Bunga Bank Dalam Islam; Setengah Halal Setengah Haram

66212 views

Celoteh ini adalah akumulasi dari carut marut kondisi perekonomian dan penetapan hukum (Islam) dalam konteks ke-Indonesia-an. Hukum bunga bank dalam Islam haram menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan fatwa tahun 2003, tentu mengejutkan banyak pihak terutama pelaku. Dilematis, satu sisi haram (jika mengikuti fatwa MUI), sisi lain kebutuhan mendasar manusia (kekinian). Mengenai judul, perlu dipahami, bahwa dalam hukum Islam tidak ada celah setengah halal dan setengah haram, karena kalimat tersebut bersifat ambigu dan samar, pastinya keluar dari kaidah hukum yang harusnya jelas.

Banyak sekali artikel tentang hukum bunga bank dalam Islam, dan mayoritas menghukuminya haram. Riba dalam berbagai kamus berarti al-Fadhlu wa al-Ziyadah (tambahan) dalam satu akad jual beli atau pinjaman. Pemberian bunga bank, terutama terjadi pada bank konvensional dengan berbagai bentuk jasa seperti giro, deposito berjangka, tabungan, obligasi, KUK, dan lain-lain, yang menetapkan kelebihan dari pokok pinjaman. Kelebihan itu ditafsirkan bermacam-macam, salah satunya sebagai sewa atau harga dari nilai uang.

Jika berdasar dari definisi kamus “al-Qamus al-Fiqhiy,” hal ini termasuk riba nasi’ah, yaitu tambahan yang dipersyaratkan oleh pemberi piutang dari orang yang berutang sebagai ganti penundaan (pembayaran). Contoh, seorang PNS meminjam uang di bank konvensional Rp. 100.000.000 dengan masa 10 tahun. Pembayaran diambil dari gaji bulanan sebesar 60% dari total gaji atau penghasilan. 10 tahun atau masa jatuh tempo, total pembayaran adalah Rp. 217.000.000. Kelebihan Rp. 117.000.000 menurut definisi ini adalah riba nasi’ah.

Landasan utama fikih mengenai larangan riba dapat dilihat dalam nash al-Quran dan hadis. Ayat yang saya angkat riba untuk contoh kasus di atas, adalah QS. al-Baqarah ayat 278-279; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Demikian pula hadis; dari Sulaiman bin Amr bin al-Ahwash, bapakku menceritakan kepada kami bahwa ia melaksanakan haji wada bersama Rasulullah saw. (Ketika berkhutbah, Nabi memulai dengan) memuji Allah lalu beliau memberi peringatan dan nasihat. Kemudian beliau berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya semua riba pada masa jahiliyyah dibatalkan. Bagi kalian (hanya) uang pokok kalian, kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi …”

Dari dua landasana dalil tersebut, tanpa kajian, akan dipahami bahwa bunga bank dalam Islam hukumnya haram. Namun demikian tanpa berniat mengaburkan penafsiran ulama, ada catatan kecil yang layak dijadikan bahan pertimbangan. Bahwa hukum bunga bank dalam Islam belum dibahas oleh ulama salaf. Adapun masalah bunga bank, oleh ulama kontemporer yang kemudian mengkategorikan sebagai riba.

Pada masa Nabi saw dan ulama salaf, belum ada istilah inflasi, karena sistem ekonomi memang berbeda dengan sekarang terutama di Indonesia. Inflasi kira-kira bermakna perubahan nilai mata uang akibat ketidak stabilan ekonomi, bisa karena barang lebih banyak dari uang yang beredar atau uang beredar lebih banyak. Mata uang yang dipergunakan pada masa itu adalah mata uang yang stabil, dinar dan dirham. Artinya, 1000 dirham tahun 2013, nilainya sama dengan 1000 dirham tahun 2030 dst. Karenanya, pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman menggambarkan keadilan. Tidak ada pihak pemberi hutang atau pengutang yang teraniaya seperti ayat dan hadis di atas.

Sangat jauh berbeda dengan sistem ekonomi di Indonesia. Bukti adanya inflasi bisa dilihat dari kenaikan harga BBM, kenaikan gaji PNS, fluktuasi IHSG dll. Rp. 100.000 hari ini, nilainya bisa jadi Cuma Rp. 1000 10 tahun yang akan datang. Artinya, jika sistem penambahan (ziyadah) yang kemudian divonis sebagai kategori riba tidak diberlakukan, maka peminjam dengan masa pinjaman 10 tahun akan untung, karena nilainya tidak sama saat pinjaman dilakukan. Dan pemberi pinjaman dipastikan teraniaya.

Hal ini tidak luput dari bahtera ilmu ulama sekelas Ibnu Taimiyah, yang hidup dengan mata uang dinar dan dirham (w. 728 H/1328 M), dan beliau menyadari hal ini. Ia mengakui bahwa mata uang pada masanya tersebut bukanlah maksud dan tujuan akhir. Ia tidak lebih dari sekadar fasilitas dalam transaksi manusia. Bahkan jauh sebelumnya, Imam Malik telah menyatakan bahwa seandainya manusia sepakat menggunakan kulit binatang sebagai mata uang, maka ia akan menghukuminya sama sebagaimana hukum dinar dan dirham.

Bagaimana hukum bunga bank dalam Islam?, menjadi pertanyaan penutup dalam celoteh saya ini. Pertama; kita harus adil menilai bahwa kelebihan akibat pinjaman sebagai akibat inflasi dan terkait dengan skala besar yaitu sistem ekonomi Negara. Mengingkari hal itu, berarti kita secara sadar, mengingkari kenaikan harga, perubahan mata uang, kenaikan gaji PNS (bagi PNS) dll, yang semua dipengaruhi oleh inflasi. Implikasinya jelas, pasti salah satu dari peminjam atau pemberi pinjaman akan teraniaya. Dan inilah tujuan akhir haramnya riba yang harus dihindari berdasarkan ayat di atas.

Kedua: jika inflasi menjadi alasan faktor pertimbangan dalam pembayaran hutang, maka hendaknya dilakukan secara adil, konsisten dan akurat. Karena selain memperhitungkan kondisi inflasi, hendaknya memperhitungkan kondisi deflasi. Di sinilah letak perbedaan antara bank konvensional dengan rentenir. Bank konvensional memperhitungkan perubahan nilai mata uang akibat inflasi dengan perhitungan ekonomi secara akurat, sedangkan rentenir tidak, tapi hanya berdasarkan perkiraan belaka.

Ketiga: meminjam pesan pakar tafsir Prof. Quraish Shihab; “Jika kamu berada dalam pusaran air sungai yang deras, tidak usah melawan arus, karena hanya akan menghabiskan tenagamu. Mengalirlah, dan berusaha menancapkan kakimu ke dasar sungai, atau menggapai pegangan sembari mengumpulkan tenaga.” Demikian perumpamaan yang harus dilakukan ketika seorang hamba dalam posisi terdesak atau terpaksa.

Hukum bunga bank dalam Islam jika dilihat konteks ke-Indonesia-an, posisinya sangat dilematis. Menghindari agar tidak ada yang teraniaya baik peminjam dan pemberi pinjaman berarti mutlak meniscayakan tambahan. Sedangkan menghindari tambahan dan dikaliam sebagai riba berimplikasi sebaliknya, kecuali Negara keluar dan berganti sistem ekonomi. Menurut saya bunga bank dalam Islam hukumnya setengah halal setengah haram. Tapi hanya di Indonesia dan Negara yang terpengaruh inflasi.

Tags: #al-Quran #Hukum

  1. author

    hans3 years ago

    sepertinya anda kurang memahami masalah moneter, neraca pembayaran internasional dan ekonomi kapitalisme, sehingga anda sulit memahami mengapa Islam begitu kerasnya melarang riba….ada jutaan muslim yang mempunyai pemikiran seperti anda. belajarlah mengenai ketiga hal tersebut saya anda akan segera mengetahui mengapa islam dengan keras menentang riba….banyak ulama yang tidak memahami masalah ini dan kemudian mengeluarkan fatwa.

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin3 years ago

      Terus posisi Anda di mana?, memang latar saya bukan ekonomi, makanya ngutip teori ekonomi kebangsaan yang ada 🙂

      Reply
    • author

      Aryoko1 year ago

      Sdr Hans

      Terus menurut anda bagaimana..?? Apakah bunga bank itu termasuk riba’.?? Jangan gampang penafsirkan aktivitas haram/halal. Lihat dulu perhitungannya. Saya setuju pendapat penulis

      Ada contoh lain :
      Daging/minyak babi haram hukumnya untuk dikonsumsi umat Islam (orang Islam paling bodohpun pasti tahu). Pertanyaan saya jika ada minyak dari kombinasi bahan lain (selain babi). Haram/halalkah hukumnya..??

      Reply
      • author

        Aryoko1 year ago

        Sambungan
        Pertanyaan saya jika ada minyak dari kombinasi bahan lain (selain babi).tetapi mengandung senyawa kimia yang sama dengan babi, Haram/halalkah hukumnya..??

        Reply
  2. author

    onoest3 years ago

    anda menciptakan hukum baru dlm islam..

    Reply
    • author

      Nisaa2 years ago

      Saya menangkap maksud penulis. Pada dasarnya riba, tapi karena sistem ekonomi, akhirnya kehramannya jadi setengah. “Mau apa lagi” 😀

      Reply
    • author

      susilo2 years ago

      Jangan salah paham bro. Ini Hanya penadapat si penulis artikel.
      Tinggal anda yakini sendiri aja

      Reply
  3. author

    awam2 years ago

    sederhana saja—bank mengumpulkan dana, lantas dipinjam oleh nasabah,
    nasabah kasih jasa pada bank atas diberinya piniaman dana.(bank syariah maupun konvensional pada umumnya sistemnya ya seperti tsb). riba memang jelas haram. namun model perdagangannya sendiri apalagi banyak variasi dan perkembangannya yang belum terungkap, baik oleh pelaku perdagangan (jasa) maupun yang memvonis riba. yang terjadi, bank syariah dinyatakan syar’i, bank konvensional dinyatakan bank riba (kasihan…) padahal dalam praktek keduanya ada ribanya dan mungkin juga ada halalnya, hanya perlu kajian dan koreksi istilah istilahnya dan akad kredit/pinjamannya. jangan jangan terlanjur divonis riba ternyata murni perdagangan/jual beli/jasa, padahal Alloh menghalalkan jual beli tetapi mengharamkan riba. mudah-mudahan menghukuminya nggak terbalik.

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Kembali lagi, riba kan kelebihan. Hasil apa yang dibagi pihak bank kepada nasabah?

      Reply
      • author

        susilo2 years ago

        Kan udah jelas nasabah diberi tambahan (istilahnya BUNGA) per bulan
        Kok ente masih belum tahu sih…?? Kalau anda nggak mau ya nggak usah simpan uang di Bank, simpan bawah kasur aja bung

        Reply
        • author
          Author

          Mushlihin2 years ago

          Semua tambahan pada pinjaman adalah bunga. Kamu yang gk ngerti tulisan bung, kebanyakan di kasur sih kamu 😀

          Reply
          • author

            Susilo1 year ago

            Maaf Bung Mus, Maksud saya untuk yang terlalu menvoinis bunga bank itu haram.
            Sory salah alamat replay-nya

    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Akar masalahnya ada pada sistem ekonomi. Sepakat 😀

      Reply
  4. author

    kumbang2 years ago

    Tidak ada dlm islam setengah haram atau setengah halal. Lepas dr permasalahan riba, tidak ada bank saya rasa perekonomian tdk akan berjalan dg baik.

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Terkadang kita terlalu cepat pesimis. Swiss bisa dengan mengandalkan fungsi bank menjaga harta, bukan penekanan pada bunganya 🙂

      Reply
  5. author

    jue2 years ago

    Kita miminjamkan uang atau sama aja kita membantu seseorang dan mendapat upah , apa itu haram ? Aneh :\

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Pinjam 2 juta, kembalinya 2 juta, atau 2 juta sekian??? Kelebihan itu haram menurut hukum Islam… Entah siapa yang aneh ya 😀

      Reply
  6. author

    maskarebet2 years ago

    Di akhirat cuma ada dua tempat Surga dan neraka gak ada setengah surga setengah neraka ,bensin kalau murni bisa di minum motor dan air putih kalau murni bisa di minum orang tapi kalau bensin campur air putih motor gak mau minium orang juga gak mau minum

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Tulisan ini hanya refleksi posisi serba salah bagi seorang muslim yang berada di negara yang menggunakan ekonomi liberal 😀

      Reply
  7. author

    Akbar2 years ago

    Solusi memberi pinjaman bisa menggunakan emas. Karna emas tidak mengalami penurunan. Sebaliknya mengalami kenaikan. Sebagai contoh. Bila naik haji sekarang sebesar 30 jt atau setara 60 gram. Bayangkan bila kita berangkat sekitar 10 tahun lagi. Mungkin 60 gram uda setara sekitar 60 jt. Jadi tidak ada riba disitu. Tapi bila di bank konvensional sekarang itu “mungkin” riba. Sebagai muslim bila kita nabung di konvensional. Tidak usah diambil bunga nya. Untuk merubah negara kita harus ada tindakan. Tapi perlahan agar tidak menimbulakn goncangan dan harus dimulai dari kita. Setuju? Dan untuk perbandingan. Rate suku bunga pinjaman di atas 1 milyar sekitar 13,5%, dan suku bunga pinjaman di bank qatar sekitar 3%. Kenapa begitu jauh bedanya? Mungkin bisa di share sendiri, dan mungkin kita bisa mempelajari teori konspirasi dan mitos asal mula uang kertas. Tapi untuk dipahami. Tidak semua di dalam transaksi haram. Jadi bukan bank nya yang haram. Tapi transaksi melibatkan bunga. Sementara untuk penitipan dan rtgs ataupun lainnya mungkin masih boleh. Intinya jangan gegabah menilai sesuatu. Krn masih banyak yang harus dikaji, seperti asuransi leasing gadai dll. Jadi jgn terlalu cepat menilai bank nya. Tapi nilai transaksi nya. Semoga bermanfaat. Indahnya berbagi

    Reply
  8. author

    irma farhanah2 years ago

    saya tertarik dengan artikel anda mengenai ekonomi, saya juga mempunya tulisan serupa mengenai ekononi, bisa dilihat
    disini, happy sharing 🙂

    Reply
  9. author

    haikal2 years ago

    yang haram itu jelas, begitu pula yang halal, tapi diantara kedua itu terdapat perkara yang meragukan (syubhat), dan syubhat itu sifatnya lebih dekat kepada yang haram. Saya juga nasabah bank riba, karena bank syariah menolak pendaftaran saya karena faktor identitas ktp yang belum punya. Tapi saya niat, insyaAllah tepat usia 17 nanti bukan masalah sweet seventeen, tapi langsung buat ktp, sim, dan daftar ulang di bank syariah.
    Aamiin.

    Reply
  10. author

    heri2 years ago

    Simpel saja OM
    Kalau meminjami anda uang 10 juta sekarang (th 2015) Tentu saya minta tambahan ……ribu jika mengembalikan 5 tahuan yang akan datang karena memang nilanya berbeda. Itu saja

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Di situlah setengah halalnya, sistem ekonomi kita yang membuat seperti itu

      Reply
  11. author

    pesong2 years ago

    hmmmmm… binggung ….
    banyak orang miskin di negeri yang butuh pinjaman buat hidup… cukupkah jumlah orang kaya yang seperti Rasullullah SAW dan para sahabat ; yang mau pinjamkan uangnya?…
    adakah moral rakyat indonesia yang berhutang seperti Rassullullah SAW…. sehingga orang yahudi percaya untuk meminjamkan uangnya tanpa jaminan……?
    hmm… kayaknya orang kaya yg peduli sama saudaranya yang lemah sedikit…rakyat yang moralnya seperti Rasullullah SAW sedikit…
    KIta hidup di negeri Indonesia yang punya aturan sendiri..
    punya pemimpin yg kita semua sdh pilih dan kita harus terima baik buruknya dari aturan pemerintah yang dibuat….
    butuh uang ke Bank saja om.. masalah dosa sdh jadi dosa kita semua .. kita yang pilih presidennya..
    makanya pilih pemimpin yang seperti rasullullah SAW..( buat jadi presiden.. jangan lihat karena sukunya jawa.. dll.. )
    ada aturan yang pernah saya dengar….. BABI ITU HARAM.. TAPI KALAU BABI SATU2NYA YANG BISA DIMAKAN BUAT NYAMBUNG HIDUP…MAKAN SAJA…
    … MENGALAH BUKAN UNTUK DIINJAK.. AYO KEMBALIKAN KEJAYAAN ISLAM …

    Reply
  12. author

    Dimas2 years ago

    Banyak yang belum mengetahui bahwa prinsip hutang adalah tolong menolong jadi tidak boleh ada unsur mencari keuntungan dari situ. Jika ingin mencari keuntungan maka berjual belilah. Sesungguhnya Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli.

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin2 years ago

      Itu dia, tapi kita terjebak pada sistem ekonomi global yang penggagasnya menyalahi aturan itu 🙂

      Reply
    • author

      Aryoko1 year ago

      Sdr Dimas

      Justru tolong menolong itu juga bisa melahirkan kelebihan. Sesbagai contoh kalau anda meminjami saya uang Rp. 100.000 saat ini untuk kondisi darurat maka saya akan mengembalikan uang anda 1 tahun mendatang Rp. 100.000 plus Rp 10.000. Naj Rp. 10.000 itu sebagai ungkapan terimakasih kepada anda yang telah menolong saya. Gimana menurut anda (masih riba’juga nggak..???

      Reply
  13. author

    indra1 year ago

    menurut saya Haram…tidak bisa diganggu gugat, makanya kalau masih ada yg berhutang dengan Bank untuk segera melunasinya, dan hidup anda akan lebih nyaman…Buktikan!!!

    Reply
    • author

      rini1 year ago

      Mas Indra

      Dilihat dulu perhitungan bank itu, jangan hanya dilihat nominal uangnya. Kalau nhanya berpatokan kelebihan (nilai nominal terkesan haram mutlak)
      kan sudah dijelaskan pada artikel bahwa ada penurunan nilai uang. Dengan adanya peminjaman jangan sampai ada yang teraniaya.

      Reply
  14. author

    aal1 year ago

    sya sepakat jika peminjaman uang berpatokan pada emas .artinya begini saya meminjamkan si A 1jt setara degn 2 gram emas misal .kmudian sy bilang ke si A dr awal. Jadi besok ngembaliinya ke saya berdasarkan hrga emas pergramny dan bukn berdasarkn nominal sekrg . Dan sy sepakat hutang adalh akad tabaru at kbaikn jd tdak ada profit oriented dstu. Dari sini saya minta pnjelasan tmn2.
    saya mau tanya jika bank at lmbg keuangn lain mmbbskn bunga dlm pinjmn .maka untuk operasional, gaji krywan, pjak ke negara.lntas bank pke uang siapa ? Atau ada solusi lain mohon pncerahan.salam kenal

    Reply
  15. author

    a.b.a1 year ago

    Amannya pinjamkan emas dan minta kembali emas, ga usah ditambahkan. Emas akan naik harga dengan sendirinya.
    Dalam hutang menghutang tdk boleh dikenakan bunga. Haram!
    Beda dengan pinjaman modal usaha, ada sistem bagi hasil kalo untung. Kalo rugi ya ikut rugi juga

    Reply
  16. author

    monty1 year ago

    kalo harga emasnya turun gimana? saya beli emas kira2 4-5 taun yang lalu kira2 42 euro per gram, sedangkan sekarang kalo saya jual harganya hanya 32 euro per gram. Nah ini gimana Dong?

    kalo misalnya saya yang pinjem uang ke bank, kan saya harus bayar bunga. kan saya yang terzalimi, nah ini yang dosa saya ato bank? ato sama2 dosa?

    kalo misalnya (ini misal doang):
    saya pinjem uang 100 juta ke bank dan bunganya total 15 juta. kemudian suatu hari saya punya uang banyak dan saya depositokan di bank dan mendapat bunga total setelah sekian taun misal 20 juta.
    berarti Klo diitung saya dulu pernah bayar bunga 15 juta dan saya sekarang dapat bunga 20 juta.
    kemudian dari 20 juta itu saya ambil 15 juta untuk saya karena dulu pernah bayar bunga bank sebesar itu, dan sisanya saya zakatkan.
    kalo begini apakah 15 juta yang saya ambil masih haram??

    terimakasih

    Reply
  17. author

    bee1 year ago

    saya tidak tahu bagaimana tentang proses atau asal muasal bunga bank di era sekarang ini. karena saya juga bukan di bidang ekonomi. selama saya hidup dan pertama kali mendengar tentang bunga bank ketika saya pertama kali belajar tentang bank di mata pelajaran IPS di sekolah waktu saya remaja, bunga bank itu adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam atau utang piutang. dalam islam secara syar’i, pinjam meminjam atau utang piutang seharusnya dimaksudkan untuk tolong menolong dengan penggantian di waktu yang disepakati bersama, akan tetapi transaksinya bersifat non-komersial dg kata lain tanpa ada keuntungan dari pinjam meminjam atau utang piutang tsb. para nasabah menyimpan uang di bank, oleh bank uang para nasabah tsb digunakan, ini bisa disebut uang para nasabah dipinjam atau bank tsb berutang sementara kepada para nasabah yang menyimpan uang mereka di bank tsb, lalu keuntungan dari penggunaan uang para nasabah tsb dibagi ke para nasabah dalam bentuk “bunga”. keuntungan dari transaksi yaitu “bunga” inilah merupakan hal yang komersial dan bisa disebut riba, sedangkan dalam islam transaksi pinjam meminjam seharusnya bersifat non-komersial. begitu juga sebaliknya, kita meminjam uang kepada bank, kita harus memberikan keuntungan kepada bank tsb yaitu “bunga” dari meminjam uang ke bank tsb, dan ini juga bisa disebut riba.

    selama ini saya menyimpan uang di bank syariah, walau kata orang bank syariah pun tidak terjamin 100% bebas riba, setidaknya saya sudah berniat utk melindungi harta saya dan menghindari riba. jika semua bank tidak ada yang bebas riba di indonesia, kmn lg seorang indonesia melindungi hartanya. sebagai muslim, kita wajib menghindari riba akan tetapi juga wajib melindungi harta kita

    Reply
  18. author

    cah ndeso1 year ago

    Klw ini saya tdak tahu, tpi yg jls prnh sya dngr yg membedakan hanya akadnya.
    Antara jasa & bunga.

    Reply
  19. author

    muhammad subhan1 year ago

    Dalam islam tdk dikenal istilah setengah halal atau setengah haram, harus jelas kehalalannya n jelas pula keharamannya.

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin1 year ago

      Sebaiknya artikel dibaca ulang, kenapa ada bahasa seperti itu? makasih 🙂

      Reply
  20. author

    Hendry1 year ago

    Sungguh bodoh penulis artikel ini. Coba di lihat dari teori revolusi..!!
    Duluan mana telur apa ayam begitu juga sebaliknya duluan mana bunga atau inflasi.,??

    Jawablah dengan bijak justru karna artikel anda dapat menjerumuskan banyak umat muslim. Ingat dosa di atas Riba yaitu dosa no. 1 adalah dosa syirik hati.2 sbelum membuat artikel tanpa di dasari ilmu.

    Reply
  21. author

    Hendry1 year ago

    Biar tidak menimbulkan permusuhan.

    ALASAN PEMBENARAN PENGAMBILAN RIBA DAN JAWABANNYA
    1. Dalam keadaan darurat, bunga halal hukumnya.
    Jawaban:
    a.Harus jelas pengertian darurat
    Imam Syututi: darurat adalah suatu keadaan emergency dimana jika seseorang tidak melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, akan membawanya ke jurang kehancuran dan kematian (al-Asybah wa an Nadzoir, h.85)
    a.Dispensasi darurat harus sesuai dengan kaidah ushul fiqih “Darurat itu harus dibatasi sesuai dengan kadarnya” (Adh-Dhorurot tuqoddaru bi qodariha)
    b.Darurat ada masa berlakunya dan batasan ukuran dan kadarnya
    c.Riba (bunga) dalam kondisi sekarang sudah tidak darurat lagi, kecuali dalam beberapa hal seperti yang dijelaskan dalam fatwa MUI, seperti dalam dunia bisnisyang menuntut pembayaran transaksi melalui transfer melewati bank konvensionaldiperbolehkan,apabilabank syari’ah tidak bisa memfasilitasi hal tersebut.
    2. Hanya bunga yang berlipat ganda saja yang dilarang, sedangkan suku bunga yang “wajar” dan tidak menzalimi, diperkenankan. Berlandaskan surat Ali Imran ayat 30
    Jawaban:
    a.Kriteria berlipat ganda dalam ayat ini harus dipahami sebagai “hal” atau sifat dari riba pada masa itu, bukan merupakan syarat.
    b.Dr. Abdullah Draz, menepis hal itu. karena dho’f (berlipat ganda biasanya 2 x lipat), sedangkan bentuk adh’af (bentuk jamak/3 atau lebih) sehingga menjadi 3X2=6 kali lipat. Dengan demikian, kalau berlipat ganda itu dijadikan syarat maka sesuai dengan konsekwensi bahasa, minimum harus 6 kali atau bunga 600%. secara operasional dan nalar sehat, angka itu mustahil terjadi dalam proses perbankan maupun simpan pinjam.
    c.Ayat tersebut merupakan tahapan turun ayat riba; yaitu ar Rum 39, an-nisa 160-161, ali imron 130, al-baqarah 278-279.
    d.Dr. Sami Hasan Hamoud dalam bukunya“Fawathir al-A’maali Al-Mashrafiyah bimaa yattafiqu wasy-syariah al-Islamiyah”menjelaskan bahwa ayat itu berkenaan dengan pinjam meminjam barang bergerak yang dilakukan bangsa arab. Mereka biasa meminjamkan ternak berumur 2 tahun (bint makhod) dan meminta kembalian berumur 3 tahun (bint laun). Kalau meminjamkan bit laboun, meminta kembalian haqqoh (berumur 4 tahun).
    e.Surat ali Imron ayat 130 diturunkan pada than ke-3 H. Ayat ini harus dipahami bersama Surat al-Baqarah ayat 278-279 yang turun pada tahun ke-9 H. Para ulama menegaskan bahwa pada ayat terakhir tersebut merupakan “ayat sapu jagad” untuk segala bentuk ukuran, kadar, dan jenis riba.
    3. Bank, sebagai lembaga, tidak masuk dalam kategori mukallaf. dengan demikian, tidak terkena khitab ayat-ayat dan hadits riba. Sebab, ketika ayat riba turun dan disampaikan di jazirah arab, belum ada bank atau lembaga keuangan, yang ada hanyalah individu/perorangan. Dengan demikian bank tidak terkena hukum taklif karena pada zaman nabi hidup belum ada bank.
    Jawaban:
    a.Tidak benar bahwa pada zaman pra-Nabi tidak ada “badan hukum” sama sekali. sejarah Romawi, Persia, dan Yunani menunjukkan ribuan lembaga keuangan yang mendapat pengesahan dari pihak penguasa. Dengan kata lain perseroan mereka telah masuk ke lembaran negara.
    b.Dalam tradisi hukum, perseroan atau badan hukum sering disebut sebagai juridical personality atau syakhsiyyah Hukmiyyah. Secara hukum adalah sah dan dapat mewakili individu-individu secara keseluruhan.
    c.Dilihat dari segi mudharat dan manfaat, perusahaan dapat melakukan mudharat jauh lebih besar dari perorangan. Pengedar narkoba secara perorangan lebih kecil dampaknya dibanding dengan organisasi mafia pengedar narkoba. Karena lembaga/badan melakukan fi’il mukallaf, maka dia seperti mukallaf.
    4. Di antara alasan yang dikemukakan untuk pembenar pengambilan bunga adalah alasan abstinence, bahwa ketika kreditor manahan diri (abstinence), ia menangguhkan keinginannnya memanfaatkan uangnya sendiri semata-mata untuk memenuhi keinginan orang lain. Ia meminjamkan modal yang semestinya dapat mendatangkan keuntungan bagi dirinya. oleh karena itu wajar dia mendapatkan bayaran sewa atas uang yang dipinjamkannya.
    Jawaban:
    a.Kenyataannya, kreditor hanya akan meminjamkan uang yang tidak ia gunakan sendiri. Kreditor hanya akan meminjamkan uang berlebih dari yang ia perlukan. Dengan demikian kreditor sebenarnya tidak menahan diri atas apapun.
    b.Tidak ada standar yang dapat digunakan untuk mengukur unsur penundaan konsumsi dari teori bunga abstinence.
    c.Dalam tinjauan syariah “unsur penundaan konsumsi” atau penundaan investasi tidak dapat dijadikan illat dalam penetapan hukum.Para ulama merumuskan:
    من شروط العلة ان تكون وصفا ظاهرا منضبطا
    “salah satu syarat illat hukum (argumentasi hukum) adalah sifat yang jelas, zahir, tetap/konsisten”
    a.Feeling seseorang yang menunggu dan melakukan tindakan abstinence itu sangat berbeda-beda.
    5. Mereka beralasan bahwa ketika meminjamkan uang, sebenarnya mereka sedang menyewakan uang, jadi riba (bunga) diperbolehkan seperti halnya menyewakan barang dalam bentuk uang.
    Jawaban:
    a.sewa hanya dikenakan terhadap barang-barang seperti rumah, perabotan, alat transportasi dan lain sebagainya, yang bila digunakan akan habis, rusak, dankehilangan sebagain dari nilainya.
    b.Biaya sewa layak dibayarkan terhadap barang yang surut, rusak dan memerlukan biaya perawatan. adapun uang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut
    c.Dalam disiplin ilmu ekonomi barat, kita seringkali mendapatkan rumus yang mendapatkan posisi rent, wage, dan interest
    {(r)K; (w)L; (i)M}
    (r)K berarti rent untuk Kapital
    (w)L berarti wage untuk Labour
    (i)M berarti interest untuk Money
    6. Sebagian orang ada yang mengharamkan bunga pada pinjaman konsumtif, sedangkan pada pinjaman produktif maka mengambil bunga (riba) adalah halal dan diperbolehkan.
    Jawaban:
    a.Jika dalam menjalankan bisnisnya peminjam mengalami kerugian, dasar apa yang dapat membenarkan kreditor menarik keuntungan tetap secara bulanan atau tahunan dari peminjam?
    b.Jika si pemberi pinjaman (kreditor) disuruh melakukan bisnisnya sendiri, apakah pasti ia mendapat keuntungan?
    c.Kreditor bisa saja menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha yang baik agar ia menuai keuntungan. bila itu yang menjadi tujuan, cara yang wajar dan praktis baginya adalah dengan kerjasama usaha dan berbagi keuntungan (mudhorobah), bukan meminjamkan modal dengan menarik bunga tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sektor riil.
    d.Seandainya ia ingin membantu untuk tujuan kemanusiaan, hukum yang berlaku adalah qardhul hasan atau pinjaman kebaikan.
    من ذاالذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له و له أجر كريم
    “Siapakah yang mau meminjamkan kepada allah pijaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (al-hadid: 11)
    7. Sebagian orang beranggapan bahwa dengan meminjamkan uangnya berarti kreditor menunggu atau menahan diri dari menggunakan modal sendiri dalm memenuhi keinginannya. Hal itu serupa dengan memberikanwaktukepada si peminjam. Dengan waktu itulah orang yang berutang memilki kesempatan menggunkan modal pinjamannya untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian, waktu mempunyai harga yang meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Hal itu dijadikan alasan para kreditor berhak menikmati sebagian keuntungan peminjam. Besar kecilnya keuntungan dikaitkan dengan besar kecilnya waktu. Pandangan ini disebut dengan OPPORTUNITY COST (Biaya kesempatan).
    Jawaban:
    a.Bagaimana mungkin kreditor memastikan keuntungan peminjam dan bukan kerugian atas investasi modalnya?
    b.Atas dasar apa kreditor berkeyakinan bahwa peminjam akan selalu memperoleh keuntungan secara tetap, sehingga ia berhak ikut memperoleh keuntungan
    c.Tidak benar jika ada anggapan bahwa jika dana diusahakan secaar syariah berarti opportunity itu akan hilang sama sekali. seluruh akad bisnis syariah memebrikan peluang kepada kedua belah pihak untuk memetik keuntungan yang adil dan proporsional.
    8. Teori kemutlakan produktivitas modal. Para ahli ekonomi berpendapat bahwa modal adalah produktif dengan sendirinya. Modal dianggap mempunyai daya untuk menghasilkan barang lebih banyak daripada yang dihasilkan tanpa modal. dengan demikian, pemberi pinjaman layak untuk mendapatkan imbalan bunga.
    Jawaban:
    a.Modal bukan sendirinya menjadi produktif. Modal bisa menjadi produktif apabila digunakan seseorang untuk bisnis yang mendatangkan keuntungan. Bila untuk konsumsi, modal sama sekali tidak produktif.
    b.Bila modal digunakan untuk produksi pun, tidak selalu menghasilkan nilai tambah. Dalam keadaan ekonomi yang merosot, penanam modal sering menipiskan keuntungan, bahkan bisa menjadi kerugian.
    c.Bila modal dianggap memiliki produktifitas, sebenarnya produktivitas tersebut bergantung kepada faktor lain, seperti riset, marketing, keuangan, kemampuan, visi dan pengalaman. Belum lagi kondisi ekonomi, sosial dan politik.
    d.Meskipun modal memiliki potensi produktivitas, akan tetapi tidak ada cara untuk mengetahui secara tepat dan pasti nilai potensi keuntungan yang adil, baik pada saat stabil maupun krisis.
    9. Teori Nilai Uang pada masa mendatang lebih rendah dibanding masa sekarang. Beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa manusia pada dasarnya lebih mengutamakan kehendaknya sekarang dibanding kehendaknya di masa datang. sehingga mereka membolehkan bunga karenamenurunnya nilai barang di waktu mendatang dibanding dengan nilai barang di waktu kini. Boehm Bawerk, pendukung utama pendapat ini , menyebut tiga alasan mengapa nilai barang di waktu yang mendatang akan berkurang; yaitu sebagai berikut:
    1.keuntungan di masa yang akan datang diragukan. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakpastian peristiwa serta kehidupan manusia yang akan datang, sedangkan keuntungan masa kini sangat jelas dan pasti.
    2.Kepuasan terhadap kehendak atau keinginan masa kini lebih bernilai bagi manusia daripada kepuasan mereka pada waktu yang akan datang. Pada masa yang akan datang, mungkin saja seseorang tidak mempunyai kehendak semacam sekarang.
    3.Kenyatataannya, barang-barang pada waktu kini lebih penting dan berguna. dengan demikian, barang-barang tersebut mempunyai nilai lebih tinggi dibanding dengan barang-barang pada waktu yang akan datang.
    Jawaban:
    a.Tidak selalu benar anggapan bahwa kehendak masa kini lebih penting dan berharga daripada keinginan pada masa depan. sebab banyak orang tidak membelanjakan seluruh pendapatannya sekarang, tetapi menyimpannya untuk keperluan pada masa yang akan datang
    b.Teori ini menyebut bahwa Rp 100 juta hari ini adalah sama dengan Rp. 125 juta tahun mendatang. selisih sebesar Rp 25 juta merupakan bunga. Dalam contoh ini ada yang salah yaitu kemutlakan, kepastian.Tidak boleh ada yang pasti.
    c.Islam sangat menghargai waktu, tetapi penghargaannya tidak diwujudkan dalam rupiah tertentu. Karena hasil nyata dari optimalisasi waktu itu variable, bergantung pada jenis usaha, sektor industri, lama usaha, keadaan pasar, stabilitas politik, dll.
    10. Teori Inflasi. Inflasi secara umum sering dipahami sebagai meningkatnya harga barang secara keseluruhan. Dengan demikian, terjadi penurunan daya beli uang atau decrasing purchasing power of money. Oleh karena itu, menurut penganut paham ini, pengambilan bunga uang sangatlah logis sebagai kompensasi penurunan daya beli uang selama dipinjamkan.
    Jawaban;
    1.Situasi ekonomi tidak selama terjadi inflasi. Bisa jadi kondisi stabil
    2.Islam telah menyediakan skim muamalah yang sesuai dengan syariat dalam menghadapi inflasi secara komprehensif. Bukan hanya keuntungan sebagai antisipasi dari menurunnya nilai uang akibat inflasi. tetapi juga mencegah terjadinya inflasi itu sendiri karena pembiayaan dalam bank syariah hanya untuk sektor riil yang akan menggiatkan roda ekonomi.
    3.Pembungaan itu sendiri akan menimbulkan dan melahirkan inflasi itu sendiri. Jadi bunga saja sudah memberi andil terciptanya inflasi, selain faktor lain.

    Reply
  22. author

    zanurano1 year ago

    Apakah maksud penulis untuk melazimkan riba?

    Salah satu tanda akhir zaman, riba dan zina menjadi hal biasa..
    padahal hukum riba sangat berat hukumannya. dosanya seperti berzina dng ibu kandung sendiri

    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276)

    Reply
  23. author

    rozak4 months ago

    Mf, kebetulan saya punya pinjaman ke bank…, ,utk bangun musholla (kekurangan dana), setelah saya baca artikel di atas saya jadi punya pertanyaan!, Apakah pinjeman saya betul2 riba?, apakah musholla utk tmpt orang2 sholat ini harus dihentikan pembangunannya? ( nyari bantuan sana sini g dpt), apakah pinjaman saya harus segera di lunasi?, lalu darimana saya dpt uang utk melunasinya?, apakah yang pnya artikel mau pinjamkan uang utk pelunasan ke bank?. demikian mohon jawaban.

    Reply
  24. author

    fikri2 months ago

    Riba adl tambahan
    Bungan ada tambahan
    riba dan bunga adalah teman
    JD JELAS RIBA DAN BUNGA ADALAH HARAM…SOALNYA BUNGAN BERTEMAN DENGAN.RIBA….HEHEHE

    Reply

Leave a reply "Bunga Bank Dalam Islam; Setengah Halal Setengah Haram"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877