Ketentuan Umum Qadha dan Ibadah yang Bisa di-Qadha

2437 views

qadhaDalam fikih Islam, istilah qadha dipakai pada dua tempat yaitu dalam arti lembaga peradilan dan qadha dalam arti pelaksanan kewajiban, khususnya ibadah. Qadha dalam pengertian yang kedua merupakan pengimbangan dan pergantian dari ibadah.

Para ulama berbeda pendapat tentang melakukan kewajiban qadha. Pendapat yang pertama dipelopori oleh ulama mazhab Hanafi, Hambali, sebagian ulama mazhab Syafi’i, Malik dan umumnya ulama hadis memandang wajib melaksanakan qadha atas dalil (alasan) perintah ada.

Pendapat yang kedua dikemukakan oleh sebagian ulama Syafi’i, ulama mazhab Hanafi asal Irak dan kaum Muktazilah mengatakan bahwa qadha itu dilaksanakan karena perintah yang baru, bukan karena perintah ada sebelumnya. Menurut mereka dengan berlakunya waktu berarti habis pula kewajiban yang ada dalam waktu tersebut, dan kewajiban yang telah habis itu harus dibayar dengan qadha atas dalil yang lain, bukan dalil yang memerintahkan ada.

Dari segi boleh atau tidaknya mewakilkan suatu pelaksanaan ibadah kepada orang lain, ulama membaginya kepada tiga bentuk; 1) Ibadah yang terkait dengan harta saja, seperti zakat, kafarat dan kurban. Untuk mendistribusikanya boleh diwakilkan kepada orang lain, 2) Ibadah jasmani saja, seperti shalat dan puasa, ibadah ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. 3) Ibadah yang terkait dengan badan dan harta, seperti ibadah haji, boleh diwakilkan pada orang lain dengan syarat-syarat tertentu.

Adapun macam-macam ibadah khassah yang bisa di-qadha adalah:

Pertama: Shalat. Qadha shalat adalah melaksanakan salah satu shalat di luar waktunya, seperti mengerjakan sholat zuhur di waktu asar. Ulama menyatakan bahwa kewajiban shalat tidak boleh ditinggalkan sama sekali tanpa uzur. Karenanya shalat yang tertinggal harus dilaksanakan di waktu lain (qadha ).

Kedua: Ibadah Haji. Haji badal adalah menggantikan haji orang lain. Terdapat kesepakatan ulama tentang kebolehan melaksanakan ibadah haji atas nama orang lain yang sudah meninggal dunia. Jumhur yang terdiri atas ulama Hanafi, Syafi’i, Hambali menegaskan bahwa di bolehkan orang yang masih hidup meminta orang lain untuk melaksanakan ibadah haji atas dirinya asal syarat-syaratnya terpenuhi.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa ibadah haji boleh diwakilkan dengan syarat dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkannya untuk pergi ke tanah suci, dan sakitnya ini berlanjut sampai membawa kematiannya, sementara ia memiliki harta yang cukup, sedangkan kalau sakit tetapi dimungkinkan mampu tidak boleh diwakilkan.

Adapun madzhab Syafi’i mengatakan bahwa jika seseorang dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan untuk pergi haji karena sudah sangat tua, sementara ia punya uang cukup, maka ia boleh menyuruh orang untuk melakukan haji untuknnya. Apakah suruhan itu dengan upah atau tidak. Sedangkan jika seorang meninggal dunia sedaang ia telah wajib haji, ahli warisnya wajib menghajikannya dan biayanya diambilkan dari harta peninggalan orang yang wafat itu. Jika orang yang telah meninggal dunia itu pernah mewasiatkan, demikian juga pendapat jumhur ulama.

Ketiga: Puasa Ramadhan. Puasa Ramadlan diwajibkan bagi orang-orang yang mampu untuk melaksanakannya. Apabila seseorang sakit di permulaan puasa atau di pertengahannya atau di salah satu hari dari bulan Ramadlan, bolehlah ia berbuka selama ia sakit dan hendaklah ia mengganti (qadha) puasa yang ditinggalkan selama sakitnya. Sedangkan bagi orang musafir, mendapatkan keringanan meninggalkan puasa. (baca lebih lanjut di sini)

Tags: #Haji #Puasa

Leave a reply "Ketentuan Umum Qadha dan Ibadah yang Bisa di-Qadha"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877