Kopiah dan Capres Cawapres 2014

13823 views

Kopiah, dalam bahasa Arab disebut “imamah”. Istilah lain, peci, peci hitam, songkok, dan biasa juga hanya disebut penutup kepala. Kopiah awalnya berwarna hitam, kemudian direduksi ke berbagai warna, sesuai keinginan. Bentuknya setengah bulat setengah kotak.

Kopiah menjadi identitas agama keagamaan bukan tanpa dasar, hadis Abu Dawud dan Tirmidzi mengatakan, “Perbedaan antara kami dan kaum musyrik adalah sorban terlebih topi kami.” Bisa jadi dengan dasar inilah, kopiah selain sebagai produk budaya, pun sebagai identitas agama, seperti orang timur tengah yang menyebutnya dengan nama Kufi. Di Eropa, kopiah disebut dengan Topi Doa (topi agama) dan dipakai saat melaksanakan shalat.

Narasi sejarah juga menyebutkan, para kiyai, wali, ulama senantiasa memakai kopiah. Pada awal pergerakan Nasional 1908 kebanyakan para aktivis mulanya memakai blangkon, yang lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat, tetapi seiring dengan meluasnya gerakan satu rasa dan penolakan terhadap penjajahan, kopiah menjadi simbol pemersatu dan patriotisme.

Nahdhatul Ulama (NU) menganjurkan pemakaian kopiah sebagai identitas santri pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin. Sebagai lembaga pergerakan, NU menjadikan kopiah sebagai pakaian resmi baik rapat maupun perundingan. Kopiah pun menjadi hal penting, bahkan jika ada aktivis tak memakai kopiah saat itu, dianggap sebagai suatu yang aneh.

Sewaktu kecil, penulis terkadang ditegur keras oleh orang tua, karena tidak memakai kopiah saat ke madrasah. Masih teringat dengan jelas, ketika dikejar pengasuh pondok pesantren As’adiyah berlatar NU, juga karena tidak memakai kopiah. Apa daya, nalar santri belum melekat dalam diri penulis saat itu (bahkan sampai sekarang).

Kopiah tanreEntah karena apa, seorang yang memakai kopiah dan tidak, akan terlihat berbeda. Ada kewibawaan tersendiri bagi orang yang memakai kopiah. Dalam sejarah politik, Presiden pertama rebublik Indonesia, Soekarno, tak sekalipun ditemukan tidak memakai kopiah. Terkadang juga, kopiah menjadi jargon politik. Teman saya menjadikan kopiah sebagai alat menaikan popularitasnya pada Pilkada lalu, dengan memakai kopiah ukuran tinggi. “Sumardi Passongkok Tanre”, Sumardi yang memakai kopiah (songkok) tinggi, dan akhirnya dia terpilih.

Eksistensi kopiah sebagai salah satu budaya Indonesia yang sekarang mendunia dan sebagai warisan budaya milik Bangsa, pun erat dengan keberagaman. Kopiah yang awalnya sebagai tradisi santri, kini juga dipakai oleh non-muslim karena menjadi pakaian nasional. Kopiah merakyat, membawa wibawa, simbol Islamisme, dan simbol patriotisme dan nasionalisme.

Kopiah dan Capres Cawapres 2014

Menjadi menarik, ketika dalam percaturan pilpres 2014, salah satu calon seakan sengaja melepas kopiah pada acara resmi terkait pencalonannya sebagai calon Presiden. Pada pencabutan nomor urut pasangan capres dan cawapres, pasangan Jokowi-JK tidak memakai kopiah. Begitupun pada acara lain terkait. Penulis melihat hal itu sengaja, dan mungkin bagian dari strategi, karena cawapres JK, memakai kopiah saat menjadi cawapres SBY 2004 lalu.

Sangat berbeda dengan pasangan capres cawapres Prabowo-Hatta. Kopiah seakan menjadi terutama dalam acara nasional yang diselenggarkan oleh KPU. Bagi keduanya, kopiah tentu bukan bagian dari pakaian keseharian mereka, namun dengan memakai kopiah, kewibawaan muncul dan dianggap tidak keluar dari konteks keumuman masyarakat. Komunitas santri tentu lebih familiar dengan pasangan ini meski dengan alas an sederhana, kopiah.

Kopiah

Tentu bukan kewajiban, dan sama sekali tak ada hubungannya dengan kebijakan-kebijakan yang ada, namun dalam konteks keumuman, atau strategi mendekatai kelompok santri, maka tidak memakai kopiah, akan terlihat ganjil dan keluar dari konteks keumuman. Ketika Muhammad Hatta mewakili Indonesia dalam Konfrensi Meja Bundar di Den Hag, 27 desember 1949, Hatta digunjing oleh para aktivis lainnya sebagai blootshoofd (tanpa kopiah), sehingga ciri khas Keindonesiaannya tidak ditampilkan. Itulah kopiah, hampir menjadi wajib.

Kalangan muda banyak menganggap kopiah kuno atau ndeso, tapi tidak bagi pemimpin dan calon pemimpin. Ada kepuasaan tersendiri bagi bangsa yang tak terpisah dari tradisi santri, ketika melihat pemimpinnya memakai kopiah tersebut, seakan ada daya tarik yang sangat mesterius bagi bangsa terhadap pemimpinnya.

Kopiah memiliki nilai khas tersendiri bagi seseorang apalagi seseorang yang akan menjadi pemimpin bangsa, karena sangat nampak sekali keperkasaan dan kewibawaan seorang pemimpin ketika menggunkana kopiah, contoh kongkritnya adalah Soekarno yang terinspirasi dari gerakan nasionalis Turki, Kemal Attaturk. Banyak ahli mengatakan, hal ini bagian dari psikologi massa, menciptakan “penampilan” sebagai pemimpin besar di hadapan rakyat.

Salam bahagia …

Tags: #Jokowi #Kritik #Politik #Prabowo

Leave a reply "Kopiah dan Capres Cawapres 2014"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877