Pasang Iklan

Seputar I’tikaf Seorang Wanita

Pada sepuluh terakhir Ramadhan, umat muslim banyak yang mengisi rutinitas ibadahnya dengan melaksanakan hal yang dianjurkan, seperti shalat malam dan i’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk ketaatan kepada Allah, dan i’tikaf khusus dilakukan di dalam masjid.

Saya mulai celoteh ini satu-satu. I’tikaf disyariatkan hanya dilaksanakan di masjid. Meski terdapat perbedaan, karena ditemukan hadis yang menyebutkan bahwa i’tikaf itu di tiga masjid, Masjidil al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha. Namun, banyak ulama mempertanyakan keabsahan hadis tersebut dan berpatokan pada ayat Allah swt, “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. al-Baqarah 2: 187). Dalam ayat ini tidak menyebut nama masjid, artinya di masjid mana saja.

Bagaimana dengan masjid yang berada di rumah?. Ulama sepakat, hal itu tidak termasuk masjid, karena melihat konteks beberapa hadis seputar i’tikaf, menunjukan isyarat berjalan ke masjid, lagi pula masjid yang dimaksud di sini adalah masjid dalam pengertian istilah, yaitu tempat yang disepakati sebagai tempat melaksanakan shalat berjamaah, pada suatu daerah atau tempat, dan bukan masjid yang secara bahasa berarti tempat sujud.

I’tikaf adalah ibadah sunnah yang diperuntukan bagi laki-laki dan wanita. Dengan ketentuan sunah ini, maka akan menjadi masalah baru khususnya i’tikaf bagi seorang wanita, karena wanita memiliki aturan khusus dalam beberapa hal ibadahnya. Ada dua pendapat mengenai i’tikaf seorang wanita. Pertama, hukumnya makruh, dan kedua hukumnya sunnah seperti halnya i’tikaf bagi laki-laki dengan beberapa persyaratan.

I’tikaf seorang wanita dianggap makruh berdasarkan hadis

Seandainya Rasulullah saw mengetahui apa kondisi wanita saat ini tentu beliau akan melarang mereka (untuk keluar menuju masjid) sebagaimana Allah telah melarang wanita Bani Israil. (HR. Bukhari: 831 dan Muslim: 445)

Sedangkan i’tikaf seorang wanita tetap menjadi sunnah dengan persyaratan, berdasarkan dalil;

Sesungguhnya Nabi saw telah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah swt mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Syarat i’tikaf seorang wanita sehingga hukumnya sunnah, yaitu jika wanita tersebut sudah bersuami, mendapat ijin dari suaminya, dan i’tikaf yang dilakukan di masjid tidak menimbulkna fitnah. Bagi wanita yang belum bersuami, cukup dengan syarat tidak menimbulkan fitnah saja.

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang disepakati oleh jumhur ualama seperti madzhab Syafi’iy, Maliki, Hanbali, dan Hanafi adalah pendapat kedua, yaitu i’tikaf seorang wanita sama sepeti laki-laki, yaitu jika memenuhi syarat ijin dan tidak menimbulkan fitnah.

i'tikaf seorang wanita

Bagaiman jika i’tikaf seorang wanita di masjid rumah saja?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa secara umum i’tikaf hanya dilaksanakan di masjid, namun untuk i’tikaf seorang wanita yang ingin melaksanakan di masjid rumah, ulama berbeda pendapat. Ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah berpandangan bahwa seorang perempuan tidak diizinkan ber-i’tikaf di kamar atau mushalanya sendiri di dalam rumah, karena tidak termasuk kategori masjid.

Berbeda dengan ulama Hanafiyah, umumnya membolehkan i’tikaf seorang wanita di ruangan khusus yang biasa dijadikan masjid atau mushallah di rumahnya. Mereka berpendapat, karena i’tikaf seorang wanita memiliki syarat khusus, maka tempatnya juga demikian.

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

No Responses

Leave a Reply


+ 5 = 8