Nurjannah Menggunting Kiswah, Terancam Potong Tangan ?

8856 views

Dalam sebuah kisah, seorang pencuri yang baik hati masuk ke dalam rumah orang kaya lewat tengah malam. Saat si pencuri menggeledah, lemari, dan mengambil barang empunya rumah, suara azan memanggil. Mendengar suara azan, pencuri tidak meneruskan pekerjaanya, tapi mengambil air wudhu dan mendirikan shalat. Alhasil, pemilik rumah terbangun.

“Hei, siapa kamu? Berani masuk ke rumah orang tanpa permisi, dan kenapa barang di lemariku berantakan?” Kata empunya rumah.

Pencuri hanya terdiam

“Ooo, ternyata kamu ingin mencuri rupanya. Tapi kenapa kamu justru shalat? Bukankah shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar? Tanya tuan rumah tak henti.

“Iya pak, saya mencuri barang orang kaya yang tidak mengeluarkan zakat. Saya tahu mencuri itu dilarang, tapi niat saya mencuri bukan untuk kepentingan pribadi saya. Semua hasil curian saya, tak sedikitpun saya makan, semuanya saya berikan kepada yang berhak. Jumlah barang curian saya pun hanya kisaran 2,5 % dari jumlah harta ibu”. Jawab pencuri itu panjang.

Akhir kisah menyebutkan, tuan rumah berhasil disadarkan oleh pencuri dan mengeluarkan zakat sesuai syariat seperti penjelasan pencuri tadi.

***

Kisah tadi tentu sedikit dari seribu pencuri yang ada di dunia ini. Namun yang terpenting, bahwa semua pekerjaan mengambil kepunyaan orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, pasti memiliki tujuan tertentu. Mencuri itu salah, tujuannya belum tentu salah. Bolehkah melakukan yang salah untuk tujuan yang benar, ini masih menjadi perdebatan panjang pakar dan ulama.

Kisah pencuri yang baik hati tadi saya jadikan pengantar untuk melihat kasus Nurjannah yang menggunting Kiswah, perempuan umur 56 tahun menggunting Kiswah. Nurjannah Binti Amin Sadjo, warga Kelurahan Jagong, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Nurjannah dan suaminya, Miradj Bin Hamid, berangkat umrah melalui operator PT. Alfi Tour 14 Februari lalu.

Kronologis yang penulis himpun dari berbagai sumber, kisaran 10 jam sebelum berangkat pulang ke Tanah Air, Nurjannah melaksanakan shalat Ashar di sisi timur tembok Hijr Ismail. Pasca shalat Ashar, bersama rombongan, ia akan melaksanakan Thawaf Wada, termasuk suaminya dan dua orang iparnya.

Sebelum masuk Hijr Ismail, rombongan itu sempat ditahan polisi wanita Masjidil Haram, namun Nurjannah bersikeras masuk dan lolos pemeriksaan padahal waktu itu, dia membawa tas yang berisi gunting ukuran sedang.

Sesampai di sisi Ka’bah, saat itulah Nurjannah menggunting Kiswah bagian bawah seukuran bundaran pantat cangkir.

Sial, usai melakukan hal terlarang itu, Nurjannah tertangkap tangan oleh Surtahah Haram (istilah Polisi Wanita Masjidil Haram) di dekat pintu keluar Hijr Ismail. Pelak, suasana menjadi heboh, ribut, bahkan polisi Masjidil Haram dengan sigap mengosongkan Hijir Ismail sekitar 30 menit, untuk segera menutupi kiswah yang bolong dengan mendatangkan juru jahit dari pabrik Kiswah.

Nurjannah kemudian digelandang ke Kantor Polisi Haram di dekat Kawasan Midfalah dan Pos Pemadam Kebakaran, lalu di jebloskan ke dalam sel khusus wanita.

Aksi spektakuler Nurjannah menggunting Kiswah ini tentu tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan biasa saja. Selain membuat malu rakyat Indonesia, khususnya warga Pangkep di Sulawesi Selatan, tapi juga menjadi bahan menarik untuk diketahui, apa yang memotivasi Nurjannah, sehingga keberanian yang tidak seperti biasanya itu muncul.

Perlu diketahui, Kiswah bukanlah kain sembarangan. Kiswah berasal dari bahasa Ibrani, “kisui” yang artinya kain yang menyelubungi. Kiswah adalah kain penutup Ka’bah. Kiswah diganti setiap tahun, umumnya pada tanggal 9 Dzulhijjah, pada musim haji saat jamaah haji ke Bukit Arafah.

A worker embroiders the Kiswa, a silk cloth covering the Holy Kaaba, in the holy city of Mecca, ahead of the annual haj pilgrimage October 8, 2013. The Kaaba is Islam's holiest site. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa (SAUDI ARABIA - Tags: RELIGION SOCIETY)

Kiswah yang sudah diganti dengan kain yang baru kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil dan dihadiahkan kepada beberapa orang. Biasanya dibagikan ke pejabat muslim dari Negara lain. Bukan tanpa alasan, karena Kiswah memang bukan sembarang kain. Biaya pembuatannya saja mencapai 17 juta Rial, dengan bahan sutera seberat 670 kg. Jahitannya terdiri dari benang emas seberat 15 kg. jahitan dan desain ayatnya dilakukan oleh kaligrafer terbaik, dibantu komputer untuk mempercepat.

Konon, pada masa khalifah Umar ibnu Khattab, Kiswah dibagikan kepada seluruh jamaah dalam potongan lebar sebagai kain penutup kepala dari sinar matahari. Kiswah sebagai penutup kala itu mampu melindungi serombongan Jemaah meski ukuran yang diberikan terbilang kecil.

Ka’bah dan Masjidil Haram sebagai simbol dan tempat bersejarah umat Islam, kemudian membawa keyakinan baru kepada segala hal yang terkait dengan Masjidil Haram, termasuk Kiswah. Penulis masih sering menemukan beberapa “orang pintar” mengobati dengan lembaran kecil kain hitam yang direndam dalam segelas air, diminumkan kepada pasiennya. Kain itu katanya adalah penutup Ka’bah (Kiswah).

Penulis melihat dan lebih cenderung sisi mistis itulah yang membuat Nurjannah lebih berani dari biasanya. Berani menggunting Kiswah, tanpa peduli bahwa itu adalah kesalahan fatal yang sudah diatur dalam Dustur (Undang-Undang) Arab Saudi.

Nurjannah Terancam Potong Tangan?

Meski ada perbedaan pendapat mengenai hukuman bagi seseorang yang mencuri Kiswah Ka’bah, namun hal itu menegaskan kalau pencuri Kiswah, dipastikan akan mendapat hukuman yang berat, jika melihat madzhab yang dipakai di Arab Saudi. Mari kita melihat pendapat madzhab fikih tentang pencurian Kiswah;

Malikiyah menyatakan, yang mencuri sesuatu dari dalam Ka’bah pada waktu diizinkan untuk memasukinya, maka yang bersangkutan tidak dikenakan hadd (hukuman berdasarkan ketentuan Allah swt. Dalam hal pencurian, adalah potong tangan). Tapi jika tidak pada waktu diizinkan memasukinya maka pencuri tersebut dikenakan hadd jika ia sampai mengeluarkannya sampai ke tempat Thawaf. Dengan menggunakan madzhab Imam Malik, berdasarkan kronologis pencurian Kiswah, kemungkinan besar, Nurjannah tidak dikenakan hadd.

Hampir sama dengan pendapat Hanabilah, Syafi’iyah menyatakan, hukuman hadd dikenakan jika Kiswah yang dicuri mencapai nisab, yaitu jika Kiswah yang dicuri bisa melingkari diri pencuri itu. Dengan menggunakan madzhab Imam Syafi’iy dan Hanbali, Nurjannah pun lolos dari hukuman hadd.

Sedangkan Hanafiah, berpendapat jauh berbeda, siapa yang mencuri Kiswah dan mencapai nisab maka yang bersangkutan tidak dikenakan hadd karena barang tersebut dianggap tidak ada yang memilikinya. Semoga yang mencuri hanya bermaksud atau mengharap keberkahan dengan mengambilnya. Jika berdasarkan madzhab Hanabilah, Nurjannah juga tidak akan dikenakan Hadd.

Kasus ini pernah terjadi bertepatan Presiden Megawati ke tanah Suci kala itu. Perlu dukungan pemerintah, dan penjelasan rasionil dari Nurjannah di tengah disiplinnya kepolisian Arab Saudi.

“Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga”. Pencurian Kiswah bukan kali ini saja terjadi. Beberapa kali, dan bisa jadi sudah ada yang berhasil lolos dari ciduk polisi Masjidil Haram. Apapun itu, mencuri adalah perbuatan yang dilarang, apalagi jika tujuannya untuk kepentingan peribadi. Aksi Nurjannah menggunting Kiswah, tergolong nekat atau super berani. Apapun tujuannya tidak mendapat tempat pembenaran. Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Semoga bermanfaat

Tags: #Fikih #Haji #Hukum #Kiswah #Kritik #Nurjannah

  1. author

    iman abdurrokhim3 years ago

    Udeh…. pancung ajjah….

    Reply

Leave a reply "Nurjannah Menggunting Kiswah, Terancam Potong Tangan ?"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877