Lihin Belawa

Hanya Celoteh Guru | Belawa to The World

Pasang Iklan

Melihat Kalimat Minal Aidin Wal Faizin Saat Lebaran

Melihat Kalimat Minal Aidin Wal Faizin Saat Lebaran

Hari raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Sudah lumrah, untuk menjadi fitri di hari fitri ada beberapa hal yang sering dilakukan oleh umat muslim, diantaranya; bersalam-salaman, saling berziarah (mengunjungi), atau sekedar mengucapkan sesuatu sebagai pengganti menuju manusia fitrah. Dan kalimat ucapan yang paling sering kita dengar adalah “minal aidin wal faizin.”

Dalam setiap momen, kalimat minal aidin wal faizin ini acap kali dikemas berbarengan dengan untaian kata maaf, sehingga menimbulkan persepsi bahwa minal aidin wal faizin berarti mohon maaf lahir dan batin. Secara penggalan kalimat, memang memiliki kemiripan, apalagi kata “wal” berarti “dan.” Dengan mudah menggiring pendengar mengartikan minal aidin artinya mohon maaf secara lahir, wal faizin artinya dan batin. Padahal itu keliru.

Banyak tulisan telah mengungkapkan hal ini, bahwa kalimat minal aidin wal faizin tidak berarti mohon maaf lahir dan batin, kata yang berarti maaf sekalipun tidak ada dalam kalimat tersebut. Bahkan kalimat minal aidin wal faizin, sebagai kalimat berbahasa Arab justru tidak dikenal dalam frasa bahasa Arab, karena secara bahasa kalimat ini bukanlah kalimat sempurna. Minal aidin wal faizin berarti (seperti) orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Untuk menjadikannya sebagai kalimat sempurna, ada dua kemungkinan, menambahkan kalimat sebelumnya, atau sesudahnya. Sehingga banyak pakar seperti Qurais Shihab menambahkan “ja’alana Allahu” di awal kalimat yang berarti semoaga Allah menjadikan kita, atau “‘asa Allahu an yaj’alana” sehingga kalimat utuhnya “Ja’alana Allahu minal aidin wal faizin,” yang berarti semoga Allah menjadikan kita (seperti) orang-orang yang kembali dan menang.

Lebaran

Lantas?

Pemakaian kata minal aidin wal faizin sebagai suatu hal yang keliru, tentu memancing kita untuk bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu yang keliru diwajibkan untuk diubah, apabila sesuatu itu cenderung bisa membawa kepada kemudaratan (hal yang tidak baik). Penggunaan kalimat minal aidin wal faizin bisa berdampak ke hal yang tidak baik, tapi potensinya sangat kecil.

Inti dari pengucapan ini adalah permintaan maaf kepada lawan bicara. Namun, tidak berarti membiarkan langgengnya pengucapan minal aidin wal faizin dari masa ke masa. Seperti halnya seorang anak kecil yang berkata “mimmi” kita pahami sebagai minta minum, tapi kita tidak mungkin membiarkan anak kecil itu berkata “mimmi” untuk meminta minum sampai dia dewasa. Perlu ada perubahan seiring dengan niat seseorang untuk mengetahui kalimat yang pas diucapkan sebagai pengganti minal aidin wal faizin.

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa kalimat yang diucapkan sahabat Nabi saw ketika merayakan hari kemenangan adalah “taqabbalallahu minna wa minkum” yang artinya semoga Allah menerima amalan dari kami dan amalan dari kamu. Hal ini dikutip dari Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hajar al-Atsqalani dari kitab masing-masing. Ungkapan ini secara arti bahasa jauh lebih dalam dari arti minal aidin wal faizin. Dalam minal aidin wal faizin hanya mengisyaratkan harapan, sedangkan dalam kalimat taqabbalallahu minna wa minkum, mengisyaratkan harapan dan doa.

Merubah kebiasaan pengucapan minal aidin wal faizin setiap kali perayaan lebaran tentu tak seperti membalikan telapak tangan, apalagi media-media visual terkenal sepertinya menjadikan pengucapan ini sebagai hal permanen. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Tags: , , ,

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

One Response

  1. saifAugust 30, 2013 at 06:52Reply

    Artikel Menarik…

Leave a Reply