Mengingat Tuhan; Celoteh Filosofis

3480 views

Saya bukan seorang murabbi, muqri’, atau istilah lain dari pembimbing spiritual, melihat tulisan ini pun akan mencerminkan hal itu. Lagi-lagi filosofis. Terinspirasi kegiatan akhir pekan yang sangat berbeda dengan kesenangan remaja kekinian, judul tulisan ini, “mengingat Tuhan.” Mengingat terkait kinerja otak, ibarat me-reply kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, pernah terjadi, terekam lalu diputar ulang dalam ingatan. Tuhan adalah zat, yang tak mungkin bisa dibatasi oleh sesuatu yang terbatas seperti pikiran kita. Terjadi benturan yang tidak mungkin. Bagaiman bisa pikiran yang terbatas mereply sesuatu yang tak terbatas?.

Inilah bedanya makna mengingat dalam konteks umum dengan mengingat Tuhan sebagai objek. Mengingat Tuhan bisa dengan menyebut Nama-Nya, memohon kepada-Nya, bermusyawarah, dan pasrah kepada-Nya. Dia selalu ada. Jika manusia berhasil pasrah dengan sebenarnya pasrah, maka Dia terlalu dekat, jauh lebih dekat dari kata dekat itu sendiri. Kita terlalu asyik dan berlama-lama dengan jasmani kita. Satu hari sedikit saja waktu untuk sang ruh, partikel yang universal, dan dasar Ilahiah. Jika ingin melihat, serta menemukan kebenaran, ketentraman abadi, hidup kekal, kita harus melihat “diri kita.” Yang mana?. Itu berada dalam diri kita.

Narasi kepustakaan sepertinya tak cukup mewakili proses mengingat Tuhan, dan kesulitan menggambarkannya. Menjabarkan proses mengingat Tuhan selamanya tak akan ilmiah, karena pastinya subjektifitas bagi siapa yang mengalami. Banyak filosof menggambarkan cara termudah mengingat Tuhan dengan mengibaratkan sebagai “kekasih gelap.” Sedikit kontroversial, tapi sangat membantu. Semangat membuncah demi sang kekasih, bermesraan dengan kekasihnya, bercakap penuh asyik masyuk, khusyuk, meski wujud kekasih “gelapnya” itu tak terikat ruang/ tak berdimensi.

Ali Syariati pernah mengilustrasikana perjalanan spritualnya dalam rangka mengingat Tuhan. Kala muridnya bertanya; “ya Murabbi, menurutmu, Tuhan itu di mana?.” Ali Syariati menjawab, “Perhatikan Ikan yang berenang di dasar lautan, tanyakan kepada mereka, hai ikan, tunjukanlah kepadaku, di mana air itu. Ikan tak mampu menjawab, padahal air itu telah meliputinya, keluar masuk dalam dirinya, bahkan air itu adalah kehidupannya.” Ilustrasi yang mudah dipahami. Kita tak bisa menunjukan Tuhan ada di mana, padahal dia muhith telah meliputi segala yang ada. Dan kita manusia bukan ikan !.

Ilustrasi

Ilustrasi

Manusia dengan jasmani, otot, gusi yang berdarah berdampingan dengan gigi, gerak, energi yang senantiasa bekerja. Namun kebanyakan dari manusia egois; yang berdarah, yang berkeringat, tidak merasakan sakit, tidak merasakan capek dan penat. Perlu titik temu antara jalan cita dan jalan amal. Jalan cinta adalah ruh, dan jalan amal adalah jasmani. Bukankah bagi pencinta akan selalu mengingat kekasih yang dicintainya, meski kekasih itu “gelap.” Pahamilah, dan jadilah pecinta, itulah cara mengingat Tuhan.

Tags: #Tuhan

Leave a reply "Mengingat Tuhan; Celoteh Filosofis"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877