, anak, suami, ibu, bapak, sampai nenek. Semua berulang tahun. Teman saya beralasan, “itukan hanya acara, ada doa, ada harapan, ada bahagia. Bukankah membuat orang lain bahagia juga ibadah?”... alasan yang masuk akal !. Namun mari kita lihat;

Pertama, Nabi saw mengatakan bahwa umur umatnya rata-rata berkisar antara 60-70. Itu artinya, bila seseorang sudah berumur di sekitar 30-35, maka dengan asumsi jumlah umur tadi, besar kemungkinan separuh umurnya sudah berlalu. Itu pun kalau dia diberi jatah umur sebanyak itu. Bila jatahnya kurang dari sekian tentu umur yang tersisa lebih sedikit dari yang sudah berlalu. Seorang yang berumur 30 tahun, sejatinya dalam ingatannya ingatannya tinggal berapa lagi jatah yang tersisa? Dengan ingatan seperti itu, maka yang hadir mestinya bersedih.

Dengan demikian, acara perayaan ulang tahun sepantasnya hanya indah bagi anak-anak yang belum mencapai usia baligh. Karena sampai saat itu Allah memberikan nikmat hidup kepadanya tanpa ada catatan dosa yang akan memberatkannya di akhirat. Beda dengan bagi yang sudah lewat usia baligh, atas dasar apa dia berbahagia hingga harus merayakannya. Umur semakin berkurang, dosa semakin menumpuk, sementara bekal untuk kembali tidak seberapa.

Dari pada berbahagia dengan membakar lilin dan bernyanyi di saat bertambahnya usia, lebih baik bermandikan air mata mengenang dosa dan kesalahan, serta mengingat-ingat semakin dekatnya pertemuan dengan Malaikat Maut.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,...” (An Nisa': 78).

Kedua, Kalau toh acara perayaan ulang tahun indah bagi anak-anak, maka jangan mengajari mereka, mendidik mereka, memberikan objek rekam dalam pikiran mereka yang dekat dengan kemaksiatan. Bukankah anak dengan mudah bisa diajak merayakan ulang tahun dengan doa bersama, makan bersama, dengan memanggil teman-temannya.

Saya salut dengan salah seorang teman sekolah dulu. Dia merayakan ulang tahun anaknya dengan mengajaknya ke panti asuhan. Anaknya diberi uang, mereka berangkat bersama dengan membawa makanan. Lalu anak diajari memberi secara langsung kepada anak yatim di panti asuhan tadi.

“Ah, kamu terlalu radikal bro”. Ungkap salah seorang kepada saya tentang hal ini. Jawabku dalam hati, biar saja !

Tags: #Anak #Kritik #Zionis

Leave a reply "Maaf Saya Tidak Merayakan Acara Ulang Tahun"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877