Karena Kritikan “Pedas,” Popularitas Jokowi Makin Meningkat

4055 views

Bisa jadi masyarakat sudah berada di titik nadir kejenuhan dengan sikap para pejabat selama ini. Kehadiran Jokowi dengan face “merakyat” dan gaya blusukan, seakan menjadi obat mujarab bagi publik. Kesan pertama melihatnya, jauh sekali dari nuansa pejabat yang jauh dari rakyat. Yah, banyak sekali masyarakat menaruh harapan terhadap orang nomor satu DKI ini untuk menjadi RI satu melalui pilpres 2014 nanti.

Survey Indobarometer dengan tingkat kepuasan pada kinerja Jokowi secara umum yang mencapai 87,5% dan Basuki yang mencapai 85,8%, tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam kacamata sketsa capres 2014, belum ada satupun nama yang bisa mengalahkan popularitas suami Hj Iriana ini. Artinya, kalau tidak ada perubahan nyata, dan Jokowi menjadi capres pada pilpres 2014 nanti, maka hampir bisa dipastikan, Joko Widodo, mantan tukang kayu ini akan menjadi Presiden RI.

Kenyataan ini tentu membuat para politisi yang mengincar kursi RI satu harus putar otak untuk bisa merubah imej masyarakat yang terlanjur lekat dengan sosok merakyatnya. Isu potensial harus digunakan secara efektif. Siapa yang bisa memainkan isu dengan benar, maka dialah pemenangnya. Isu yang datang mengenai Jokowi bak serangan tak henti, ada sesuai dengan fakta, ada pula hanya terkesan pelampiasan saja.

Tanggal 24 September 2013 Amien Rais melontarkan pernyataan pedas, bahwa Jokowi tak beda dengan mantan Presiden Filipina Joseph Estrada. Kesamaannya, menurut Amien, mereka dipilih karena populer. Sebelumnya, mantan ketua MPR ini juga mempertanyakan nasionalisme Jokowi.Saat memberi kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Akibatnya apa, Amien Rais seperti melawan arus deras di sungai dangkal. Tak tanggung, mantan ketua PP Muhammadiah ini di-bully di media online. Akhirnya, harapan lontaran pedas justru menjadikan popularitas Jokowi makin meningkat.

Hampir mirip, kritikan wanita tercantik versi Ruhut Sitompul, ketua fraksi Partai Demokrat, nurhayati Assegaf, juga melontarkan kritik pedasnya. “satu tahun Jokowi jadi gubernur, 1000 rumah terbakar. Ini beda ketika jaman Foke.” Kritik pedas wasekjen PD itu, disambut dengan ribuan komentar, yang hampir tak satupun yang membela, semua menentang. Balasan Jokowi yang menanggapi dingin, diikuti dengan, puluhan tulisan dan ribuan komentar membela pasangan Ahok ini. Artinya kritik pedas Nurhayati, Justru makin meningkatkan popularitas jokowi.

Sumber: benangmerah1.wordpress.com

Sumber: benangmerah1.wordpress.com

Bagi saya, sebuah kritikan akan menjadi hal yang bermanfaat bagi objek yang dikritik. Kritik sepedas apapun jika mampu diolah dan dijadikan ujian, maka justru akan menjadi ajang latihan gratis bagi orang yang dikritik. “orang yang tidak mau dikritik, berarti belum pernah belajar. Orang yang bisa mendengar kritik, adalah orang yang sementara belajar. Sedangkan orang yang mejadikan kritik sebagai hal yang membuatnya besar, adalah orang yang telah selesai belajar.” Demikian ungkapan wamen kemenag salam salah satu sambutannya.

Sampai saat ini, kritikan pedas justru membuat popularitas Jokowi makin meningkat. Tanggapan alumni SMA 6 Solo ini terhadap segala kritikan pedas terhadapnya, masih dalam tahapan wajar dan normal. Namun sanggupkah kritikan pedas justru membuat popularitas Jokowi makin meningkat tetap bertahan seperti sampai hari ini?. Tentu Joko Widodo harus berhati-hati, karena bisa saja, model kritik yang ada sampai hari ini, masih dalam tahap uji coba dari para politisi penyerang untuk membuat “amunisi” serangan yang lebih kreatif selanjutnya. Kita tunggu.

Tags: #Jokowi #Politik

Leave a reply "Karena Kritikan “Pedas,” Popularitas Jokowi Makin Meningkat"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877